10 Tahun Melawan Trauma Pelecehan

10 Tahun Melawan Trauma Pelecehan

Kisah Utama

Hidup dengan rasa trauma sebagai korban pelecehan seksual tidaklah mudah. Kejadian menyakitkan itu terjadi pertama kali tahun 2002, usiaku masih 7 tahun. Pelakunya adalah penjaga sekolah. Saat itu bukan hanya aku korbannya, beberapa temanku ikut dirusaknya. Penjaga sekolah itu meraba kemaluan dan payudara kami. 

Apa yang lantas kulakukan? Aku mengadu pada orangtuaku. Aku kemudian diajari pendidikan seks. Walau tidak segamblang dan serinci sekarang namun pelajaran itu sangat membantuku untuk memahami hak atas tubuhku.

Kejadian berikutnya saat usiaku 15 tahun. Pelakunya suami tanteku. Saat itu tanteku dan suaminya sedang berkunjung, tidak bisa pulang karena hujan deras dan memutuskan untuk menginap. Tengah malam suami tanteku menyelinap masuk kamarku dan berusaha memperkosa. Aku terbangun saat menyadari ada seseorang menggerayangi tubuhku. Seseorang sedang terbaring berpura-pura tidur di ranjangku. Kulihat celanaku telah terbuka ritsletingnya. 

Walau aksi pemerkosaannya tidak terjadi mentalku tetap saja terguncang. Aku sempat kehilangan rasa percaya diri dan merasa tak berharga. Berangkat dari kejadian itu aku menjadi trauma pada laki-laki, bahkan ayahku sendiri. Aku gemetar dan berkeringat ketika berada di dekat laki-laki. Hampir 10 tahun aku hidup berdampingan dengan trauma ini dan mengabaikan bantuan profesional, sampai suatu waktu membuatku memutuskan untuk tidak memiliki pasangan. 

Bagiku ini tentu tidak sehat, aku terus menyalahkan diri karena tidak mengunci kamar sebelum tidur malam itu, juga menyalahkan pilihan pakaian yang kugunakan malam itu. Bertahun-tahun seperti itu membuatku depresi dan tidak bisa memulai hubungan dengan laki-laki. Minta pertolongan psikolog atau psikiater tak terlintas sama sekali. Barulah setelah membaca buku berjudul Filosofi Teras karangan Henry Manampiring aku menemukan sesuatu yang hilang. 

Ada sebuah kalimat menarik dari buku itu, “kita tak dapat mengontrol orang lain atau keadaan yang terjadi di sekitar kita, tapi kita dapat mengontrol reaksi kita terhadap kejadian yang berlangsung”. Seketika aku menyadari apa yang terjadi selama itu. Aku mengabaikan perasaanku, menyalahkan keadaan dan terutama diriku sendiri. Aku pun membaca buku-buku yang berkaitan dengan self healing. 

Pelan-pelan aku belajar bagaimana menerima situasi. Menerima bahwa itu telah terjadi dan memutuskan aku harus berdamai dengan kejadian itu. Membuka pembicaraan antara aku yang sekarang dan diriku pada masa itu. Memberikan kesempatan bagi diriku pada masa itu untuk menjelaskan dan mengeluarkan apa yang dirasakan dan ingin disampaikannya. 

Setelah melakukan dialog itu aku merasa seperti ada beban yang terangkat seketika dari dadaku. Aku merasa ringan dan jauh lebih nyaman daripada sebelumnya. Traumaku terhadap laki-laki berangsur berkurang dan saat ini bisa lebih nyaman berinteraksi dengan lawan jenis. (*)

Baca Juga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Fill out this field
Fill out this field
Please enter a valid email address.
You need to agree with the terms to proceed

Menu