Berjuang Bersama Pasangan Melawan Trauma

Berjuang Bersama Pasangan Melawan Trauma

Pandangan Pria

Urbanwomen – Kehidupan pernikahan yang bahagia tidak bisa diwujudkan oleh salah satu pihak saja, harus oleh kedua-duanya. Menikahi orang yang kucintai dan telah cukup lama kukenal tentu saja merupakan keputusan besar yang kuambil secara sadar dengan satu harapan: melewati sisa hidup dengan bahagia bersama orang tercinta. Menikah di usia 31 tahun, aku mantap memilih perempuan berusia 26 tahun sebagai pasangan hidup.

Ketika masih berpacaran kami sangat jarang melakukan kontak fisik. Itu pun hanya sebatas memegang tangan atau pelukan singkat. Pacarku menolak kalau aku hendak mencium keningnya. Sebagai seorang laki-laki yang mencintainya dan memang tidak menginginkan hal-hal seperti itu secara berlebihan sebelum menikah, aku tidak masalah. Aku menghargai bila dia tidak bersedia. Aku paham mengenai pentingnya consent, sehingga aku tidak akan melakukan apa pun tanpa persetujuannya.

Namun, ternyata ada hal besar yang baru kuketahui ketika kami menikah. Seusai resepsi dan hendak beristirahat istriku dengan mata berkaca-kaca minta maaf sambil menceritakan sesuatu yang sangat mengejutkan. Selulus SMA dia pernah diperkosa di jalanan. Dia tidak pernah bercerita karena takut kutinggalkan. Dia masih trauma, dan minta agar kami tidak memaksakan hubungan seksual. Dia belum tahu apakah dia bisa.

Aku tercengang, tidak tahu harus berkata apa. Aku hanya bisa memeluknya erat dan mengatakan bahwa itu bukan masalah besar. Ya, mendapati kenyataan bahwa istriku pernah menjadi korban pemerkosaan aku sama sekali tidak kecewa karena dia sudah kehilangan keperawanannya. Aku justru sangat marah pada pelakunya, serta di saat bersamaan merasa sangat sedih dan kasihan pada istriku. Aku tidak kecewa karena bagiku menikah dengannya ialah menikahi diri dan jiwanya, lebih dari sekadar ingin mendapatkan tubuhnya.

Kami menjadi sangat sulit melakukan hubungan intim karena istriku masih sangat ketakutan, aku tentu tidak sampai hati melihatnya. Aku merasa kesabaranku sangatlah dibutuhkan untuk mengembalikan kondisi psikisnya. Oleh karena itu aku tak pernah lelah berusaha. Aku kerap kali menawarkannya untuk mendatangi psikolog, namun ditolaknya dengan alasan dia hanya butuh waktu. Sebagai orang yang kurasa cukup matang aku yakin dia tahu yang terbaik untuk dirinya dan aku hanya perlu mendukungnya.

Hampir 8 bulan berjalan, kami terus berusaha. Aku tahu dia juga berjuang keras melawan traumanya. Dari waktu ke waktu kami terus mengalami kemajuan. Aku benar-benar memperlakukannya dengan kasih sayang, kelembutan, dan tanpa paksaan. Membuatnya melepas ketegangan dan ketakutan adalah hal yang sangat sulit. Namun usaha keras kami akhirnya membuahkan hasil. Suatu hari kami bisa melakukannya untuk pertama kali. Sebuah sesi singkat yang aku tahu betul belum dia nikmati sepenuhnya, tapi setidaknya dia telah bisa melakukannya.

Sejak saat itu kami mencoba lagi dan lagi sampai akhirnya aku merasa dia bisa menikmati sesi intim kami. Butuh waktu dua tahunan baginya untuk benar-benar sembuh dari trauma masa lalu itu. Aku mencoba meyakinkannya bahwa aku menerimanya bersama masa lalunya dan karena itu dia juga harus bisa menerima luka masa lalunya. Aku tahu itu bukan hal mudah. Bahkan bagiku dia sangat luar biasa karena bisa pulih dalam waktu yang relatif singkat.

Memasuki usia pernikahan ketiga permasalahan itu sudah tidak lagi kami alami. Kami dapat melakukannya dengan senang hati serta atas keinginan kedua belah pihak. Sebagai suami aku tak pernah memaksakan keinginanku. Aku takut membangkitkan rasa traumanya. Aku dan keluarga besar berusaha selalu melindunginya sebisa mungkin. Aku tidak akan membiarkannya bepergian seorang diri ke luar rumah tanpa diriku atau seseorang yang aku percaya di sampingnya.

Lagi-lagi aku melihat semangatnya untuk bangkit. Dia bahkan menjadi pribadi yang lebih berani dari sebelumnya. Dia ikut pelatihan bela diri agar dapat menjaga diri dalam situasi terdesak tanpa diriku. Tidak hanya sampai di situ, dia kini berani berbagi pengalaman pahitnya pada orang-orang yang membutuhkan dukungan moril seperti dirinya dulu. Aku sangat bangga pada istriku. Dari perjuangan panjang kami aku belajar, bahwa dengan kekuatan cinta kasih, tekad kuat, juga dukungan dari orang-orang terdekat, seseorang perlahan dapat pulih dari traumanya.Sekali lagi aku bisa mengatakan, kebahagiaan yang kami capai saat ini adalah usaha kami berdua, bukan hanya darinya atau dariku. (*)

Baca Juga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Fill out this field
Fill out this field
Please enter a valid email address.
You need to agree with the terms to proceed

Menu