Belajar-Merelakannya-Demi-Hidup-yang-Lebih-Baik

Belajar Merelakannya Demi Hidup yang Lebih Baik

Kisah Utama

Urbanwomen – Aku Dina,  20 tahun, berprofesi sebagai tenaga kesehatan. Awal tahun 2019, aku yang baru putus dari pacar setelah 5 tahun bersama berkenalan dengan saudara rekan kerjaku via online. Kami beda kota, dia mahasiswa aktif di kota J sedangkan aku karyawan yang masih kuliah di lain kota. Untuk seseorang yang baru patah hati, kenal dengan orang baru yang lebih menyenangkan tentu bagai bertemu obat untuk luka.

Dari ngobrol-ngobrol intens setiap hari dalam kurun waktu 6 bulan aku bisa menyimpulkan dia sangat menarik, setia, hangat, ceria, pendengar yang baik. Aku jadi  percaya dia adalah pengganti yang tepat pacarku terdahulu. Dia juga royal, sering mengirimiku barang barang mahal seperti tas bermerek, boneka, dan lain-lain. Tapi selang 3 bulan setelah itu masalah mulai datang. Dia mulai berani menanyakan masa laluku. Tepatnya, menanyakan apakah aku masih perawan, karena menurutnya aku toh lama sekali berpacaran. Aku yang merasa tidak pernah melakukan hal seperti itu tentu saja menawab dengan sepenuh percaya diri bahwa, ya, aku masih perawan. Masalah selesai. 

Beberapa bulan setelahnya kami bertemu di kotaku. Selama seminggu tidak ada masalah. Sesuai permintaan dia sendiri, aku perkenalkan dia pada kedua orangtuaku. Dia bahkan langsung minta izin untuk menjalin hubungan lebih dari sekadar teman dan minta restu kedua orangtuaku untuk menerimanya di keluargaku. Sebelum kembali ke kotanya dia bertanya lagi, kali ini untuk meyakinkan apakah aku tidak pernah operasi selaput dara. Pertanyaan macam apa itu! Firasatku tentang hubungan ini semakin buruk. 

Dan benar saja, setelah itu dia makin menjadi-jadi. Semakin posesif, setiap hari aku harus share-loci di WhatsApp, telat balas chat dituduh selingkuh atau chatting dengan laki-laki lain, dan menuduhku yang bukan-bukan. Semakin hari semakin sering kami berdebat untuk hal yang tidak jelas. Orangtuaku sering melihatku menangis ketika sedang bertelepon dengannya. Ibuku  merasa kasihan padaku, sampai lupa minum obat sakit jantungnya. Aku juga menjadi tidak fokus memantau kondisi ibuku karena aku sendiri sedang berantakan. 

Tak lama kemudian dia memutuskan hubungan kami, lengkap dengan sikap arogan dan kata-kata kasarnya. Aku hancur. Seperti sudah tidak berguna lagi. Harga diri sudah terinjak-injak, ibuku jatuh sakit. Melihat orangtuaku aku aku lebih ikhlas berpisah dengan dia, rasanya hati jadi lebih tenang. Jujur, sampai saat ini aku tidak pernah melupakannya. Aku hanya berusaha mengikhlaskannya agar hidupku  lebih tenang. Kesehatan ibuku juga mulai membaik, karena perhatianku tercurahkan semuanya untuk keluarga. 

Baca: Hubungan Jarak Jauh yang Aku Jalani, Berhasil Hingga ke Pernikahan

Banyak sekali pelajaran penting yang kudapatkan dari pengalaman itu. Yakinlah, dirimu sangatlah berharga. Sayangi dulu dirimu, keluarga, sahabat sebelum kamu memutuskan untuk menjalin hubungan baru dengan laki-laki yang kautargetkan menjadi pendampingmu. Dan bila ada hal menurut naluri dan hati kecilmutidak sesuai, berhentilah. Percayalah terhadap hati dan nalurimu sendiri. Banyak membaca, bergaul, dan membuka diri agar tidak mudah termanipulasi dan terprovokasi. 

Sumber: Dina, nama disamarkan, di Surabaya

Baca Juga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Fill out this field
Fill out this field
Please enter a valid email address.
You need to agree with the terms to proceed

Menu