Aku Berusaha Menghindari Resiko dari Hubungan Seksual dan Melindungi Kesehatan Reproduksiku

Memahami Risiko Hubungan Seksual di Luar Pernikahan

Kewanitaan

Urbanwomen – Saya Wati, umur 33 tahun, belum menikah, bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil di Jakarta. Semasa kuliah saya memang ingin melakukan hubungan seksual karena penasaran. Tapi saya mempunyai target untuk melakukannya di umur 21. Ketika itu saya pikir usia 21 adalah batas seseorang bisa memutuskan untuk melakukan apapun yang dia mau.

Di umur 21 saya punya pacar, pacar pertama. Saya berani melakukan hubungan seksual di masa 9 bulan hubungan kami. Saya harus benar-benar meyakinkan diri bahwa saya siap. Setelah itu kami aktif melakukannya. Saya sangat berhati-hati karena takut hamil. Dua cara yang kami lakukan agar saya tidak hamil yaitu mengeluarkan sperma di luar dan memakai kondom.

Masuk tahun ketiga kami pacaran jarak jauh karena saya bekerja di Jakarta dan pacar saya tinggal di Bandung. Tahun keempat, hubungan kami berakhir. Setengah tahun kemudian saya mempunyai pacar lagi. Empat bulan berpacaran, hubungan kami semakin serius dan saya merasa yakin saya mencintainya sehingga tak ragu melakukan hubungan seksual dengannya. 

Karena saya tidak ingin hamil, kami melakukan hubungan seksual dengan 3 cara: mengeluarkan sperma di luar, memakai kondom, menghitung kalender menstruasi saya. Menurut artikel yang saya baca, untuk perempuan yang jadwal menstruasinya rutin, 3 hari sebelum memasuki masa menstruasi sel telur tidak sehat dan tidak akan berhasil apabila dibuahi. Saya sebenarnya ingin pasang IUD agar tidak terlalu repot. Tapi di tahun kelima hubungan kami berakhir sebelum saya sempat pasang IUD.

Saya bukan tipe orang yang religius dan menurut saya hubungan seksual sebelum menikah boleh-boleh saja dilakukan. Hubungan seksual satu malam juga boleh-boleh saja dilakukan asal dilakukan dengan aman dan suka sama suka. Meskipun begitu saya termasuk tipe yang konservatif, hanya melakukannya dengan pacar. Saya melakukan dengan satu orang, setelah hubungan berakhir, saya ganti melakukannya dengan pacar baru. Saya tidak nyaman melakukannya dengan orang yang baru saya kenal. Selain itu, saya juga membatasi diri untuk tidak melakukan hubungan seksual dengan suami atau pacar orang lain.

Hubungan seksual yang bertanggung jawab (tanpa menikah) menurut saya adalah hubungan seksual yang memang kita kehendaki, tidak dipaksa, dan kita tahu risikonya, antara lain: penyakit kelamin dan kehamilan yang tidak diinginkan. Oleh karena itu saya menekankan kepada diri sendiri bahwa saya dan orang itu harus berada dalam status pacaran yang berkomitmen dan saya mencintainya. Kami harus saling tahu kehidupan sehari-hari masing-masing sehingga risiko penyakit kelamin bisa dihindari. 

Baca Juga: Siapakah Sosok Terbaik untuk Memberikan Pendidikan Seks Sejak Dini?

Pesan saya untuk para perempuan yang aktif melakukan hubungan seksual tanpa menikah, yakinkan betul diri kalian bahwa kalian menghendakinya. Bukan karena dipaksa. Kalian harus tahu apa yang kalian inginkan dalam hubungan seksual itu. Pelajari dan cari-cari informasi yang membuat kalian selamat dari risiko-risiko dan menemukan kenyamanan saat melakukannya. (*)

Baca Juga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Fill out this field
Fill out this field
Please enter a valid email address.
You need to agree with the terms to proceed

Menu