Aku Harus Cerdas Demi Kebaikanku Sendiri

Cinta & Relasi

Tema Urban Women kali ini mengingatkanku pada masa kuliah. Sebagai pribadi yang periang sejak kecil aku sangat mudah berteman dan menjalin relasi. Semasa menjadi mahasiswa aku punya kelompok pertemanan yang sering bersama-sama di hampir setiap saat termasuk libur kuliah. Dalam pertemanan kuliah ini aku merasa dihargai. Kami berenam saling dukung satu sama lain dalam segala hal. Kelima temanku sangat terbuka dan selalu ingin membantu dalam suka-duka. Sampai menginjak semester 5 kami harus terpisahkan oleh jadwal KRS atau mata kuliah pilihan masing-masing.

 

Mulailah datang ujian bagi kelanggengan pertemanan ini. Aku, dan hanya aku seorang, tidak dilibatkan ke dalam grup chat yang mereka buat. Aku tidak kecewa karena kebetulan ada 1 kelas yang mereka ikuti bersama.  Semua itu terjadi sampai semester 6 berjalan, sampai  ketika mereka berkumpul dan meng-update di sosial media. Aku tetap tidak disertakan. Akhirnya kuberanikan diri untuk bertanya. Mereka hanya bilang kumpul-kumpul itu cuma dadakan saja.

 

Pada suatu ketika aku tergabung bersama pacar salah seorang temanku itu dalam kelompok tugas mata kuliah.  Kami janjian untuk mengerjakan tugas di satu kafe, dan dia datang terlambat satu jam. Dia beralasan karena hujan, sekaligus mengaku bahwa dia sedang bertengkar dengan pacarnya. Aku tidak ingin ikut campur dan hanya berfokus pada tugas kami saja.  Namun setelah tugas beres dia bercerita bahwa dia dan temanku mengakhiri hubungan mereka karena sudah tidak sejalan dan hanya bertengkar terus-menerus. Kusampaikan rasa simpatiku sambil kusarankan untuk berpikir terlebih dulu baik-baik agar semuanya tetap baik-baik saja tanpa masalah. Kami pun berpisah, aku pulang menuju tempat kosku.

 

Sudah hampir tengah malam di saat aku tidur tiba-tiba salah satu tetangga kosku  mengetuk pintu kamar keras-keras sambil memanggili  namaku. Pacar temanku, kawan satu kelompok tugas kuliah itu, bergayut di badannya, napasnya bau alkohol. Kata tetanggaku pacar temanku itu terus-menerus memanggil namaku. Panik, segera kuhubungi temanku yang menjawab bahwa dia tidak bisa keluar rumah. Aku dimintanya menjaga pacarnya sampai dia datang menjemput di pagi hari.  Aku menyetujui ide itu meski dengan berat hati karena tidak terbiasa bersama laki-laki di kamarku. Aku memilih tidur di lantai beralaskan selimut dan bantal yang tersisa. Paginya temanku datang menjemput pacarnya, sambil menyempatkan untuk bercerita bahwa mereka bertengkar karena dia hamil. Kaget, kuberi dia semangat. Semua pasti bisa dilewati dan jangan pernah berpikir untuk menggugurkan kehamilannya. Menurutku  mereka harus bertanggung jawab dan belajar dari kesalahan ini. Temanku hanya menangis. Dia berpesan agar aku tidak menyebarkan ceritanya itu.

 

Setelah kejadian itu kami hanya menjalani ujian dan libur yang tidak lama. Aku tidak bicara atau membahas apapun mengenai malam itu. Sampai saatnya perkuliahan kembali berlangsung aku tahu bahwa temanku dan pacarnya itu tidak lanjut kuliah. Anehnya, keempat temanku lainnya memandangku sinis. Setiap kali kutanya mengapa mereka hanya menjawab “Gapapa”.  Lebih sedih lagi, teman-teman laki-lakiku memandangku dengan tatapan menjijikkan. Kata mereka, “Gue ke kosan pas lagi mabok bisa, nih!” Ternyata sudah beredar cerita karangan tentang kejadian malam itu, disebarkan sendiri oleh temanku. Aku disebutnya pula sebagai penyebab hancurnya hubungan mereka berdua. Aku marah, aku kecewa, aku menangis. Aku merasa bodoh telah berbuat baik, karena aku malah difitnah.

 

Aku pun sempat tidak ingin meneruskan kuliah. Aku trauma. Kujelaskan kepada orangtuaku bahwa aku tidak kuat menghadapi fitnah itu. Aku sempat mengambil cuti, dan berusaha menghubungi temanku yang telah menyebarkan fitnah itu. Sampai akhirnya ayahku berkata, “Dek, kita gak bisa melarang orang mau ngomongin atau fitnah kita apa. Kamu marah, emosi, nangis, gak suka, ya gapapa… itu hak kamu. Kalau kamu merasa tidak melakukan, kenapa musti malu? Capek kamu mikirin mulut mereka, capek kamu kalau menjelaskan satu-satu tentang kebenarannya. Lebih baik kamu tutup telinga, selesaikan kuliahmu karena Ayah tidak berjuang untuk hanya lihat kamu menyerah sama masalah ini. Ayah mau kamu cerdas bersikap dan tahu jalan yang terbaik.”

 

Saat itulah aku tahu ayah dan ibuku sebenarnya merasa lebih sedih. Aku pun bangkit, ingin membuktikan kesalahan teman-temanku. Walau tidak bisa mengubah yang sudah terjadi namun aku yakin kebenaran akan datang kepadaku.

 

Aku menyelesaikan kuliah, tanpa teman, tanpa penyemangat, dan aku menerima itu semua. Pilihan cerdasku untuk meninggalkan dunia pertemanan terasa pahit, namun aku tahu akan berujung bahagia untuk diriku sendiri. Aku melakukannya demi kebahagiaanku sendiri dan orangtuaku. Tak kusangka keputusan cerdasku itu membuahkan hasil. Aku lulus tepat waktu. Sejak itu kehidupanku berubah, cara pandangku berubah, aku lebih berhikmat memilih keputusan baik bagi lingkunganku maupun pasanganku dan pekerjaanku. Teman-temanku pun menyadari  berita itu tidak benar, dan mereka minta maaf. Kumaafkan mereka, sekaligus itu membuatku cerdas untuk lebih berjati-hati dalam soal berteman.

BACA JUGA : Ketika Aku Salah Mengambil Keputusan

Dari pengalaman itu aku belajar banyak hal yang aku harus terapkan dalam kehidupanku selanjutnya:

  1. Aku belajar menjadi cerdas untuk memilih pertemanan. Aku tidak mau lagi sembarangan berteman.
  2. Aku belajar tidak menerima begitu saja sesuatu yang menyakitkan aku, aku memilih untuk meninggalkan hal yang membuat aku hanya sakit. Aku memilih cerdas untuk tidak disakiti, dan justru menciptakan kebahagiaanku sendiri walaupun tidak mudah awalnya.

 

So ladies, aku percaya tidak semua keputusan yang kita buat selalu menyenangkan. Tapi yuk kita sama-sama hidup cerdas, agar kita bisa bahagia dengan keputusan kita sendiri. Karena jika hanya memilih untuk pasrah saja menahan sakit kita tidak akan pernah akan tahu apa yang mendewasakan kita dan kita justru terkungkung di zona nyaman. Hidup cerdas tidak mudah namun proses itu dapat membuat kita meninggalkan sakit kita.  Semoga kisahku dapat membuat kita sama-sama belajar yaa Urbannesse.

Baca Juga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Fill out this field
Fill out this field
Please enter a valid email address.
You need to agree with the terms to proceed

Menu