Mengatur pasangan

Dia Merasa Berhak Mengendalikan Hidupku

Kisah Utama

Urbanwomen – Namaku Nata, 23 tahun, mengajar les privat, asal Palembang. Aku pernah punya pacar pemarah yang senang mengendalikan hidupku sampai aku tidak punya privasi. 

Kami sempat putus, tapi kemudian nyambung kembali. Aku menerimanya kembali karena kupikir dia bisa berubah. Ternyata tidak. Aku jadi terhambat untuk berkembang, tidak bisa mengerjakan hal-hal lain yang lebih penting. Aku baru saja lulus kuliah dan sedang mencari pekerjaan tetap, tapi sulit sekali mendapat pekerjaan  karena aku selalu dituntut untuk mengabarinya setiap saat, membuatku tidak fokus. Aku lebih mementingkan dia, membuat surat lamaran pekerjaan untuknya sampai kepentingan diri sendiri untuk mendapatkan pekerjaan jadi terabaikan. 

Ketika aku sendiri sedang sibuk cari pekerjaan, melamar ke mana-mana sehingga tidak bisa membalas chat-nya dengan cepat, dia menuduhku berbuat macam-macam. Setiap kali aku terlambat mengabari dia menuduhku selingkuh. Dia selalu minta screenshot chat-ku dengan teman laki-laki, minta aku bersumpah demi Tuhan tidak ada chat yang kuhapus.  

Aku tertekan, dan tidak bahagia. Aku sangat kesal dan sempat memberanikan diri untuk bertanya kenapa dia seperti itu. Alasannya dia belum berdamai dengan masa lalunya, dan itu berimbas padaku. Dia takut kehilangan, sehingga menjadi posesif dan mengatur semua kegiatanku. Dia kuliah sekaligus bekerja, aku sering membantunya mengerjakan tugas. Apapun yang dia mau kuturuti. Ketika ada keluargaku sedang sakit, dia tidak menanyakan kabar dan tetap menuntutku memberi kabar. 

Aku bertahan karena kupikir tidak ada yang mau menerima diriku selain dia. Belum lagi lingkunganku yang hampir semuanya punya pasangan. Akhirnya aku memaksakan diri menerima pasangan yang toxic. 

Baca Juga: Beberapa Pasangan ini Buktikan Hubungan Sehat itu Menyenangkan

Sebelum mengakhiri hubungan dengannya aku sempat minta masukan ibuku. Menurut ibuku orang seperti itu tidak bakal bisa berubah. Apalagi dia juga pernah selingkuh saat menjalani hubungan dengan mantannya. Apalagi yang mesti kubanggakan darinya? Tidak ada. Aku juga percaya hubungan kami bisa mengarah pada kekerasan fisik. Setelah bubar, sempat ada rasa kesepian dan aku berpikir apakah lebih baik aku menerimanya kembali. Tapi kusibukkan diri dengan mengajar les privat Bahasa Inggris dan mencari pekerjaan tetap. Banyak sekali hal penting yang terlewat saat bersamanya, terutama karirku yang sempat terhambat. Aku kehilangan diri sendiri dan dipenuhi rasa takut terus-menerus.

Aku sadar, pasangan yang baik adalah yang bisa menuntunku menjadi lebih baik, bukannya banyak menuntut. Lebih baik sendirian tapi lebih bahagia dan bisa menjadi diri sendiri.

Sumber: Nata, nama disamarkan, 23 tahun, di Pelembang

 

 

Baca Juga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Fill out this field
Fill out this field
Please enter a valid email address.
You need to agree with the terms to proceed

Menu