Film Hope, Kisah Gadis Kecil Korban Kekerasan Seksual

Film Hope, Kisah Gadis Kecil Korban Kekerasan Seksual

Film/Hiburan

Hai Urbanesse, kali ini Urban Women akan membahas film Korea berjudul Hope yang dirilis tahun 2013 lalu. Bukan sekadar film fiksi, Hope merupakan film yang diangkat dari kisah nyata seorang gadis yang mengalami pelecehan ketika ia berusia 8 tahun, dikenal dengan Na-Young Case

Hope mendapatkan penghargaan sebagai film terbaik dalam ajang penghargaan Blue Dragon Film Award ke-34. Film ini disutradarai oleh Lee Joon Ik. Kisah ini diawali saat anak perempuan berusia 8 tahun bernama So Won akan berangkat sekolah. Meski anak tunggal, ia cukup mandiri karena kedua orang tuanya sangat sibuk bekerja. Ayahnya bernama Im Dong Hoon (Sol Kyung-Gu) bekerja sebagai seorang pegawai pabrik, sedangkan ibunya bernama Kim Mi Hee (Uhm Ji Won) membuka toko kecil di depan rumah. 

Namun, sebuah tragedi terjadi ketika So Won berangkat sekolah. Ia diperkosa secara sadis oleh seorang pria di sebuah toilet umum. Lehernya dicekik dan wajahnya direndam ke dalam toilet sampai akhirnya pingsan dan diperkosa oleh bapak tersebut. Ketika So Won tak berdaya, laki laki tersebut mengambil alat bukti pompa WC untuk membersihkan usus besar korban sampai menjadi rusak dan cacat permanen. So Won terluka parah, ada luka terkoyak dari anus hingga perut yang membuat ususnya keluar sampai ia harus memakai kantong kolostomi.

Trauma yang dialami oleh So Won waktu itu sangat berat, bahkan ia menjadi pemurung, pemalu, dan tidak mau berbicara kepada siapapun terutama laki laki. Bahkan, ia tidak mau bertemu dengan ayahnya. Hingga akhirnya, So Won menghubungi psikiater yang sudah menangani banyak korban kekerasan seksual.

Tak disangka, ternyata psikiater tersebut dulu juga memiliki anak berusia 16 tahun yang juga menjadi korban pelecehan seksual. Namun, anaknya tersebut bunuh diri. Karena peristiwa tersebut, psikiater itu memutuskan untuk mengakhiri hidupnya. Tapi nasib berkata lain, dia hanya kehilangan kedua kakinya sehingga ia menggunakan kursi roda. 

Sesi terapi terus dilakukan. So Won juga sudah mulai membaik dan mau menanggapi pertanyaan psikiater tersebut. Ayah So Won, sangat merindukan putrinya saat itu, namun karena So Won tak mau bertemu dengan ayahnya, akhirnya dia rela memakai kostum badut Kokomong tiap bertemu putrinya. 

Proses pemulihan terus dilakukan, hingga So Won sudah mulai bercerita kepada Psikiater tentang kejadiaan saat itu. Puncak film ini, ketika akhirnya polisi berhasil menemukan pelaku kekerasan tersebut. Pelaku dikenakan hukuman selama 12 tahun dan informasi terdakwa akan diumumkan selama 5 tahun. 

Namun, hukuman tersebut terasa tak adil untuk So Won dan keluarganya. Bagaimanakah akhir kisah tragis yang dialami So Won? Mampukah akhirnya ia pulih dari trauma? Dan mampukah orang tua Son Won menuntut hukuman lebih berat untuk pelakunya?

Urbanesse, melalui film ini kita menjadi tahu bahwa dalam kasus kekerasan tak hanya korban yang memerlukan bantuan dari terapis, namun juga keluarga korban. Dari film ini kita juga dapat belajar tahapan yang harus dilewati korban kekerasan dan keluarganya agar dapat menerima keadaan dan menghilangkan trauma mereka. Tentu ya, tahap tersebut memerlukan waktu yang tak sebentar. Selain itu, peran orangtua juga penting dalam proses penyembuhan trauma. Sebagai orangtua, kita juga harus lebih memperhatikan anak meski sibuk bekerja.

Baca Juga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Fill out this field
Fill out this field
Please enter a valid email address.
You need to agree with the terms to proceed

Menu