Terjebak hutang

Aku Dan Suami Sempat Terjebak Hutang Demi Membangun Rumah Impian

Kisah Utama

Urbanwomen – Sudah sekitar 4-5 tahun ini aku dan suamiku menjalankan usaha online shop. Dari tahun ke tahun pendapatanku meningkat, profit bersih bisa mencapai di atas 10 juta rupiah, hasil dropship tanpa stok barang. Setiap barang yang penjualannya menurun, kami mengganti supplier. Ini adalah salah salah satu keuntungan menjadi dropship

Tapi aku dan suamiku capek terus-menerus mengontrak rumah. Karena pendapatan dari berjualan online stabil, suamiku memutuskan keluar dari pekerjaannya. Dari tabungan, kami membeli tanah dan mulai menabung lagi untuk membangun rumah. Sekitar 6 bulan pertama ketika membangun rumah kami membayar secara tempo ke toko material dan sedikit demi sedikit mulai membangun pondasi.

Awalnya semua berjalan lancar. Namun, saking tidak sabarnya punya rumah sendiri, kami mengambil pinjaman bank sebesar 200 juta, dengan cicilan 4,7 juta perbulan selama 4 tahun. Kami berani mengambil pinjaman karena usaha berjalan lancar. Hanya saja kami kurang memperhitungkan rencana anggaran biaya (RAB) untuk membangun rumah 2 tingkat dan luasnya. Aku tergiur contoh rumah estetik di Internet. Sambil membangun rumah, kami membayar pinjaman dan tukang. Berat sekali rasanya tanggungan kami. Apalagi aku sedang hamil anak ketiga. Hormon sedang tidak stabil, ditambah beban pikiran soal tagihan, harus mengurus usaha, dan struggle dengan gejala kehamilan seperti morning sickness, dan lain-lainnya.

Pengeluaran kami semakin berat, usaha online kami pun jadi tidak stabil akibat pandemi. Mulai dari sinilah kami mencoba paylater untuk membayar orderan customer. Meskipun memang untuk usaha, tapi tetap saja bunganya cukup besar. Apalagi kami kurang memikirkannya secara matang. Dari semula tagihan hanya ratusan ribu, dalam setahun ini aku dan suami membayar paylater 5 hingga 6 juta perbulan. Kami terjebak, karena sebagian besar penghasilan justru digunakan untuk membayar tagihan tersebut. Tidak ada jalan lain lagi, karena membayar pay later yang cukup besar, akhirnya terpaksa pinjam uang ke fintech online. Berawal dari paylater membuat kami meminjam ke beberapa pinjaman online. Ada sekitar 5 pinjaman online yang kami coba. 

Tagihan semakin membesar, kami merasa sangat terbebani. Pinjaman yang awalnya tidak besar tapi  bunganya tidak diperhitungkan membuat semakin besar jumlah yang perlu dibayar. Tak tahu lagi harus bagaimana, karena saat itu aku butuh biaya melahirkan dan pindah rumah beserta seluruh kelengkapannya termasuk sewa mobil, beli perabotan, dan memperbaiki handphone untuk berjualan yang rusak.

Karena tagihan paylater terus berjalan, ketika Lebaran pun kami tidak bisa beli baju baru. Kami juga kehilangan reseller dari Singapura karena kiriman barang selalu telat. Kalau dipikir sekarang, kami ini nekat gali lubang tutup lubang.

Baca Juga: Dampak Financial Abuse: Harus Memilih Antara Menjadi Gelandangan atau Terus Dipukuli

Sekarang kami masih berupaya menyelesaikan semua pinjaman dan berusaha agar omset usaha terus meningkat. Kami belajar bahwa utang adalah adalah jebakan. Jadi berpikirlah banyak-banyak ketika ingin memakai paylater, apalagi kalau hanya digunakan untuk membeli barang-barang yang tidak begitu penting, sedangkan diri sendiri belum memiliki penghasilan. Awalnya saja tidak terasa, tapi semakin lama bisa ketagihan karena proses pembayarannya terbilang mudah. Jangan sampai hanya karena keinginan sesaat membuat keuanganmu menjadi berantakan hingga tak memiliki tabungan untuk masa depan.

Sumber: Rita, nama disamarkan, 29 tahun, di Jakarta

Baca Juga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Fill out this field
Fill out this field
Please enter a valid email address.
You need to agree with the terms to proceed

Menu