Terus bekerja

Bekerja Tanpa Mengenal Waktu, Aku Hampir Tidak Memiliki Waktu untuk Suami

Kisah Utama

Urbanwomen –

Setelah menikah, atas kemauan diri sendiri aku memutuskan untuk tetap bekerja. Aku tahu, sesudah menikah kebutuhan kami pasti menjadi lebih banyak, terutama untuk membayar cicilan rumah. Aku dan suami terus-terusan bekerja meskipun di hari libur. Apapun kami lakukan, selain menjadi karyawan aku juga punya pekerjaan sampingan dan merintis bisnis online dengan suami.

Karena pekerjaanku sangat berkaitan dengan klien, aku dituntut untuk selalu merespon chat dengan cepat. Semasa muda tidak masalah jika terus-menerus bekerja, tapi di usiaku sekarang aku menjadi lebih mudah lelah. Kupaksakan bekerja walaupun sudah kelelahan, demi mencapai target..

Orangtuaku pernah menasihati bahwa sukses hanya bisa diraih jika aku bekerja sekeras-kerasnya. Aku merasa bersalah saat meluangkan waktu bersantai atau berlibur, sehingga aku terus mencari cara agar tetap bisa mengerjakan hal lain yang bisa menghasilkan uang. Hampir setiap hari saat bangun tidur aku memulai hari dengan mengecek email pekerjaan. Jika ada deadline aku merasa cemas berlebih dan panik. Akibatnya aku menjadi sering melewatkan waktu sarapan dan ketika sampai kantor aku hanya minum air putih dan langsung bekerja. Apalagi ketika aku WFH, atasanku semakin menuntut untuk bekerja lebih cepat, ada saja keadaan darurat yang mengharuskan aku memberi waktu tambahan di luar jam kerja. Tak jarang muncul juga rasa pesimis dengan pekerjaanku.

Terus-menerus bekerja tanpa kenal waktu berdampak pada kehidupan rumah tanggaku. Aku hampir tidak punyai waktu berlibur bareng suami. Bahkan menjauhkanku dari handphone untuk sekedar berbincang lebih lama dengan suami saja sulit sekali. Suamiku sempat minta aku untuk resign saja, tak masalah jika hanya dia yang menanggung kebutuhan sehari-hari. Tapi aku tetap ragu. Apalagi jabatanku juga cukup tinggi.

Tanpa kusadari, hal itu juga berdampak pada timku. Waktu libur, aku masih mengirimkan pekerjaan yang mengganggu waktu santai mereka. Tiap ada anggota tim baru, baru saja beberapa bulan dia sudah memutuskan keluar. Awalnya aku tidak sadar kenapa anggota timku hanya mampu bertahan selama beberapa bulan saja, sampai ada yang memberiku masukan bahwa mereka merasa terganggu karena tidak bisa beristirahat dengan tenang jika hampir setiap weekend masih saja diberi pekerjaan.

Lama-kelamaan suamiku bilang dia butuh waktu berlibur walau hanya sebentar. Aku jadi stres, tidak bersemangat bekerja, sempat mengalami penurunan performa karena memikirkan banyak hal dan lebih mudah marah. Setelah cukup lama kupikirkan, niatku bulat untuk resign. Meskipun saat itu belum ada pekerjaan lagi, aku bisa berjualan online untuk mengisi waktu luang dan memperbaiki hubunganku dengan suami. 

Baca Juga: Demi Mengejar Ambisi, Aku Hampir Kehilangan Teman, Keluarga dan Diri Sendiri

Menikah hampir 5 tahun kami belum dikarunia anak. Setelah diperiksakan ke dokter, salah satu penyebabnya karena aku terlalu kelelahan. Sampai saat ini aku hanya bisnis kecil-kecilan di toko online, tapi itu lebih baik karena aku sudah mulai memperhatikan kesehatan dengan makan tepat waktu, rutin berolahraga, dan liburan bersama suami.

Tak perlu sampai menyusahkan diri demi melampaui takaran beban kerja. Ingatlah bahwa kesehatan mental, fisik, dan emosional perlu dijaga supaya diri sendiri bisa menjalani rutinitas harian dengan optimal. Peduli pada diri sendiri penting agar dapat meningkatkan kualitas hidup.

Sumber: Eli, 40 tahun, nama disamarkan, di Jakarta

Baca Juga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Fill out this field
Fill out this field
Please enter a valid email address.
You need to agree with the terms to proceed

Menu