Diam-Diam Ayah Menikah Lagi, Aku Belajar untuk Memaafkannya

Kisah Utama

UrbanWomen – Aku anak tunggal dari keluarga sangat sederhana. Ibuku asisten rumah tangga, ayahku bekerja serabutan. Meski demikian aku bangga karena keluargaku harmonis. Aku yang lebih dekat dengan ayahku suka bercerita berbagai hal padanya. Aku terbuka soal apapun, sampai soal asmara sekalipun. Aku bangga sekali punya orangtua seperti mereka. 

Tapi semuanya berubah ketika aku lulus SMK. Perekonomian keluargaku bertambah buruk. Kami sampai menjual barang-barang di rumah. Ibuku terpaksa bekerja di dua tempat sekaligus untuk bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari. Seringkali aku melihatnya kelelahan. Hampir setiap hari, jam 8 malam ibuku sudah tertidur pulas. Lelah membuat hubungan orangtuaku tidak harmonis lagi. Ayahku menjadi jarang pulang dengan alasan kerja. Semula ibuku tidak curiga, tapi lama-kelamaan dia merasa ayahku sering menelepon seseorang diam-diam. Tiap kali ditanya baik-baik, ayahku malah marah sekali. Sampai suatu ketika ada seorang perempuan menghubungiku dan mengaku sebagai pacar ayahku. Aku tidak marah saat itu, karena dia juga tidak tahu bahwa ayahku sudah berkeluarga. Ketika ayahku kutanya, dia marah besar padaku.

Setelah itu kukira semuanya selesai, aku memaafkan dan menegur ayahku. Tapi mereka tetap diam-diam melanjutkan hubungan. Aku tahu dari kakekku, karena ayahku meminta restunya untuk menikahi perempuan itu.  Aku marah sekali dan kecewa, sementara ibuku tidak tahu apa-apa. Aku takut dia stres sehingga aku berusaha menyelesaikan sendiri dengan berdiskusi dengan ayahku. Dia tetap mementingkan perempuan itu, sehingga keluarga ayahku berusaha menjelaskan pada ibuku. Apalagi karena ayahku dan perempuan itu sudah menikah siri.

Aku jadi membenci ayahku. Seketika hubunganku dengannya hancur begitu saja. Aku sama sekali tidak menegurnya hingga berminggu-minggu. Ibuku mau tidak mau harus menerimanya karena tidak ingin bercerai dan ingin mempertahankan rumahnya. Aku merasa hanya hidup berdua dengan ibuku. Ayahku tidak pulang di hari-hari besar seperti Idul Fitri, Idul Adha, tahun baru, dan lebih memilih bersama istri barunya. Ibuku yang tidak pernah merepotkan ayahku menerima tanpa banyak menuntut justru mendapat balasan pengkhianatan. 

Aku yang cuma bisa belajar menerima kenyataan menguatkan ibuku seperti kata ibuku sendiri. Butuh waktu berbulan-bulan untuk memperbaiki hubunganku dengan ayahku. Aku menjadi sering menangis tanpa sepengetahuan ibuku. Tapi aku belajar untuk menegur ayahku, sampai aku berada di titik aku tidak boleh terus-menerus memikirkan masalah, terima saja, lalu fokus pada hal yang lebih positif. 

Baca Juga: Aku Menjadi Tulang Punggung di Keluarga yang Tidak Harmonis

Aku mulai mendapatkan pekerjaan yang sesuai. Disibukkan dengan pekerjaan dengan lingkungan pertemanan yang positif, kini hubunganku dengan ayahku semakin membaik. Hanya saja, aku belum pernah bertemu dengan istri keduanya. Tapi setidaknya aku sudah bisa menerima kenyataan dan berusaha memperbaiki hubunganku dengan ayahku.

Aku mengerti sekarang, bagaimanapun ayahku adalah seorang manusia biasa yang bisa berbuat salah. Memaafkan orangtua adalah langkah pertama untuk mendapatkan kebahagiaan, penerimaan, dan kedewasaan. Memang tidak mudah dan bisa membekas, tapi biar bagaimanapun ayahku adalah pahlawan dalam hidupku. Dia juga sudah berusaha keras membesarkanku. Sudah waktunya untukku menjadi lebih dewasa dalam menyikapi berbagai masalah kehidupan. 

Sumber: Erna, 25 tahun, nama disamarkan, di Jakarta

 

 

Baca Juga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Fill out this field
Fill out this field
Please enter a valid email address.
You need to agree with the terms to proceed

Menu