Tulang punggung

Aku Menjadi Tulang Punggung di Keluarga yang Tidak Harmonis

Kisah Utama

Urbanwomen – Bapakku meninggal dunia ketika usiaku 7 tahun dan mewariskan rumah untuk ibuku dan aku. Sampai usiaku 11 tahun aku hidup berdua dengan ibuku, dan setahun setelahnya ibuku menikah lagi tanpa memiliki anak lagi dengan suami barunya.

Sebelum menikah lagi ibuku bekerja sebagai pedagang nasi di depan sebuah sekolah SD. Setelah menikah kembalipun ibuku masih berjualan nasi pecel di depan sekolahku. Aku sering membantunya. Seusai kuliah aku bekerja di perusahaan swasta dengan penghasilan cukup besar. Aku minta ibuku berhenti berjualan nasi karena mulai sakit-sakitan. Sampai aku menikah dengan orang pilihanku. Karena aku tidak tega meninggalkan ibuku, aku dan suami tetap tinggal di rumah ibuku hingga sekarang. Kedua kakakku tinggal terpisah.

Masuk 4 tahun menikah, aku membangun bisnis kos-kosan untuk ibuku agar dia dapat pemasukan. Modalnya tentu tidak sedikit. Aku sampai meminjam dana dari dua bank dengan jaminan semua perhiasan dan tabunganku.  

Aku punya dua kakak dari bapak tiriku yang kurang peduli pada perekonomian keluarga. Saat kami kesulitan ekonomi, kusangka kedua kakak tiriku akan mengerti dan membantu, tapi aku hanya dipinjamkan perhiasan untuk kugadaikan dengan syarat jika kos-kosan sudah jadi dan rapi perhiasan itu harus ditebus kembali. Perhiasan itu berhasil kutebus, hanya tinggal perhiasan milikku sendiri yang sampai sekarang ini masih ada di bank. Aku enanggung semuanya sendiri termasuk bunganya dan kini hampir lunas. 

Saat ibu mau membagi warisan semua kakakku tiriu sangat antusias. Aku hanya diam saja, tapi disalahkan karena sudah berani membangun kos-kosan sebelum warisan dibagikan. Aku hanya bermaksud agar ibuku tidak terus mengandalkan anak-anaknya di masa tuanya, apakah itu salah? Selama beberapa tahun membayar cicilan dan bayar bunga bank aku tidak pernah meminta bantuan dari kedua kakak tiriku. 

Baca Juga: Belajar Peran Keluarga yang Sesungguhnya dari Ridwan Kamil dan Keluarga

Sampai saat ini hubunganku dengan kakak-kakak itu tidak harmonis. Aku anak terakhir, kenapa aku yang menjadi tulang punggung. Mereka juga bekerja dengan penghasilan lumayan, dan hanya memikirkan hidup mereka saja. Ibuku juga tidak bisa tegas soal anak-anak tirinya. Aku merasa sangat lelah dengan hubungan keluarga ini, tapi tetap menguatkan diri.  Biar bagaimanapun  kakak-kakak tiri itu tetap keluargaku. Yang terpenting, aku tetap berbakti pada ibuku dengan menjaga dan merawatnya sampai kapanpun.

Biar bagaimanapun, keluarga tetaplah keluarga. Aku akan melakukan yang terbaik untuk tetap bisa menjaga hubungan dengan mereka dan fokus merawat ibu. Karena seburuk apapun hubungan kita dengan keluarga, baik itu dengan orang tua atau saudara kandung, tetap saja keluarga adalah rumah tempatku pulang. 

Baca Juga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Fill out this field
Fill out this field
Please enter a valid email address.
You need to agree with the terms to proceed

Menu