Aku-Hampir-Menikah-dengan-Pasangan-yang-Tidak-Punya-Pendirian

Aku Hampir Menikah dengan Pasangan yang Tidak Punya Pendirian

Kisah Utama

Urbanwomen – Namaku Gia, ibu dari 2 anak, 31 tahun, tinggal di daerah Jakarta, baru saja resign dan belum bekerja kembali. Aku sempat memaksakan diri untuk bertahan dalam hubungan yang toxic. Menemani pasangan dari nol tidak bisa dijadikan jaminan bahwa dia akan memperlakukan kita dengan baik. Sejak awal seharusnya aku sudah paham, bahwa dia bukanlah laki-laki yang setia. Saat kami masih berpacaran, dia ketahuan berhubungan dengan wanita lain melalui aplikasi dating hingga 2 kali. Aku selalu memaafkan, tiap dia melakukan kesalahan. 

Karena sudah menjalani hubungan selama 3 tahun, kami berencana untuk menikah. Ibuku tidak merestui hubungan ini sejak awal karena kami berbeda keyakinan. Tapi tidak kuhiraukan, karena aku yakin dengannya. Saat itu, aku masih bekerja sebagai manager di salah satu perusahaan Indonesia. Sementara dia sempat diliburkan sementara oleh kantornya selama 2 bulan. Dia bekerja sebagai photographer, pendapatannya sempat tidak menentu di masa pandemi ini. Tak jarang aku membantu perekonomiannya. Aku sisihkan sebagian penghasilanku untuknya. Bahkan, hampir semua persiapan pernikahan aku yang mengurusnya. Dia hanya mengeluarkan biaya untuk membeli cincin saja.

Semua telah aku korbankan untuk dirinya, termasuk rela masuk agamanya. Di awal, keluarganya sangat mendukung dan menyuruh kami untuk segera menikah. Tapi semakin lama, keluarganya berubah. Aku sering disindir oleh mereka. Hanya karena keluarganya takut kalau kami menikah, penghasilan anaknya akan menjadi milikku sepenuhnya. Suasananya semakin memburuk. Setelah aku mengorbankan waktu, uang, bahkan agama justru keluarganya semakin tidak suka padaku. Semakin lama aku paham, bahwa dia bukan laki-laki yang memiliki prinsip. Dia terhasut oleh omongan keluarganya, sempat menghilang beberapa minggu tanpa memberiku kabar. Mulai dari situ, aku berpikir bahwa hubungan ini sudah tak bisa jika dilanjutkan. 

Padahal, akulah yang menemani dia dari nol. Saat dia terkena stroke, aku yang menemaninya di rumah sakit. Aku lebih mementingkan keluarganya daripada keluarga sendiri. Akhirnya aku putuskan untuk meninggalkannya, membatalkan pernikahan kami. Aku rasa ini adalah keputusan yang tepat, sebelum aku melangkah lebih jauh. Sebagian besar waktu yang biasanya aku gunakan untuknya dan keluarganya, kini aku gunakan untuk keluargaku sendiri, anak-anak dan orangtuaku. Aku sadar, jika selama ini kurang memperhatikan mereka.

Kini, aku tak mau terburu-buru menerima orang lain masuk ke dalam hidupku. Memberi kesempatan pada diri sendiri untuk berdamai dengan masa lalu terlebih dahulu. Banyak menghabiskan waktu dengan teman-teman yang selalu mendukungku. Aku tetap menjalani keyakinan agama yang aku anut, meski masih banyak keraguan dalam diri apakah aku sudah memilih agama sesuai dengan keinginanku sendiri atau belum. 

Baca Juga: Menikah di Usia 29 Tahun, Tidak Terlalu Tua?

Sekarang, aku belajar untuk menjadi wanita yang mandiri tidak menggantungkan kebahagaiaan pada siapapun. Saat kamu terjerat dalam hubungan yang toxic, paksakan diri untuk keluar dan berhenti meski di awal memang terasa sulit. Karena, tidak akan ada kebahagiaan yang kamu dapatkan jika tetap dilanjutkan. Hubungan itu saling, jika hanya kamu saja yang berkorban kemungkinan besar hubungan tersebut tidak sehat justru menyiksa.

Sumber: Gia, 31 tahun, di Jakarta

Baca Juga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Fill out this field
Fill out this field
Please enter a valid email address.
You need to agree with the terms to proceed

Menu