Ekspektasi Saat Single & Realita Pernikahan Yang Kujalani Penuh Kejutan

Cinta & Relasi

“Dalam pernikahan setiap hari adalah pelajaran, akan selalu ada pembelajaran baru di dalamnya”

Ekspektasi Waktu single

Dulu saya ngebayanginnya enak kali ya kalau sudah menikah saya bisa satu atap sama pria yang saya cintai dalam ikatan pernikahan, lalu berkuranglah air mata karena kerap merasakan kecewa saat berpacaran jadi ekspektasinya kalau nikah mungkin bisa lebih bahagia karena sudah punya terikat. Yang pasti kalau menikah berarti, sudah mendapat restu Tuhan dan orangtua. Ada tempat sharing yang siap mendengarkan selalu pastinya dan tetap bisa bekerja  sambil mengurus anak dan rumah tangga. Wuuuiiih ekspektasinya sempurna.

Nah sudah punya ekspektasi begitu saya pikir saya musti bersikap setidaknya ekpektasi tersebut sedikit banyak bisa terwujud. Saya mengusahakan saat masih single dulu itu untuk bisa menahan diri. Apa aja yang di tahan hawa nafsu saat masa pacaran, karena saya dan pasangan melewati masa pacaran cukup lama. Kok bisa lama tapi nggak ngapa-ngapain masa iya? Iya saya ngalamin sendiri kok heehee. Pacaran saya dan pasangan saat itu saya usahakan yang sehat-sehat aja. Mungkin kaya nggak masuk akal, tetapi atas izin Tuhan, saya dan pasangan bisa melewatinya sampai pada akhirnya kami menikah. Kalau ketemu paling banter nonton film di bioskop itupun rame-rame sama sahabat yang lainnya.

Kalaupun pergi jalan-jalan keluar kota itu juga rame-rame bareng keluarga besar dan kami menjauhkan mengunjungi tempat-tempat yang sekiranya hanya menyisakan kami berdua, karena kita tahu ini pasti akan terjadi jika kita menyepakatinya. Saat itu saya dan pasangan nggak menyatakan diri pacaran, tetapi sahabatan dekat yang saling tahu kalau di hati kita ada rasa, jadi saling jaga. Hubungan ini pun sudah di ketahui keluarga masing-masing karena saya dan pasangan menerapkan sistem keterbukaan, bukan hanya terbuka mengenai apapun pada diri saya saja tetapi juga pada orangtua kami. Jadi kita tidak menjadi orang lain, melainkan jadi bagian diri kita sendiri. Saya nggak lupa dan selalu ingat pesan orangtua kami untuk selalu melibatkan Tuhan dan menjalani segala sesuatu dnegan mencari berkah dan restu Tuhan, bahwa hubungan ini nggak lain harus sebagai bagian bertumbuh bersama menjadi pribadi yang bisa mendekatkan kami berdua pada-NYA BUKAN malah menjauhkan salah satu dari kami pada Tuhan.

Pernah dulu, ketika ribut besar kami alami, orangtua sampai tahu berkali-kali masalahnya, hingga mereka harus terlibat untuk menjadi mediator kami heeheee…. Karena kami sudah seperti satu keluarga, saya dan pasangan pun sudah saling tahu tabiat satu-satu di keluarga besar kami masing-masing. Ayah dia begini, Mama dia begitu, Ibu saya begini bapak saya begitu saya dan dia sudah saling tahu. Sempat kepikiran aduh bayangin pernikahan saya sendiri sudah bisa saya lihat ketika masa penjajakan tersebut, tetapi apakah membuat saya takut? Nggak, ini malah membuat saya dan pasangan jadi terus saling belajar perbaikan diri ketika menghadapi konflik saat masa penjajakan. Apa yang ditunggu pacaran sampe lama begitu ? ada hal-hal yang saya dan pasangan musti rencanakan dia harus beres dulu kuliah, kita berdua harus kumpulin dulu uang, bukan buat resepsi tetapi buat bekal ketika awal menikah, memberekan dulu segala urusan yang kita pingin ketika saya dan dia nikah udah nggak ada lagi urusan masa lalu yang nantinya bisa menjadi beban bersama karena pasangan saya percaya bahwa urusan dan problem baru akan menanti saat saya dan dia sudah menikah. Makanya kami selesaikan dulu urusan yang belum kelar, jadi pas nikah sudah siap menyambut kehidupan baru, kehidupan kisah cinta yang sebenarnya dengan segala masalah, tuntuan hidup dan tanggung jawab besar yang akan kami berdua emban.

Realita Pernikahan

Akhirnya saya pun  menikah setelah penjajakan cukup lama itu heehee…

Lama nggak masalah, ini mampu membentuk karakter kami sehingga saat menikah kami sudah saling tahu karakter, sudah kenal diri sendiri maunya apa dan bagaimana, kami juga saling tahu cara kami mengelolah emosi serta bagaimana menanggapinya dan kami juga sudah saling tahu kekurangan dan kelebihan masing-masing.

Kenyataanya memang setelah menikah beragam masalah baru pernah menghampri kami tanpa disangka-sangka. Suami saya di PHK dari pekerjaannya, sementara sambil menunggu dia  mendapatkan pekerjaan saya yang memang setelah menikah tetap bekerja, harus membantu suami mencukupi kebutuhan rumah tangga sambil terus mendukungnya agar ia bisa mendapatkan pekerjaan kembali. Meski hanya saya yang bekerja saat itu, ia tetap tahu tanggung jawabnya, sambil melamar-lamar pekerjaan ke berapa perusahaan,  ia bekerja sampingan sebagai driver ojek online sambil juga membantu teman-tema satu almamater membangun bisnis Consultant pengembangan jaringan website. Keuntungannya lumayan meski pendapatannya tidak tiap bulan, tetapi ini membuktikan bahwa dia memang pekerja keras dan tahu tanggung jawabnya sebagai kepala rumah tangga, saya sangat menghargainya dan ia pun juga tidak malu atau gengsi untuk mengerjakan pekerjaan di luar profesinya.

Realitanya makin bertambah besar saat saya akhirnya dinyatakan hamil, disinilah gemuruh emosi saya alami, rasa sedih dan meratap “kenapa saya hamil saat suami sedang menganggur, bagaimana biaya melahirkan nanti, bagaimana biaya hidup si kecil kedepannya cukup nggak ya sedangkan urusan kami masih ada yang lain?” dan suami saya cukup bijak menjawab, “Bukankah ini emang udah kita rencanakan, mengapa harus galau? semoga kehamilan ini membawa kebaikan untuk kita, serta membuat kita berdua lebih semangat lagi untuk terus berdoa pada Tuhan agar diberi kekuatan melewatinya. Kita nggak berkekurangan, kita sudah lebih dari cukup maka Tuhan mempercayakan ini pada kita” ungkapnya.. Pasangan saya percaya kalau setiap anak itu sudah ada rezekinya masing-masing.

Masuk kehamilan bulan bulan kelima kebetulan saat itu kandungan saya di prediksi dokter ada masalah jadi nggak boleh terlalu banyak pikiran dan tekanan bisa membahayakan, karena berkali-kali sempat pingsan dan nggak bisa selalu cuti akhirnya saya memilih untuk resigne dari pekerjaan. Sedih iya tetapi demi kebaikan semua, yang terpenting adalah kehamilan saya, saya pikir jika memang pekerjaan tersebut masih rezeki saya kelak setelah saya melahirkan saya akan kembali bekerja. Bayangkan hari demi hari yang biasanya saya selalu isi dengan bekerja, akhirnya ada satu titik dimana saya berdiam diri di rumah menjaga kandungan dan menjadi seorang Ibu rumah tangga fulltime.  Realita pernikahan seperti ini diluar ekspektasi saya, tetapi bagaimanapun inilah pilihan yang memang harus dijalani karena resiko menikah adalah siap segalanya, siap menerima kejutan baik maupun buruk yang tanpa disangka dan direncanakanoleh saya yang hanya manusia biasa ini. Lagi-lagi suami saya pun menguatkan “Manusia bisa banyak berencana tetapi Tuhan lah pembuat skenario terbesar dan kita harus berbesar hati dan tetap sabar menerima prosesnya”.

Ditengah kegalauan dari kejadian yang berturut-turut tidak pernah saya sangka dalam pernikahan saya ini dimana Suami dan saya sama-sama sedang tidak mempunyai pekerjaan di saat saya tengah mengandung. Akhirnya kejutan baik pun terjadi.  Pasangan saya mendapatkan project besar bersama teman-temannya untuk mengelola dan mengembangkan web dan jaringan salah satu kedutaan besar yang ada di Jakarta. Bahagia, campur haru dan bersyukur luar biasa. Saat Kejutan tidak mengenakan saya alami karena kandungan saya yang bermasalah hingga saya harus resigne, pun kejutan baiknya saya rasakan di waktu yang sama. Tuhan selalu menepati janji-NYA untuk memberi berkat sesuai waktunya.

Dari cerita ini saya memetik pelajaran bahwa saat single dulu saya pernah di buatkan skenario oleh Tuhan untuk di biarkan dulu menunggu lama bisa di persatukan dengan pasangan saya dalam ikatan pernikahan dengan segala konflik yang terjadi, dipertemukan dengan orang-orang yang membuat tidak nyaman hingga ketika kami menikah, lagi-lagi kami di minta Tuhan  untuk menunggu masa-masa untuk memiliki buah hati.

Dan ketika Tuhan mempercayakan kami mendapat calon buah hati, kejutan besar terjadi suami dan saya menganggur lagi-lagi ini realita yang harus saya dan pasangan jalani dan kejadian ini sesungguhnya di luar dari ekspektasi saya. Tapi dari kenyataan tersebut ternyata jawabannya adalah bahwa Tuhan selama ini memang yang membuat skenario besar dalam hidup umatnya. DIA membuat saya menunggu dan merasakan pengalaman tersebut untuk menempa saya yang pada saat itu ternyata sabarnya masih kurang, keyakinannya baha Tuhan akan bersama saya dan pasangan juga masih minim, keikhlasan saya menerima kenyataan juga Tuhan liha mungkin masih rendah maka dia membuat skenario ini yang pada akhirnya membuat diri saya sadar bahwa Saya menikah karena memang saya sudah siap, Jadi tidak perlu merasa takut akan tantangan dan masalah yang pasti akan keluarga kecil dan keluarga lainpun akan mengalami juga dengan cerita yang berbeda pastinya. Namun poinnya sama masalah akan membuat kita  menjadi lebih dewasa dan bijaksana dalam bersikap di kemudian hari ini saya dan suami rasakan sendiri hingga hari ini.

Hingga hari saya masih menjalani pernikahan berdua masih terus belajar menjalani pernikahan dengan segala ritme permasalahannya. Bagaimanapun dalam hidup masalah akan selalu ada baik pada yang sudah menikah maupun yang maupun pada mereka yang masih single. Tetapi realita pernikahan yang saya alami dan saya lihat sebelumnya tidak menjadikan saya jadi sosok yang ketakutan duluan untuk menjalani pernikahan, karena percaya bahwa ketika Tuhan sudah merestui, semua masalah dan tantangan dalam pernikahan akan selalu ada jalan keluarnya asal kita tetap mau di jalan Tuhan, mencari berkahnya dan menikah tujuannya hanya satu untuk ibadah pada Tuhan. Bener deh, ketika di pernikahan kita sudah yakin bahwa Tuhan mendampingi kita, maka pernikahan tersebut akan terberkati meski masalah atau tantangan yang kita hadapi banyak. FYI ini cerita saya realita kejutan pahit di pernikahan tetapi saat sudah menjalani prosesnya pernikahan itu beneran manis kok karena setiap hari selalu diisi dengan cinta yang nyata bukan hanya bayangan semata.

Baca Juga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Fill out this field
Fill out this field
Please enter a valid email address.
You need to agree with the terms to proceed

Menu