Dari Saya, Untuk Saya

Dari Saya, Untuk Saya

Inspirasi Hati

Saya mengalami patah hati di awal tahun 2020. Orang yang saya harapkan ada dalam hidup saya tidak mengharapkan saya dalam hidupnya. Sakit sekali, bukan?

Saya mulai mengalami fase kehilangan. Mulai dari denial, tidak terima diperlakukan seperti itu. Saya merasa sangat tidak dihargai. Saya merasa tidak berguna. Saya mengurung diri dua hari di kamar kosan, benar-benar tidak berinteraksi dengan siapapun. Makan hanya saat siang hari dan selebihnya hanya berbaring di tempat tidur, mendengarkan lagu galau, dan menangis. 

Teman teman saya mengkhawatirkan keadaan saya dan memaksa saya untuk keluar. Sejenak saya bisa terhibur, tapi setelah sendirian lagi di kamar saya pasti menangis lagi dan lagi. Saya mencoba menjalin lagi hubungan kami, saya meneror dia untuk berbicara dengan saya. Yang saya dapat hanya penolakan. Saya merasa ini bisa diperbaiki. Hingga pada satu hari saya menemukan kejanggalan di akun Instagram saya yang membuat saya menyadari sesuatu. 

Sejak saat itu mungkin saya sudah memasuki fase anger. Emosi saya mulai membara terhadap dia yang ternyata hanya membohongi saya. Mungkin dia bermaksud agar saya tidak marah. But, lying is  lying, babe. Saya mengucapkan sumpah serapah terhadapnya ketika teman saya menyebut namanya. Tapi sepertinya itu hanya di mulut saja. Hati saya tetap sulit untuk membencinya. Begitu terus hingga emosi saya mereda dan saya mulai berandai-andai. 

Andai saya bisa menjadi pendengar yang baik… andai saya tidak menjalani hubungan jarak jauh… andai saya bisa bersamanya di sana… andai saya bisa terbang saat itu juga untuk bertemu dengannya… andai, andai, dan andai. Cuma angan-angan seseorang yang sedang patah hati. Tanpa saya sadari saya sudah berada di fase bargaining

Saya kehilangan kontrol diri, saya menjadi orang yang bukan saya seperti biasanya. Saya melalaikan kewajiban sebagai mahasiswa tingkat akhir. Bukannya tidak mencoba, saya terus mencoba. Namun seperti ada yang tertahan di hati, rasanya berat sekali. Setiap kali mengerjakan tugas kuliah saya menangis. Menangis di depan laptop, menangis juga  di depan umum. Hingga akhirnya saya putuskan untuk menyembuhkan diri terlebih dahulu agar semuanya baik-baik saja nantinya.  

Tentu tidaklah semudah menyembuhkan penyakit yang diakibatkan oleh bakteri yang hilang dengan cara minum antibiotik. Cukup lama saya di fase depression ini. Bahkan ketika saya pulang ke rumah orangtua saya masih sering menangis diam-diam dan tanpa alasan yang jelas. Saya bingung, entah kenapa patah hati kali ini sangat mengganggu. 

Sampailah saat ini saya merasa sudah baik-baik saja. Rasa berat di hati itu sudah hilang! Bahkan ketika mendengar namanya saja saya sudah tidak merasakan apapun. Yang saya pikirkan ketika mendengar namanya tinggal kenangan-kenangan indah. Tidak bisa dimungkiri bahwa saya sempat begitu bahagia ketika berhubungan dengannya. Tapi semua itu hanya tinggal kenangan saja. Saya tidak menyangka berhasil menerima semua kenyataan ini. Saya berhasil sampai ke tahap acceptance dengan proses yang cukup menguras tenaga dan pikiran.

Semua itu memakan waktu sekitar 3–4 bulan. Saya senang bisa mengakhirinya dengan baik. Menurut saya cara untuk sembuh dari patah hati adalah penguasaan diri. Ketika kita bisa mengontrol diri sendiri, memahami apa yang membuat kita sedih atau senang, maka prosesnya akan berjalan begitu saja. Tidak lupa juga untuk membagikan cerita ke orang lain. Itu sangat membantu. Tidak perlu seutuhnya, mana yang layak untuk dikonsumsi orang lain saja.

Beberapa hal yang saya elajari dari patah hati:

  • Dari setiap orang yang datang ke hidupmu Tuhan pasti menitipkan pesan kepadamu melalui dia. Ini menjadi alasan saya terus bersyukur kepada Tuhan.
  • Setika sesuatu terjadi tidak sesuai dengan harapan kita, hanya diri sendirilah yang bisa kita andalkan. Kita tidak bisa mengubah orang lain agar sesuai dengan harapan kita, tapi diri kita sendiri bisa berubah dan itu tidak akan melukai orang lain.

Sumber: Sarah Florensia

Baca Juga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Fill out this field
Fill out this field
Please enter a valid email address.
You need to agree with the terms to proceed

Menu