Belum Berjodoh Bukan Berarti Tamat

Belum Berjodoh Bukan Berarti Tamat

Inspirasi Hati

Urbanwomen – Saya berasal dari keluarga Cina yang bisa dibilang cukup konservatif.  Saya belum menikah. Bukan tidak mau. Saya hanya merasa belum bertemu dengan sosok  yang orang sebut sebagai “klop”. 

Tapi saya pernah beberapa kali pacaran. Beberapa dari mereka memang mengajak menikah, tapi selalu di saat yang kurang tepat. Misalnya ketika saya berumur 19, masih terlalu kecil untuk menikah. Saya belum melihat dunia, hanya tahu dunia sekolah. Tiga tahun kemudian saya kembali mendapat tawaran menikah, tapi apa daya saya sudah diterima studi S2 yang saya kejar dan sekolah itu di luar negeri. Hubungan ini kandas karena pacar saya itu lantas tergoda perempuan lain ketika kami menjalani LDR. Beberapa orang lainnya pun selalu punya kekurangan yang menurut saya serius: tidak punya pekerjaan tetap, atau punya kecendrungan melakukan kekerasan, kurang bertanggungjawab, dan lainnya. Mereka tidak bisa lebih dari sekadar pacar saja.

Dijodohkan juga sudah beberapa kali. Untungnya, walau orangtua saya memberi tekanan tapi mereka tidak memaksa. Jadi setelah mencoba dengan beberapa orang yang dijodohkan saya tetap saja tidak merasa ada kecocokan. Sering saya malah bingung mau mengobrolkan apa dengan mereka ini, selera orangtua saya yang berbeda. 

Jujur, ada saat-saat saya tertekan juga. Saya sampai memaksakan gaya berpakaian dan tatanan rambut agar terkesan lebih “sweet” dan asalkan membuat saya bertemu jodoh lebih cepat. Saya tertekan karena mungkin bagaimana tampilan yang “ideal” di mata umumnya masyarakat Indonesia cukup terpatri di otak saya. Kalau dipikir lagi tindakan itu bodoh dan memalukan, karena beberapa teman menganggap gaya itu tidak sesuai dengan kepribadian saya.  

Namun saya juga paham bahwa menikah sebaiknya sekali seumur hidup. Mereka yang sudah menjalani pernikahan dengan baik selalu menasihati saya. Cari yang cocok, nanti kamu pasti tahu siapa orangnya, begitu kata mereka. “Kamu pasti merasa aman dan nyaman bersama dia”, “Kalau diajak bicara nyambung”,  sampai “Menikah itu tidak gampang dan kalau kamu bertemu orang yang salah itu akan terasa seperti neraka di bumi”.

Belum lagi beberapa sanak-saudara mengeluarkan isu bahwa saya lesbian hanya karena saya jarang berfoto dengan pacar. Duh, Gusti… capek menghadapi omongan seperti itu. Salah satu tante malah mengirimi ibu saya kalung pernikahan turun-temurun dari keluarga dengan nota “Untuk anakmu”. Aduh, tekanan itu datangnya bisa dalam berbagai bentuk.

Untunglah saya bukan tipe yang berlarut-larut mengasihani diri sewaktu gagal mendapatkan sesuatu. Waktu yang tersedia saya fokuskan pada kerja, teman, pekerjaan sosial, serta merawat dan memajukan diri. Saya juga berdoa dan tetap berusaha. Buat saya urusan jodoh manusia adalah urusan Tuhan.

Dalam perjalanan hidup ini saya bisa mendirikan perusahaan walau kecil, membantu beberapa organisasi nonprofit, dan mendirikan organisasi amal kecil-kecilan. Hubungan saya juga dengan teman-teman bisa dibilang baik karena saya ada waktu untuk menjaga hubungan-hubungan ini. Melihat karyawan saya bisa bertumbuh dan hidup dengan baik saya bahagia. Melihat tindakan-tindakan amal saya berguna untuk orang yang dibantu saya juga merasa berguna dan puas, membaca respon positif dari klien pun kadang membuat saya terharu. Menjadi lajang begini membuat saya bisa mengambil kelas apa saja yang menarik  karena saya punya cukup waktu dan saya memang suka belajar hal-hal baru. Tak sedikit juga orang yang bilang saya awet muda dan dengan bertambah umur menjadi semakin baik. Intinya kualitas hidup saya sangat baik, memuaskan, dan saya masih punya cukup waktu untuk diri sendiri.

Saya pikir, seandainya saya menikah di umur 20-an apakah saya bisa mencapai itu semua? Yakinkah saya bisa mendapatkan kebahagiaan serta kepuasan seperti ini dari suami? Apakah saya bisa mempunyai kualitas hidup yang saya punyai sekarang? Belum tentu. Dan kalau salah pilih suami pasti jawabannya “TIDAK”.

Maka saya amat bersyukur dengan perjalanan hidup ini. Bersyukur saya menolak tekanan dari keluarga dan bahkan masyarakat untuk menikah di waktu yang “ideal”. Saya masih percaya pada cinta dan pernikahan, hanya saja pada waktu yang tepat, dengan orang yang tepat. Saya tunggu itu dari Tuhan, sembari menjalani hidup ini dengan baik dan penuh. Seimbang, bukan? (*)

Baca Juga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Fill out this field
Fill out this field
Please enter a valid email address.
You need to agree with the terms to proceed

Menu