Mengejar ambisi

Demi Mengejar Ambisi, Aku Hampir Kehilangan Teman, Keluarga dan Diri Sendiri

Kisah Utama

Urbanwomen – Aku suka sekali belajar. Orangtuaku selalu mendorong untuk mendapatkan nilai bagus. Jika nilaiku menurun, walau hanya satu mata pelajaran aja, mereka tidak puas. Bersantai membuatku merasa buang-buang waktu saja.

Setelah menyelesaikan kuliah, aku mendapatkan pekerjaan di perusahaan asing. Betapa senangnya aku, karena beberapa temanku juga diterima di perusahaan besar. Aku sempat merasa iri dengan pencapaian mereka. Aku jadi termotivasi untuk mencapai sukses di usia muda. Mulailah aku giat mencari side job dan mengabaikan waktu istirahat. Aku sempat menganggap jabatan dan keberhasilan finansial adalah tolok ukur sukses dalam hidup. Alhasil, aku semakin terpacu untuk menghasilkan uang sebanyak-banyaknya agar bisa membeli kendaraan pribadi, dan lain-lain. Orang-orang sekitarku bangga dengan apa yang kulakukan saat itu. 

Awalnya semua berjalan sangat lancar, tapi semakin lama ternyata beban pekerjaanku bertambah. Bahkan, waktu di malam hari yang seharusnya digunakan untuk mengerjakan side job kupakai untuk mengerjakan pekerjaan kantor. Tanpa kusadari, kesibukanku itu membuatku jarang bersosialisasi atau sekadar menanyakan kabar teman-teman melalui chat dan telepon. Aku juga sempat merasa iri pada temanku yang lebih sukses. Ada pula perasaan ingin menjadi orang paling sukses di lingkunganku. 

Aku jadi tidak punya banyak waktu dengan keluarga. Saat ibuku minta diantar pergi, beberapa kali aku juga kutolak. Aku hanya bisa mengantarnya keluar sebelum atau sesudah bekerja. Aku memang berhasil mendapat penghasilan lebih dan membeli barang yang kuinginkan, tapi diriku seperti tidak punya teman.

Setelah kurang lebih setahun, aku semakin mendapat banyak tekanan dari pekerjaan. Akibatnya aku tidak punya waktu untuk kesenangan pribadi walau hanya sekadar me time. Muncul rasa khawatir berlebih tentang pekerjaanku, apakah aku sudah benar mengerjakannya, menjadi lebih sensitif jika diberi kritik oleh rekan kerja. 

Karena menyadari dampak buruknya, aku mulai mengurangi pekerjaan sampingan. Aku mencari side job pengganti yang lebih santai, sehingga waktu istirahatku di malam hari tidak sepenuhnya terpakai. Lalu, aku mulai bisa mengurangi membandingkan diri dengan orang lain. Sadar bahwa setiap orang pasti sukses dengan caranya sendiri, aku cukup fokus pada pencapaianku saja. 

Baca Juga: Mengenal Hustle Culture: Budaya Kerja yang Bikin Burnout

Aku mulai berkomunikasi kembali dengan teman lama, memperbaiki hubungan, walau sekadar bertemu untuk mengobrol-ngobrol atau menonton film. Ketika sedang melakukan pekerjaan berat, aku akan menyempatkan waktu beristirahat sebentar. Setelah tubuhku mulai normal kembali, aku lanjut kembali fokus bekerja. Meski terkadang aku masih bekerja saat weekend, aku bisa menyempatkan waktu berkumpul bersama orangtua di rumah.

Jangan jadikan keberhasilan orang lain sebagai patokan atau target untukmu, apalagi sampai mengabaikan pencapaian diri sendiri. Fokuslah dengan kemampuan diri sendiri, dan mulailah membangun mimpi dan target. Setiap orang lahir dengan porsi gagal dan porsi berhasilnya masing-masing.

Sumber: Ani, 27 tahun, nama disamarkan, di Jakarta

Baca Juga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Fill out this field
Fill out this field
Please enter a valid email address.
You need to agree with the terms to proceed

Menu