Apa Kesalahan Saya, Apa Saya yang Salah?

Apa Kesalahan Saya, Apa Saya yang Salah?

Kewanitaan

Saya diputuskan sepihak oleh dia, dengan berbagai alasan yang make sense tapi tidak make sense at the same time. Saya diajarkan mamah saya saat diputuskan laki-laki berarti laki-laki tersebut sudah tidak sayang dan ga perlu minta minta rujuk, akhirnya saya iyakan.

Tapi entah kenapa kami masih saling berhubungan, chat, curhat, dll, saya juga masih chat dengan sahabatnya. Disitu saya bertanya tanya apa kesalahan saya, apa saya yang salah? Selama putus itu saya merasa semua hal terjadi karena kesalahan saya, sehingga saya masih mencoba untuk berbaik hati menjawab chat, curhatan dia dan sahabatnya, mencoba mendukungnya saat dia butuh dukungan, dll.

Hingga akhirnya beberapa bulan setelah putus saya mencoba cut komunikasi dan hidup saya berjalan begitu saja namun masih penuh rasa bersalah dan bertanggung jawab atas kesedihan dan kebahagiaan dia

8 bulan setelah putus, kami bertemu karena sama sama wisuda, wisuda kami beda sehari, saya memutuskan datang di wisudanya karena diminta mamah saya, mamah saya bilang “gapapa ca, terakhir kali ketemu” kemudian besoknya dia tidak datang wisuda saya karena ada kerjaan, tapi malamnya mengajak saya jalan-jalan di Semarang untuk terakhir kali (dia kebetulan asli Semarang) saya mengiyakan, kita berjalan berputar putar mengelilingi kota lama tertawa, berbincang, rasanya seperti tidak pernah terjadi apa apa dan dia memberikan hadiah wisuda.

Saya sampai di hotel dan mendapat chat dia yang berisikan permintaan maaf, saya tanya “buat dulu?” Dia tidak menjawab, tap dia menjelaskan bahwa dia merasa bersalah kemudian saya yang ekspresif mengirimkan text panjang tentang bagaimanapun there will always be a little part of 22 years old me that love him dan bahwa dia ga harus merasa bersalah. Besoknya saya harus pulang naik kereta, sangat cepat karena kebetulan sebelum wisuda saya sudah bekerja.

Dia menyempatkan datang ke stasiun tawang pulang kerja WO seharian, saat itu pukul 10.30 mungkin, dia datang lebih dulu. Mamah saya membiarkan saya berbincang terakhir kali dengan dia. Kami berbincang sampai detik detik terakhir kereta saya datang sekitar jam 01.45 dini hari, kami kembali berbincang tentang masa lalu, tertawa, nangis, minta maaf, mengekspresikan perasaan. Kami sampai pada kesepakatan jalanin hal yang ga jelas antara saya dan dia, apapun itu, dan kami berdua setuju, apapun itu. Saya pulang dengan kereta.

Keesokan harinya malam hari dia izin telfon saya, sebelumnya saya mencoba bertanya apa ground rules dari ketidak jelasan kita ini? Apa masih boleh pacaran dengan orang lain, boleh cemburu, atau seperti apa? Dia akhirnya telfon saya dan mengajak balikan, saya bicara panjang lebar yang intinya “iya”

Beberapa bulan setelah itu, ga lama dia juga dapat kerja yang kotanya bersebelahan dengan kota saya, sekitar 1-2 x dalam sebulan datang ke rumah saya dan menginap, orangtua saya mengijinkan dia menginap karena kasian bolak balik naik motor.

Namun ternyata hubungan kami hanya bertahan beberapa bulan. 

Untuk kali ini saya memutuskan untuk block sosial media dan kontaknya untuk semntara waktu. Saya menata emosi dan menyusun kata-kata untuknya, 2 minggu berlalu saya email dia dengan surat terakhir saya. Dia balas dengan chat, sekita 40 chat mungkin kemudian saya balas seperlunya. Tidak lama saya juga buka block sosial medianya, tapi tetap tidak follow kembali, saya juga hapus instagram. Kenapa saya lakukan block itu? Menurut saya bukan karena saya kekanak kanakan, saya hanya takut masih ada sisa sisa emosi di hati saya, saya takut sebelum saya bisa memanage hati saya dengan baik saya sudah chat dia, khawatir ada bahasa dan kata kata yang akhirnya saya sesali keluar dari mulut saya, sesimple itu.

Dia masih beberapa kali chat, tapi saya jawab seadanya dan seramah mungkin, dia yang nonis juga masih mengucapkan selamat idul fitri pada saya dan saya balas ramah. Namun sepertinya dia pun paham saya telah membatasi komunikasi dengan dia kali ini sehingga dia jua mencoba untuk menghargai keputusan saya.

Saya merasa dalam hubungan kesalahan ada di kedua pihak, bukan sepenuhnya salah saya, saya juga sudah tidak lagi berpikir bahwa kebahagiaan atau kesedihannya adalah tanggung jawab saya, saya lebih melihat dia sebagai individu yang sudah dewasa dan bertanggung jawab terhadap perilaku, perkataan, dan keputusannya sendiri tanpa intervensi dari manapun, sehingga saya juga menghargai keputusan dia. Saling menghargai dan menghormati, saya juga sudah tidak ingin tahu kehidupan dia dan saya rasa dia juga begitu. Selain itu saya juga mencoba mencari aktivitas dan kegiatan menyenangkan lain, walaupun sulit di bulan awal beberapa kali saya masih menangis

Sekarang sudah hampir 3 bulan, dan sudah tidak ada rasa apapun, semuanya lebih ringan. saya sedih sekitar 1 bulan sehabis itu saya sudah hampir lupa, saya juga dari awal tidak pernah memandang dia sebagai orang yang jahat, sampai sekarang saya masih memandang dia sebagai orang terkuat dan terbaik yang pernah saya temui, namun memang cerita kami sudah selesai

Jadi seberapa lama move on menurut saya adalah pilihan, cut komunikasi bagi saya adalah cara paling cepat, seperti membuka plester, sakit tapi cepat dibanding terus berkomunikasi dan rasanya perasaan kita masih terus terseret, selain itu bagaimana kita mempersepsikan hubungan dan bagaimana hubungan itu berakhir juga sangat menentukan. kami sudah paham masing masing bahwa mungkin kami tidak pernah cocok dari awal, dan toh hubungan ini tidak bisa dibawa jauh karena kami berbeda agama dan ras^^ intinya sekarang bisa lebih sama sama ikhlas dan menerima.

Baca Juga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Fill out this field
Fill out this field
Please enter a valid email address.
You need to agree with the terms to proceed

Menu