Belajar Mengatur Keuangan Secara Bijak dari Orangtua

Belajar Mengatur Keuangan Secara Bijak dari Orangtua

Kisah Utama

Urbanwomen – Perkenalkan namaku Tia, sekarang aku berusia 28 tahun dan bekerja sebagai karyawan swasta di Jakarta. Aku mau bercerita bagaimana pengaruh orangtua bisa membuatku lebih bijak mengatur keuangan sejak usia muda. Kenapa kubilang pengaruh? Karena sebenarnya mereka tidak pernah secara langsung mengajariku tentang bagaimana bersikap tentang finansial. Aku justru lebih banyak belajar dari contoh-contoh yang mereka lakukan

Di usiaku sekarang, aku memiliki gaji yang lebih dari cukup. Berhubung belum menikah, aku tidak memiliki tanggungan lain selain diriku sendiri. Orangtuaku pun masih produktif bekerja meskipun sebagai anak aku sering bersikeras membayari beberapa keperluan mereka. Dengan kondisi seperti itu, mudah sekali bagiku untuk terjebak menjadi orang yang konsumtif dan mengambil cicilan untuk hal-hal tersier. Percayalah, godaan untuk itu begitu besar dan banyak dari teman-temanku yang sangat konsumtif. Namun disini aku belajar dari orangtuaku

Sejak aku kecil, orangtuaku menganut prinsip lebih baik tidak kelihatan “wah” dibanding harus berhutang untuk gaya hidup. Misalnya kendaraan. Keluarga kami masih menggunakan kendaraan yang sama sejak 25 tahun yang lalu. Tetangga kami dan teman-teman kantor Ayahku sudah berkali-kali ganti mobil dengan yang lebih bagus. Tetapi Ayah tetap bertahan karena mobil kami  karena masih bisa digunakan dan sedang mengumpulkan uang untuk membeli mobil baru dengan tunai. Ia tidak mau berhutang untuk membeli mobil karena mobil bukan kebutuhan primer yang mendesak, lagipula kami sudah punya kendaraan. Akhirnya akhir tahun kemarin, uang terkumpul dan kami bisa membeli mobil dengan tunai. Mobil di tangan, hatipun tenang karena tidak ada cicilan. Pelajaran penting buatku untuk tidak berhutang untuk barang-barang konsumtif

Begitupun untuk urusan menabung dan berinvestasi. Ada masa dimana bisnis sampingan orangtuaku sedang jaya sekali. Waktu itu sebenarnya banyak yang bisa kami beli, tetapi Ibu selalu mengingatkan untuk bisa menabung. Hasil tabungannya sebagian digunakan untuk membeli sebidang tanah sebagai investasi di masa depan. Benar saja, tidak lama dari situ terjadilah krisis moneter tahun 1998 yang menyebabkan kesulitan ekonomi dimana-mana termasuk bisnis sampingan ayahku yang mesti gulung tikar. Saat itu kami bersyukur sekali karena kami masih memiliki tabungan yang cukup hingga kondisi kembali stabil. Yang mengejutkan lagi, 12 tahun kemudian tanah yang dulu kami beli ditawar untuk lahan rumah sakit setempat dengan harga yang sangat cukup. Uang hasil penjualan tanah tersebut kemudian diinvestasikan ke deposito oleh orangtuaku. Selama pandemi saat pendapatan orangtuaku menurun, kami justru jadi bisa dibantu oleh uang hasil deposito yang setiap bulan cair. Pelajaran buatku juga, untuk senantiasa menabung dan bahwa apa yang kita usahakan di masa lalu bisa jadi efeknya baru terasa berbelas tahun kemudian. 

Baca Juga: Pengelolaan Keuangan: Pentingnya Peran Orangtua

Namun pelajaran lain yang paling penting kupelajari dari orangtuaku tentang mengelola keuangan adalah mengenai sedekah. Semakin banyak rezeki yang diperoleh maka harus semakin gencar bersedekah karena itu yang meluaskan rezeki dan menyelamatkan kita. Aku percaya sekali akan hal ini. Semoga pelajaran-pelajaran yang kudapat dari orangtuaku bisa berguna juga untuk oranglain agar lebih bijaksana menggunakan uangnya untuk hal yang benar-benar penting.

Baca Juga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Fill out this field
Fill out this field
Please enter a valid email address.
You need to agree with the terms to proceed

Menu