Notice: fwrite(): write of 571 bytes failed with errno=122 Disk quota exceeded in /home/urbanwom/public_html/wp-content/plugins/wordfence/vendor/wordfence/wf-waf/src/lib/storage/file.php on line 43
Banyak Kasus Viral, Indonesia Darurat Kekerasan Seksual – Urban Women
Kasus kekerasan seksual

Banyak Kasus Viral, Indonesia Darurat Kekerasan Seksual

Inspirasi Hati

Urbanwomen – Kekerasan seksual belakangan ini sedang menjadi isu hangat yang banyak diperbincangkan. Jika menarik mundur waktu ke tahun 2021 kemarin, tak sedikit kasus kekerasan seksual yang terungkap dan menjadi konsumsi publik berkat perkembangan media sosial yang terus meningkat setiap harinya.

Menurut data Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) tahun 2017, kekerasan seksual paling banyak dialami perempuan yang belum menikah yaitu 34.4%, angka tersebut bahkan lebih besar dibanding kekerasan fisik yang hanya 19.6%. Bahkan ketua Komnas Perempuan Andy Yentriyani menyampaikan bahwa kasus kekerasan seksual terhadap perempuan mengalami peningkatan dua kali lipat dibanding tahun 2020. Saat ini angka kasus kekerasan seksual yang dilaporkan pada Komnas Perempuan mencapai 4.500 kasus hingga September 2021. 

Berikut adalah sedikit dari kasus kekerasan seksual yang terjadi di tahun 2021 yang sempat viral dan mendapat banyak perhatian,

  • Kasus Novia Widyasari

Kasus ini mulai menyeruak ke publik setelah Novia Widyasari (NW) ditemukan tak bernyawa di samping makam sang ayah pada 2 Desember 2021 lalu. Diduga NW melakukan bunuh diri dengan meminum racun. Pihak kepolisian menduga NW mengalami depresi hingga bunuh diri karena menjadi korban kekerasan seksual oleh pacarnya sendiri hingga hamil. Namun saat NW menyampaikan kondisi kehamilannya, pacarnya justru tak terima dan membujuk NW untuk menggugurkan kandungannya. 

Bahkan sang kekasih tega memberi NW obat penggugur kandungan hingga dirinya harus dirawat di rumah sakit. Karena itu NW memohon bantuan kepada ‘mama’ sang pacar atas kejadian yang menimpanya, namun orang tua pacar NW justru menyatakan enggan menikahkan NW dengan pacarnya. Penolakan tersebut membuat NW depresi dan memutuskan bunuh diri. Banyak masyarakat yang menuntut keadilan bagi NW, tagar #SAVENOVIAWIDYASARI pun sempat memuncaki deretan trending topic twitter Indonesia. Kini sang pacar telah dipenjara dengan sanksi etik dan Pasal 348 KUHP tentang aborsi, dengan ancaman hukuman paling lama 5,5 tahun penjara. Ia juga dijerat Pasal 7 dan 11 Perkap Nomor 14 Tahun 2011 tentang Kode Etik.

  • Pelecehan Pegawai KPI

Kekerasan seksual tak hanya bisa terjadi pada kaum wanita tapi bisa juga terjadi pada kaum pria, menurut penelitian yang dilakukan Non-Governmental Organisation (NGO) dan Forum on Indonesian Development (INFID) ditemukan bahwa 33,3% pria pernah mengalami kekerasan seksual. Seperti kasus pelecehan seksual yang terjadi pada pegawai Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) berinisial MS. Pelecehan seksual tersebut terjadi di lingkungan KPI yang viral pada September 2021

MS mengaku bahwa dirinya mengalami perundungan dan pelecehan oleh pegawai KPI lainnya sepanjang tahun 2012-2014. Ia mengalami penyiksaan, dipukul hingga ditelanjangi oleh rekannya. Kasus ini terbongkar melalui pesan WhatsApp dan viral melalui media sosial Twitter. Perundungan bertahun-tahun dan pelecehan seksual yang diterimanya, membuat MS mengidap PTSD (Post-traumatic stress disorder) yang berpengaruh pada kehidupan sehari-harinya diluar kantor termasuk kehidupan rumah tangganya. 

  • Guru Cabuli 21 Santri

Tak hanya di area perkantoran, lingkungan pendidikan yang seharusnya menjadi tempat yang aman dan nyaman untuk belajar pun tak luput dari kasus pelecehan dan kekerasan seksual. Menurut laporan Komnas Perempuan per 27 Oktober 2021, sepanjang 2015-2020 terdapat sebanyak 51 aduan kasus kekerasan seksual di lingkungan pendidikan yang diterima Komnas Perempuan. Kasus kekerasan seksual paling banyak terjadi di universitas dengan angka 27%. Kemudian, 19% terjadi di pesantren atau pendidikan berbasis agama Islam, 15% terjadi di tingkat SMA/SMK, 7% terjadi di tingkat SMP, dan 3% masing-masing di TK, SD, SLB, dan pendidikan berbasis agama Kristen.

Seperti salah satu kasus yang sangat menggemparkan pada tahun 2021 yaitu seorang guru di sebuah pondok pesantren di Bandung, berinisial HW yang menjadi terdakwa kasus pelecehan seksual kepada para santrinya. Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) menyampaikan ada 21 orang yang dilaporkan menjadi korban pelecehan dan kekerasan seksual oleh HW.

Aksi tak bermoralnya tersebut dilakukan dalam rentang tahun 2016 hingga 2021 di berbagai tempat seperti pondok pesantren, apartemen hingga hotel mewah, dengan bermodalkan janji manis pada korbannya. Bahkan, aksi pelecehan terhadap 21 santri tersebut telah melahirkan 9 bayi dan para korban masih merupakan anak dibawah umur. Namun hingga kini persidangan kasusnya masih berjalan.

Baca Juga: 6 Faktor dalam Berkomunikasi Seksual yang Penting Dilakukan Pasangan

Seperti yang sudah minsis ceritakan diatas, pelecehan dan kekerasan seksual tentu akan sangat merugikan korbannya. Banyak dampak yang bisa muncul karena trauma atas kejadian tersebut tidak hanya dampak pada mental tapi juga fisik. Dampak yang muncul pada setiap korban tentu berbeda, ada banyak reaksi emosional dan psikologis yang dapat dialami oleh korban pemerkosaan dan kekerasan seksual. Salah satu yang paling umum adalah depresi yang bisa berujung pada banyak cabang mental issue, seperti PTSD karena setelah peristiwa traumatis, biasanya korban akan memiliki perasaan cemas, stres, atau takut yang berlebih, sehingga sulit untuk menyesuaikan atau mengatasi untuk beberapa waktu setelahnya. Kesehatan mental yang terganggu tentu akan sangat berpengaruh pada kinerja tubuh kita, mengganggu kegiatan sehari-hari dan relasi dengan orang lain.

‘Wah parah ya, terus minsis, ada gak sih yang bisa kita lakukan untuk membantu mereka?’

Ada sist, minsis akan bahas mengenai hal tersebut di artikel berikutnya ya. Harap ditunggu

Baca Juga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Fill out this field
Fill out this field
Please enter a valid email address.
You need to agree with the terms to proceed

Menu