Dia-Menularkan-Banyak-Energi-Positif-

Dia Menularkan Banyak Energi Positif, Membuatku Terus Bertumbuh

Kisah Utama

Urbanwomen –

Namaku Risa, 22 tahun, creative content officer di Jakarta. Aku menghabiskan waktu tidak sebentar dan perjuangan bersama untuk menciptakan hubungan yang sehat. Kami berbeda 2 tahun, dia lebih muda. Dia baik, realistis, dan dewasa. Yang terpenting, dari awal pacaran dia bisa akrab dengan keluargaku. Kami sudah menjalani hubungan selama 3 tahun. Saat masih bersekolah, sudah terlihat dia pekerja keras, buka usaha kecil-kecilan, jual pulsa dan lain-lain. 

Menjalani hubungan yang sehat bukan berarti kami tidak pernah bertengkar. Di awal pacaran, masih ada beberapa perilaku yang perlu saling diperbaiki. Kami butuh banyak penyesuaian. Misalnya, dulu dia minta aku sering berkabar. Sedangkan aku bukan tipe orang yang terus-terusan memberi kabar, apalagi saat sedang fokus bekerja. Aku tidak bisa mengubah diriku menjadi seperti yang dia mau. Tapi bukan berarti aku menolak keinginannya sepenuhnya demi hubungan yang lebih baik. Kami berdiskusi, perlahan aku mencoba membiasakan diri untuk memberi kabar walau tidak setiap saat, sesempatnya saja kalau aku sedang bekerja.  Dia mengerti, dan tidak menuntutku lebih. 

Dulu, sering kali kami bertengkar hanya karena masalah komunikasi. Aku suka travelling. Berhubung teman-temanku lebih banyak laki-laki, aku naik gunung bersama mereka saat itu tanpa ada teman perempuan sama sekali. Ketika dia tahu dia sempat kesal Sebetulnya, dia tidak melarangku pergi dengan lawan jenis, hanya saja dia perlu kabar dariku. Semenjak kejadian itu kami sempat tidak berkomunikasi selama sebulan. Setelahnya dia menghubungiku dan kami berdiskusi tentang masalah itu. Dari situ kami paham, bahwa memberi kabar itu penting tak hanya untuk dia tapi juga buat orangtuaku agar mereka tidak khawatir.

Setiap ada masalah, kami selalu berusaha untuk berdiskusi, membicarakannya baik-baik. Tapi memang perlu ruang masing-masing terlebih dulu sebelumnya. Tak harus diselesaikan saat itu juga, kami selalu mencari suasana yang pas, agar tidak mengikuti emosi. 

Dia salah satu support system bagiku selain keluarga. Saat aku hampir menyerah pada keadaan, dia selalu mendukungku untuk bangkit. Seperti ketika kuliah, aku terseret masalah temanku hingga hampir kena skors. Saat itu aku ketakutan sekali. Bagaimana kalau orangtuaku tahu dan kecewa. Dia menguatkanku selama sidang penentuan sanksi bagiku.  Dia menyemangati, bahkan menemani saat sidang.

Saat aku kehilangan rasa percaya diri, dia membuatku percaya diri kembali. Berat badanku pernah naik sampai kegemukan, banyak orang mengomentari, sampai aku kehilangan percaya diri, tak mau lagi berpenampilan rapi dan menarik.  Aku pun berdiet cukup ekstrem, tidak makan nasi dan banyak olahraga. Pacarku tahu upayaku agar berat badanku stabil kembali. Cuma dia selalu mendukung. Banyak sekali kalimat positif yang dia lontarkan padaku untuk mengembalikan rasa percaya diri yang hilang. Sering memanggilku cantik, dan dia suka apa adanya diriku walau saat itu aku gemuk. Tidak banyak menuntut seperti orang lain. Tapi dari situ justru aku sadar biar bagaimanapun kesehatanku sangat penting. 

Selain suka travelling, aku juga suka sekali makeup. Ada segelintir orang yang bilang kalau makeup-ku terlalu tebal, dan lain-lain. Tapi dia selalu bilang agar aku melakukan apa yang kusukai selama itu bikin aku happy dan merasa positif. 

Banyak sekali perubahan positif yang terjadi pada diriku selama menjalani hubungan dengannya. Aku jadi rajin memberi kabar kepada kedua orangtua tiap bepergian. Aku juga jadi lebih akrab dengan keluargaku sendiri karena dia sering berkunjung ke rumahku dan mengobrol bersama. 

Baca Juga: Apakah Tetap Memfollow Mantan di Media Sosial Itu Sehat?

Karena sudah saling merasa menemukan pasangan yang tepat, kami memutuskan untuk menjalankan usaha bersama. Sambil menunggunya lulus kuliah dan mendapatkan pekerjaan tetap. Sampai saat ini, usaha kami masih berjalan. Kami juga jarang sekali bertengkar karena sudah saling mengerti satu sama lain. Meski saling membutuhkan, kami tetap menjaga ruang masing-masing dan aku tidak menjadikan dia sumber kebahagiaanku. Kami tetap melakukan hobi masing-masing dan tidak pernah saling melarang. 

Jika ingin mendapatkan hubungan yang sehat, belajarlah untuk saling memahami, bertumbuh bersama. Saling terbuka, jika ada hal yang membuatmu tidak nyaman bicaralah dan berikan alasan yang logis. Jika saat sendiri kamu sudah bahagia, maka saat berpasangan harusnya bahagianya jadi double ya.

Sumber: Risa, nama disamarkan, 22 tahun, di Jakarta

Baca Juga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Fill out this field
Fill out this field
Please enter a valid email address.
You need to agree with the terms to proceed

Menu