Belum move on sudah memulai hubungan baru

Belum Move On Sudah Memulai Hubungan Baru, Justru Menambah Luka Diriku

Kisah Utama

Urbanwomen – Aku Jihan, 22 tahun, buruh pabrik di Tangerang. Aku pernah mengalami kekerasan hubungan selama dua tahun. Kenal kurang lebih 2 bulan sebelum kami berpacaran. Dia memberiku kekuatan, obat luka hubunganku sebelumnya. Ketika itu aku belum move on sepenuhnya. Demi menghindarkan diri dari rasa sedih karena putus cinta, aku memilih untuk menjalin hubungan asmara dengan orang baru. Saat itu aku juga belum bisa membedakan mana hubungan yang sehat dan yang tidak. Pokonya orangnya baik dan perhatian maka hubungan itu akan baik-baik saja.

Ternyata sikapnya sangat kasar. Tidak terhitung kekerasan fisik yang kualami. Tapi setiap kali dia meminta maaf dan berjanji tidak akan mengulangi lagi. Aku luluh dan selalu memaafkannya. Kami juga sering bertengkar hanya karena masalah sepele, bukan masalah orang ketiga atau perselingkuhan. Karena merantau, aku tinggal sendirian di kontrakan. Beberapa kali kami bertengkar hebat sampai tetangga sekitar mendengar dan terganggu. Aku sangat malu, karena kami bertengkar seakan pasangan suami-istri.  Beberapa kali kami juga bertengkar di jalan. Malu sekali rasanya karena banyak yang melihat. Ada orang yang ingin memisahkan kami saat itu, tapi dia sangat marah jika ditegur orang lain.

Aku berusaha selalu ada untuknya, membantunya saat dia kesulitan. Saat dia diejek oleh teman-temannya karena motornya mogok, aku membelikannya motor memakai uang tabungan. Dia juga berjanji tidak kasar lagi padaku. Tapi ternyata hanya omong kosong belaka. Justru dia menggunakan motor yang kubelikan untuk mengantar pulang perempuan lain.  

Selama dia berbuat kasar, tidak ada keluargaku yang mengetahui. Aku takut membebani pikiran mereka, apalagi aku merantau. Hanya teman-teman yang tahu, mereka sering minta aku mengakhiri hubungan itu karena sudah tidak sehat. 

Setelah 2 tahun berpacaran dan ia semakin kasar aku benar-benar tidak kuat lagi. Dia semakin menjadi-jadi, seenaknya saja memperlakukan diriku.  Aku tidak pantas diperlakukan seperti itu. Kedua orangtuaku yang melahirkan dan merawatku sampai besar saja tidak pernah memukulku. Aku sadar, banyak sekali orang yang menyayangiku dengan tulus, tidak seperti dirinya. 

Akhirnya aku pulang ke kampung halaman. Semuanya kuceritakan pada keluargaku. Betapa kaget dan marahnya keluargaku saat itu. Sebelumnya, aku sudah sampaikan cerita itu pada pihak keluarganya, agar dia ditegur dan diberi pelajaran karena telah berbuat kasar padaku. Tapi memang tidak ada niatan baik dari keluarganya. Justru aku diblokir. 

Suasana saat itu semakin rumit, keluargaku ingin melaporkan dia pada pihak berwajib. Tapi aku tidak mau memperpanjang masalah. Aku sudah berdamai dengan diri sendiri, sudah memaafkan dia. Yang terpenting kini aku sudah lepas darinya dan kembali menjalani hidup dengan normal. Masih tertinggal sedikit luka di hati, tapi aku yakin semua akan segera berlalu. Aku harus benar-benar berdamai dengan diri sendiri terlebih dulu sebelum menerima orang baru. Aku tidak mau terburu-buru. Aku belajar lebih jauh mengenai hubungan yang sehat, sadar bahwa hubungan yang sehat seharusnya saling menghargai, tidak merendahkan, dan tidak kasar. 

Baca Juga: Berusaha Keluar dari Gaya Hidup Hedonisme, Demi Menyelamatkan Masa Depanku

Dari kejadian ini aku juga menjadi lebih terbuka pada keluarga terutama ibuku. Aku banyak bercerita tentang apa yang sedang kurasakan. Cara itu menjadi salah satu obat agar aku cepat move on. Tak lupa juga aku mendekatkan diri pada Tuhan. Memaksakan diri bertahan dalam hubungan yang toxic akan membuatmu terus berada di siklus hubungan yang tidak sehat. Jangan memulai hubungan sebelum diri sendiri sembuh, karena bisa membuat luka semakin dalam.

Sumber: Jihan, nama disamarkan, 22 tahun, di Jakarta

 

Baca Juga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Fill out this field
Fill out this field
Please enter a valid email address.
You need to agree with the terms to proceed

Menu