Notice: fwrite(): write of 571 bytes failed with errno=122 Disk quota exceeded in /home/urbanwom/public_html/wp-content/plugins/wordfence/vendor/wordfence/wf-waf/src/lib/storage/file.php on line 43
Dia Mendiamkanku Lalu Pergi, Aku Menyalahkan Diriku Sendiri – Urban Women
Mendiamkanku

Dia Mendiamkanku Lalu Pergi, Aku Menyalahkan Diriku Sendiri

Kisah Utama

Urbanwomen – Namaku Vika, 28 tahun, karyawan swasta di Surabaya. Aku pernah diperlakukan dengan dingin oleh laki-laki yang merasa aku sudah mengecewakannya. Dion sudah menunjukan ketertarikan padaku sejak kami berkenalan melalui apilkasi dating. Kuanggap dia terbuka, obrolan kami nyambung. Ketika itu aku sedang dekat dengan orang lain yang lebih lebih memberi kepastian, tapi orangnya tidak terbuka dan aku tidak bisa lanjut dengannya setelah 3 bulan berhubungan. Dion sendiri lantas menjalani hubungan dengan perempuan lain dan ingin segera menikah. Kami saling mendoakan agar hubungan dengan pasangan masing-masing langgeng.

Singkat cerita, Dion memberi kabar pernikahannya dibatalkan. Dia menceritakan perilaku pacarnya. Aku mencoba memberi masukan dan solusi. Setelah kami bertemu, Dion mengajakku untuk memulai hubungan kembali.  Masuk bulan ketiga baru aku tahu ternyata dia masih menyimpan dendam pada mantannya. Aku mengingatkan untuk melupakan masa lalu, lebih baik memikirkan masa depan kami saja. Tapi dia malah berubah dingin. Tiap kali aku membahas sesuatu yang lebih serius dia selalu menghindar. Memang kami bekerja di kota berbeda. Sampai tiba-tiba dia memblokirku nomor dan medsosku, meninggalkanku begitu saja. Aku hanya menyuruhnya move on dan lebih memikirkan masa depan. Apa aku salah? Aku tersiksa. Dia mendiamkan aku sebagai respon kemarahan atau kekecewaan, atau silent treatment. Itu lebih menyakitkan daripada diberi kritikan pedas. 

Aku sudah berusaha menghubungi beberapa temannya, tapi tetap tidak ada jawaban. Silent treatment dalam suatu hubungan membentuk kekerasan emosional. Keheningan terjadi dalam waktu yang cukup lama dalam hubunganku. Aku sempat menyalahkan diri sendiri, tapi tetap tidak menemukan letak kesalahannya. Entah dia itu jenuh dengan sikapku, atau apa. Yang jelas dia tidak pernah mengkomunikasikannya. Aku hanya bisa bertanya-tanya pada diri sendiri. 

Aku sadar, aku tidak bisa menghalangi kebahagiaan seseorang. Mungkin dia memang sudah tidak nyaman dengan hubungan kami sehingga pergi begitu saja. Ketika itu aku mulai belajar mengikhlaskan, jika memang dia ingin pergi, kurelakan. Kusudahi hubungan itu karena tidak pernah ada ujungnya. Sudah cukup lama aku menyalahkan diri sendiri. 

Beruntung aku memiliki support system. Aku dikelilingi oleh sahabat-sahabat yang selalu mendengarkan keluh kesahku. Sesulit apapun, betapa kecewanya aku pada seseorang, aku yakin bisa bangkit. Untuk melupakan, aku memperbanyak kegiatan positif, seperti mengunjungi panti asuhan untuk meningkatkan rasa syukur.

Baca Juga: Waspadai, Kekerasan Bisa Terjadi Saat Pacaran!

Pengalamanku itu mengajarkan agar kita tidak terlalu cepat memutuskan sesuatu dalam hubungan meski sudah saling kenal. Apabila ada sakit hati, lebih baik sembuhkan diri dulu, berdamai dengan diri sendiri. Bangun masa depan dengan orang baru. Jangan bebankan masa lalumu pada orang baru. Kesalahan apapun yang pasangan kita lakukan, lebih baik bicarakan, komunikasikan secara terbuka. Jangan pergi begitu saja tanpa menjelaskan apapun, karena hanya akan berujung pada menyalahkan diri sendiri. Alih-alih menyelesaikan masalah, tindakan mendiamkan pasangan justru bisa membuat masalah semakin rumit.

Sumber: Vika, 28 tahun, di Jakarta

 

 

Baca Juga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Fill out this field
Fill out this field
Please enter a valid email address.
You need to agree with the terms to proceed

Menu