Baikkah Menikah Cepat Hanya Karena Tuntutan?

Baikkah Menikah Cepat Hanya Karena Tuntutan?

Pandangan Pria

Urbanwomen – Halo Urbanesse, bulan ini Urban Women mengusung tema “Menikah karena Tuntutan Keluarga dan Masyarakat: Baikkah untuk Kita?”. Dalam segmen From His Eyes kita meminta pendapat seorang laki-laki terkait tema ini. Kali ini giliran Niko Adyaksa, 35 tahun, pebisnis bidang trading dan engineering peralatan Fiber Optic. Berikut pernyataannya:

Saya suka gemas pada perempuan umur 20-an atau lebih yang merasa seharusnya sudah menikah. Entah itu karena diri sendiri, orangtua, atau lingkungannya. Kebanyakan, mereka mulai merasa stres dikejar tenggat waktu untuk menikah. Tentu tidak semua ya, tapi kebanyakan seperti itu. Seturut pengalaman menikah selama 18 tahun mungkin saya dapat memberikan beberapa perspektif (yang berbeda) tentang pernikahan:

  1. Tak ada garansi bahwa hidup perempuan yang sudah menikah akan lebih berbahagia daripada single. Terlebih di masa umur 20-an ketika sebenarnya banyak potensi diri yang bisa dikembangkan tanpa harus diberati peran fomentik (?) yang diwajibkan oleh (maaf) agama dan budaya.
  2. Dalam pernikahan, selain pengendalian emosi antara suami dan istri, hal penting lainnya adalah kemampuan finansial. Perlu diingat, pernikahan membutuhkan biaya besar untuk anak-anak. Mungkin Anda dan pasangan sanggup menahan diri apabila terjadi kekurangan uang, tapi akan berbeda jika anak-anak yang mengalaminya. Menurut saya, cukup egois bila pasangan hanya memiliki keturunan tanpa bisa secara layak memenuhi kebutuhan mereka.
  3. Dalam pernikahan, segala cerita roman hanya tinggal di buku harian masa lalu. Yang harus dihadapi adalah isu-isu biaya hidup, tagihan, asuransi kesehatan, dan berbagai macam masalah finansial lainnya. Semua bermuara pada uang dan uang. Mungkin terdengar agak vulgar ya, tapi begitulah kenyataannya. Jika Anda belum siap lebih baik merajut kebahagiaan bersama teman-teman saja dulu. 
  4. Tidak mudah mencari pasangan hidup yang selaras frekuensi serta kedewasaan emosional untuk menghadapi bermacam perbedaan. Selektiflah. Jangan pernah memaksakan diri untuk menikah jika belum ada kecocokan, apalagi hanya karena deadline atau tekanan lingkungan. Risikonya terlalu besar. 

Masih banyak lagi poin menurut saya, tapi intinya demikian. Kalau belum siap, jangan terpaksa.

Baca Juga: Jangan Menikah Sebelum Kamu Melakukan 8 Hal Besar Ini

Jadi, semua keputusannya kembali lagi ke diri sendiri ya, Urbanesse. Apapun keputusannya, pastikan itu karena keinginan sendiri, bukan orang lain. (*)

Baca Juga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Fill out this field
Fill out this field
Please enter a valid email address.
You need to agree with the terms to proceed

Menu