Dua Kali Terjebak Dalam Hubungan Beracun

Dua Kali Terjebak Dalam Hubungan Beracun

Cinta & Relasi

Urbanwomen – Aku Natallia, single parent berumur 42 tahun dengan 4 anak. Aku berasal dari keluarga broken home, tidak mendapat kasih sayang sepenuhnya semasa kecilku dulu. Setelah pernikahan pertamaku gagal aku sangat berharap pernikahan keduaku adalah yang terakhir untukku. Tapi aku justru mendapat perlakuan yang tidak semestinya. Ya, di sinilah awal mulanya aku mengalami toxic relationship, suami keduaku sangat kasar, verbal maupun non verbal. 

Sejak masih pacaran sebenarnya sudah terlihat. Tapi aku terus memaafkannya dan berharap nantinya dia akan berubah. Aku menikah dengannya dan mencoba menerima sikapnya. Ternyata langkahku itu salah. Dia semakin kasar. Aku sering dipukuli, tanpa aku pernah bercerita pada siapapun, termasuk ibuku. Aku takut menambah beban pikiran ibuku. Kusimpan semuanya sendirian selama 9 tahun, padahal beberapa kali juga anak-anak melihat. Dia juga berselingkuh, tanpa pernah mau mengaku.  Cintaku besar padanya, ada pula anak-anak yang membuatku bertahan. Tapi aku mulai berpikir, jika seperti ini terus, tentu tidak baik untuk kesehatan mental anak-anak. 

Puncaknya adalah ketika aku mengalami keretakan di tulang rusuk akibat dipukuli. Kuputuskan untuk mengakhiri semuanya. Saat itu, aku tetap tidak memberi tahu keluarga, sampai anakkulah yang menceritakan semuanya pada ibuku.  

Beberapa tahun kemudian aku bertemu seorang laki-laki, aku merasa punya  banyak sekali kesamaan. Obrolan dan diskusi kami nyambung.  Aku, dibutakan oleh cinta untuk kedua kalinya. Dari semula biasa saja, lama-kelamaan dia menjadi orang yang sangat posesif dan kasar. Dia pernah menuduhku yang tidak-tidak ketika aku harus bekerja berdua dengan rekan kerjaku. Dia sampai bisa minta video call ketika aku meeting. Aku merasa diriku bukanlah aku yang sebenarnya. Aku juga menjadi pribadi yang kasar, sama seperti dirinya, tiap kali kami bertengkar.  

Ku akhiri hubungan itu setelah berjalan kurang lebih 1 tahun. Aku tidak mau mengulang pengalaman pernikahanku. Beberapa kali dia mengajakku untuk kembali menjalin hubungan tapi aku menolak. 

Seluruh pengalaman itu membuatku sekarang menjadi pribadi yang jauh lebih baik. Kini aku semakin dekat dengan Tuhan. Ya, ketika semuanya diambil bertubi-tubi dariku, aku sadar hanya Tuhanlah tempatku bergantung. Setelah mencoba memperbaiki semuanya, berusaha tidak mengulangi kesalahan yang sama, aku malah diberi kepercayaan menjalankan proyek yang cukup besar di pekerjaanku. Keuanganku pun kembali stabil. 

Baca Juga: Selamat Tinggal, Toxic Relationship!

Pelajaran yang kudapat dari pengalaman-pengalaman itu ku terapkan juga dalam kehidupanku terutama untuk pola asuh anak-anakku. Aku tidak ingin mereka menjadi seperti aku dulu ketika kecil, kekurangan kasih sayang dan perhatian sehingga sulit terbuka kepada orangtua. Aku menjadi pendengar yang baik untuk mereka, apapun yang mereka ceritakan aku tidak menyalahkan atau menghakimi mereka. Termasuk soal percintaan, mereka tak sungkan bercerita dan minta pendapatku. Kini aku bisa memusatkan perhatianku untuk bekerja dan mendidik anak-anakku sampai kelak mereka sukses, dan agar pengalaman-pengalaman dalam hidupku tidak usah terjadi pada mereka.

Sumber: Natallia Harijanto

Baca Juga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Fill out this field
Fill out this field
Please enter a valid email address.
You need to agree with the terms to proceed

Menu