Belajar, Bagian dari Proses Pendewasaan Diri

Belajar, Bagian dari Proses Pendewasaan Diri

Kisah Utama

Urbanwomen – Namaku Farah, 21 tahun, mahasiswa. Orangtuaku yang amat menyayangiku, dan mereka pasti menginginkan yang terbaik untuk anaknya. 

Lulus SMA, aku diarahkan untuk menjadi polisi. Itu bukan cita citaku, tapi kupikir tak apalah, demi masa depanku dan kebahagiaan orangtua serta adik-adikku. Setahun aku berlatih tapi gagal pada tahap seleksi karena tinggi badanku kurang 1,5 cm. Baiklah, tak apa. Orangtuaku bilang masih ada tahun depan. Aku meneruskan berlatih dan kembali ikut seleksi.  Sayangnya, tinggi badanku tetap dianggap kurang. Betapa kecewanya aku pada diri sendiri ketika itu, terutama karena orangtua  sudah sangat mengharapkanku lolos seleksi. Sebagai anak perempuan pertama seharusnya aku menjadi contoh untuk adik-adik. Lebih dari itu, aku belum bisa menggantikan posisi bapakku sebagai tulang punggung keluarga. 

Setahun berlalu, aku mencoba melamar kerja, dan diterima. Kebanyakan teman kerjaku berusia sekitar 30 tahun. Awalnya aku sangat senang. Kupikir aku bisa banyak belajar dari mereka yang sudah berpengalaman. Aku sudah menganggap mereka sebagai orangtua sendiri sehingga aku sangat menghormati mereka. Satu tahun pertama aku ditempatkan pada posisi reception dan  general affair. Dua bulan kerja aku langsung bisa mencicil motor untuk bapakku, menggantikan motornya yang harus dijual agar salah seorang adikku bisa lanjut sekolah di SMK. 

Ketika pertama kali memasuki dunia kerja, kedua orangtuaku berpesan agar aku belajar lebih banyak lagi. Aku sendiri menjadi termotivasiku untuk bekerja demi membahagiakan mereka serta adik-adikku. Sekitar 6 bulan kerja banyak sekali jatuh bangun yang kualami, dimulai dari lingkungan kerja, sampai teman kerja yang bersikap seperti tidak peduli jika aku bertanya soal pekerjaan.

Pernah mereka dengan seenaknya memberiku pekerjaan lain yang sebetulnya bukan jobdesc-ku. Namun aku mencoba berpikir positif. Mungkin dengan demikian begini aku bisa banyak belajar ilmu baru. Sering hal seperti itu terjadi, aku tak boleh langsung emosi dan lemah. Kupikir itu hanya permulaan saja di dunia kerja.  Aku juga belajar untuk tidak terlalu mempedulikan mereka. Terlebih, aku masih membutuhkan uang untuk kuliah. Aku tidak boleh menuruti emosi yang bisa membuat semuanya justru menjadi berantakan.

Baca Juga: Mengatur Emosi dengan Hindari 3 Tanda Kecil dari Kelelahan Ini

Memang, sulit sekali rasanya menahan amarah. Tapi ada hal positif yang kudapat hingga sekarang dan aku rasa sangat berguna. Ya, mentalku sekarang lebih kuat, belajar menerima. Sedikit demi sedikit pola pikirku mulai berubah. Untuk menjadi sukses memang tidak mudah. Andai waktu itu aku langsung memutuskan untuk resign karena dorongan emosi, mungkin aku tidak bisa belajar banyak hal sebagai proses dari pendewasaan.

Sumber: Farah Nazila Yanuarvi

Baca Juga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Fill out this field
Fill out this field
Please enter a valid email address.
You need to agree with the terms to proceed

Menu