Teman curhat

Berawal dari Teman Curhat, Aku Terjebak Cinta dengan Pria Beristri

Kisah Utama

UrbanwomenAku Sarah, 34 tahun, karyawan perusahaan swasta di Jakarta. Di umurku sekarang aku mulai berpikir untuk menjalani hubungan serius, tak ingin main-main lagi. 

Aku pernah berkenalan dengan seseorang melalui aplikasi dating. Kami menjadi teman curhat yang baik, cerita tentang kesibukan masing-masing setiap hari. Nyaman sekali saling bercerita dengannya. Kebetulan kami masih satu daerah. Kami lantas bertemu, dan menjalani hubungan yang serius.Aku begitu mengaguminya, dia terbuka, penuh perhatian dan tidak pernah berkata kasar, senang melakukan hal-hal kecil yang membuatku merasa diperhatikan. Dia juga tepat waktu dalam beribadah. Aku jatuh hati. 

Setelah cukup lama menjalani hubungan, dia bilang dia menderita impotensi  yang membuat istrinya selingkuh dan mereka bercerai. Pengakuan yang kuanggap sebagai kejujuran terhadapku itu malah membuatku sempat ragu. Maukah aku menikah dengan laki-laki impoten? Tapi aku tidak menyerah begitu saja. Aku ajak dia berkonsultasi ke dokter, tapi dia menolak dengan alasan malu.

Aku berusaha membantunya untuk sembuh, mencoba berkonsultasi sendiri ke dokter melalui aplikasi sampai mendapatkan resep obat untuknya. Aku juga mencari tahu melalui artikel bahwa impotensi bisa disembuhkan. Aku tetap menjalani hubungan dengannya, bermaksud menemani dia sampai benar-benar sembuh. 

Ketika itu, dia mengajakku menginap di hotel. Aku bingung. Bukankah katanya dia impoten? Ketika kami mencoba berhubungan intim, tiba-tiba dia sembuh. Alasannya karena diriku dan dia juga rutin makan pisang agar cepat sembuh. Entah kenapa aku langsung mempercayainya.

Aku belum pernah melakukan hubungan intim, sehingga rasanya sakit sekali. Dia kecewa. Aku berkonsultasi ke dokter dan diberi obat pengurang rasa sakit ketika berhubungan intim. Obatnya terasa panas sekali di perutku. Tapi ini semua kulakukan demi dirinya, jadi aku merasa tidak masalah. Kami mencoba lagi, rasa sakitku sangat berkurang. Dia senang karena katanya berkat aku dia bisa sembuh setelah sekian lama. 

Semakin lama aku penasaran juga tentang kehidupannya. Sampai kutemukan foto istrinya di medsos. Kuhubungi istrinya, hanya untuk memastikan benar mereka sudah berpisah. Ternyata laki-laki itu berbohong. Semua ceritanya tentang istrinya yang selingkuh tidaklah benar. Dia juga tidak impoten. 

Tapi akulah yang disalahkan oleh keluarganya. Mereka marah sekali, dan tidak ada pembelaan sama sekali dari laki-laki itu. Dia malah memutarbalikan fakta, katanya akulah yang menggodanya karena butuh uang darinya. Padahal aku ini bekerja, bisa cari uang sendiri. Dia membuangku begitu saja dan merasa tidak bersalah sama sekali. Sementara aku terus-terusan diteror oleh keluarganya, terutama anak-anaknya. Mereka menghina, mengatakan bahwa aku perempuan miskin, tidak punya harga diri, dan masih banyak lagi. Keluargaku sendiri tidak ada yang tahu tentang itu. Hanya teman-temanku yang menyuruhku menjauhi laki-laki itu. Aku sangat marah dan ketika minta tanggung jawabnya dia bilang buat apa, memangnya aku hamil? Sakit sekali rasanya. Apalagi dia pernah beberapa kali mengajakku menikah. 

Kuambil langkah bagi diriku dengan jalan melapor dan minta perlindungan ke Komnas Perempuan melalui nomor telepon yang tertera di lamannya, karena aku terus-terusan diteror keluarganya. Aku juga takut sekali pada anak laki-lakinya, yang mengeluarkan pisau setiap kali menemuiku. Bahkan pacarku sendiri takut pada anaknya sendiri. Setelah itu aku dihubungi oleh Komnas Perempuan untuk membicarakan masalah ini langsung pada psikolog.

Lega sekali rasanya berbicara pada orang yang tepat. Aku merasa sangat dimengerti, tidak dihakimi. Proses berjalan, tapi mereka menjelaskan bahwa kasusku akan sedikit memberatkanku karena aku tidak hamil dan belum menikah. Kami melakukan mediasi, mencari jalan tengah, apa yang kumau darinya begitu pun sebaliknya. Prosedur selanjutnya yaitu menghubungi pihak laki-laki. Karena dia sulit sekali dihubungi, nomornya tidak aktif sehingga proses masih terus dilakukan sampai saat ini sambil menunggu langkah selanjutnya. Sampai sekarang aku masih menunggu panggilan ulang dari  Komnas Perempuan.

Kejadian itu membuatku trauma sehingga butuh wadah untuk bercerita, dan memakai jasa profesional. Pertama, aku diminta memaafkan diri terlebih dulu, menanamkan kalimat positif pada diri sendiri bahwa aku berharga. Kedua, melakukan hal yang aku suka agar pikiran teralihkan dari masalah itu. Ketiga, menuliskan di kertas kebaikan apa saja yang sudah kulakukan setiap hari, kemudian memasukkannya di tempat tertentu, agar ketika aku merasa tidak berharga dan kembali menyalahkan diri sendiri aku bisa membuka kertas-kertas kecil itu sampai aku menyadari aku sudah banyak berbuat baik. Kini kondisiku semakin membaik dan tidak lagi penuh amarah. Aku mulai berdamai dengan keadaan dan melupakan semuanya.

Baca Juga: Jangan Sembarangan Curhat : Tips Memilih Tempat Curhat yang Tepat

Aku juga belajar untuk tidak menghakimi diri sendiri. Aku berhenti menganggap lemah diri sendiri. Aku menjadi lebih peduli dan menerima segala kelebihan dan kekurangan yang kumiliki. Kita punya kebebasan untuk berkata Tidak jika melakukan sesuatu dengan keterpaksaan. Aku amat berharga dan berhak sekali untuk bahagia.

Sumber: Sarah, nama disamarkan, 34 tahun, di Jakarta

Baca Juga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Fill out this field
Fill out this field
Please enter a valid email address.
You need to agree with the terms to proceed

Menu