Dan Akhirnya Hidup Kita Akan Kembali ke New Normal?

Blog

Urbanwomen – Banyak yang sudah tidak sabar menunggu PSBB selesai. Habis itu, mau ngapain? Tapi benarkah sudah bisa normal? Atau kita perlu beradaptasi dengan the new normal? Yah, baru-baru ini ada kabar gembira yang datang dari Menko Perekonomian Airlangga Hartarto yang mengumumkan pembukaan kembali aktivitas ekonomi dan publik secara bertahap yang terbagi menjadi lima fase, yakni dimulai 1 Juni nanti. Pembukaan sekolah pada fase 3 (15 Juni), fase terakhir, yakni fase 5, akhir Juli atau awal Agustus seluruh kegiatan ekonomi sudah dibuka.

Senang? Tunggu dulu, Meski PSBB akan segera berakhir, namun kita belum bisa sepenuhnya lega, karena pandemi belum berakhir.

Menurut pandangan ilmiah, pandemi baru bisa disebut selesai setidaknya hingga vaksin ditemukan dan selesai diujicobakan, minimal memakan waktu 18 bulan sampai 2 tahun. Dengan catatan tidak terjadi pandemi lain. Di beberapa Negara pun memberlakukan hal yang sama. Misalnya saja kota Wuhan yang sudah lebih dulu membuka aktivitasnya setelah 68 hari lamanya lockdown, masih berlangsung protokol kehati-hatian tinggi agar infeksi gelombang kedua tidak terjadi.

Sejak beberapa minggu lalu sudah ramai copy-paste status di laman media sosial “Apabila karantina Covid-19 sudah selesai…” Mau ngapain-ngapain, ketemu siapa saja. Daftar rencana sudah dibuat. Bayangan-bayangan segala pekerjaan yang kita lakukan di era sebelum Corona, kembali terlintas. Tetapi bukankah hidup kita akan kembali normal? Tampaknya tidak.

Saat ini sedang ramai membahas fase “new normal”. Namun perlu diingat, pandemi masih ada. Ancaman gelombang berikutnya, masih mengintai. Orang Tanpa Gejala (OTG) bisa saja berpapasan dengan kita. Sebetulnya yang paling tepat dan aman adalah tetap #dirumahaja seperti yang kita lakukan selama beberapa minggu ini.

Seperti apa ‘new normal’ itu?

Banyak sumber yang telah menyatakan menulis tentang new normal, tentunya dari berbagai sudut pandang dan permasalahannya. Namun, kita tidak bisa menelan mentah-mentah informasi yang belum jelas karena kita tidak tahu akan seperti apa yang terjadi dilapangan. Seperti halnya berikut ini.

Untuk anak

Tidak menitipkan anak di daycare. Sharing dan tinggal dalam satu ruangan dengan banyak orang belum dianggap aman. Perlu dipikirkan alternatif lain bagi para orang tua bekerja yang tidak memungkinkan untuk meninggalkan anak di rumah. Misalnya, menitipkan anak di rumah nenek atau kerabat. Setidaknya, kita tahu riwayat kesehatannya.

Sekolah belum sepenuhnya buka. Meskipun Juni resmi dibuka, tampaknya masih akan diberlakukan sistem shift, sehingga anak tidak setiap hari masuk sekolah. Pembelajaran online akan menjadi metode umum hingga beberapa tahun ke depan. Selain itu, anak – anak yang mulai beranjak dewasa terutama yang SMP ke atas, mana bisa untuk jaga jarak sosial dengan teman-temannya. Mungkin peril kebijakan ketat dari pihak sekolah untuk meminimalisir penularan virus. Saat di sekolah tidak ada salim atau cium tangan lagi, kegiatan ekstrakurikuler, les atau klub pun masih akan lebih banyak berlangsung secara online, belum bisa melakukan kegiatan field trip di ruang publik. Dan hanya keluar rumah jika penting banget.

Bagi yang bekerja

Work from home, untuk pekerjaan –pekerjaan yang bisa dilakukan di rumah. Yeay, bebas commuting. Jaga jarak sosial akan jadi normal di kantor-kantor. Namun, apakah bisa menjamin setiap orang terbebas dari paparan virus ini? Mungkin work from home adalah pilihan yang tepat untuk saat ini hingga benar-benar normal kembali, ketimbang harus kembali ke kantor dan berinteraksi dengan sejumlah orang yang kita tidak tahu apakah sehat atau telah terinfeksi.

Pola hidup baru

Sudah koleksi masker kan? Membiasakan pakai masker jika keluar rumah adalah menjadi hal yang umum dilakukan setiap orang. Selain itu mencuci tangan dengan sabun sesering mungkin dan selalu sedia hand sanitizer setiap bepergian.

Tetap menjaga jarak di ruang publik, tempat perbelanjaan, dan transportasi umum. Di luar negeri, orang lebih memilih ke kantor dengan bersepeda, ketimbang berkereta api. Di sini, ya tetap harus naik KRL ke Jakarta, kalau rumah di pinggiran kota, rajin berdoa saja ya.

Menggunakan kartu sebagai alat bayar ketimbang uang tunai. Yang jelas ke tukang sayur, ke pasar, naik angkot masih pakai uang tunai. Jadi, hal ini harus dipikir dua kali kita ingin tempat-tempat tersebut.

Lebih sering berbelanja online. Keterusan kebiasaan selama PSBB, belanja segala kebutuhan sampai sembako pun online. Yang ada di warung tetangga, ya ke warung tetangga saja ya.

Tidak ada jabat tangan, apalagi cipika-cipiki dan peluk-peluk. Sebagai gantinya, menyatukan kedua telapak tangan di depan dada atau Namaste.

Baca Juga: Saatnya Memacu Karir di Era New Normal Usai Karantina

Itulah sedikit rangkuman tentang hidup kita yang akan kembali normal, karena dampak dari pandemi. Namun, itu semua belum bisa kita yakini bersama, mengingat pandemi covid-19 masih mengintai setiap orang dan hingga saat ini sejumlah korban masih terus berdatangan. Jadi, mungkinkan kita kembali ke new normal dalam waktu dekat ini? Mari kita sama sama berdo’a untuk diri kita dan bangsa ini.

Baca Juga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Fill out this field
Fill out this field
Please enter a valid email address.
You need to agree with the terms to proceed

Menu