Memperbaiki Pola Hidup Saat WFH

Gaya Hidup

Saya tipe orang yang suka berpikir dan menganalisa, yang kerap saya terapkan di pekerjaan dan kegiatan lain. Sampai saat WFH ini, ketika tersedia begitu banyak waktu di rumah. 

Saking sibuk menyelesaikan pekerjaan saya jadi seperti kurang memikirkan keadaan rumah dan diri saya sendiri. Walau sebenarnya suka menonton film saya tetap merasa enggan menonton terlalu banyak karena rasanya malah jenuh.
Jadi akhirnya waktu yang ada saya manfaatkan untuk mengevaluasi cara hidup saya. Dari analisa-analisa kecil ini saya mengadakan perubahan secara gradual:

1. Meminimalkan pemakaian AC.

Saya sudah sangat terbiasa dengan AC. Sejak WFH saya mulai berpikir, sepertinya kebiasaan memakai AC ini kurang baik bagi kesehatan dan menyebabkan ketergantungan. Perlahan-lahan saya mengganti kebutuhan saya akan AC dengan membuka jendela dan membiarkan udara luar masuk. Sampai saat ini saya sudah cukup berhasil karena saya sudah tidak memakai AC lagi kecuali ketika tidur. Saya berharap nanti kalau wabah Covid ini selesai tidur pun saya sudah tidak tergantung pada AC.

2. Meminimalkan pemakaian pemanas air.

Sama halnya dengan AC, ketergantungan memakai air hangat untuk mandi sebenarnya membuang-buang gas dan listrik. Padahal saya tinggal di wilayah tropis yang udaranya tidak dingin. Jadi sebenarnya mandi air panas, air hangat, atau air biasa itu tergantung kebiasaan kita saja. Secara bertahap setiap hari saya kurangi suhu air mandi sampai akhirnya nanti saya bisa mandi dengan air bersuhu ruangan. Hemat gas, hemat uang, dan hidup lebih tidak rewel.

3. Meminimalkan distraksi yang tidak penting.

Biasanya sehabis kerja ada saja yang dikerjakan. Ketemu teman, baca-baca medsos, dan hal-hal lain yang dikerjakan tanpa dipikirkan faedahnya dengan alasan hiburan setelah kerja. Tapi dengan WFH ritme sehari-hari jadi tidak terlalu cepat sehingga banyak hal yang bersifat hiburan pun bisa saya pikirkan lagi apakah perlu dan kalau iya apakah ada opsi yang lebih berguna. Misalnya: saya suka chat dengan teman, tapi sekarang selepas kerja saya bisa olahraga ringan. Itupun buat saya adalah hiburan karena saya senang olahraga kecil. Nah, daripada bercerita dan ngobrol kebanyakan menurut saya lebih baik saya berolahraga, atau memasak, atau melakukan hal lain yang saya nikmati dan jauh lebih berfaedah.

4. Lebih banyak membaca buku dan berita.

Namanya juga di rumah, enaknya ngapain sih? Saya punya banyak buku yang hanya setengah jalan saya baca. Bukan tidak tertarik, cuma terkadang setengah jalan saya lantas ada kesibukan lain lalu lupa meneruskan membaca. Lantas beli buku baru lagi. Kalau berita, mau tidak mau sekarang saya membiasakan membaca karena saya perlu info terkini tentang perkembangan isu Covid19

5. Lebih banyak merapikan rumah.

Karena sering duduk di ruangan-ruangan apartemen saya jadi mulai menyadari hal-hal kecil yang bisa saya perbaiki. Misalnya bantal yang sudah kempes, kelambu yang sudah mulai berubah warna, dan lain-lain. Semua saya catat, dan satu per satu saya perbaiki atau saya cuci. Jadi hari ke hari apartemen saya terlihat lebih nyaman dan asri.

6. Mengurangi pengeluaran pribadi.

Karena saya suka bergaul, WFH ini banyak  mengurangi pengeluaran untuk hangout. Uang yang saya hemat lebih berfaedah untuk dipakai amal. Jadi dari gaya hidup gaul untuk.amal. Seandainya tidak ada WFH saya rasa saya tidak bakal mengadakan perubahan ini.

7. Lebih menghargai ART.

Saya jarang di rumah melihat ART saya bekerja secara detail. Dengan WFH ini saya baru sadar sebenarnya pekerjaan dia ternyata banyak juga. Cuma dia sabar mengerjakannya dan telaten. Saya sempatkan diri membelikan dia sarung tangan dan hand sanitizer, saya dengarkan juga detail pekerjaan dia sehari-hari untuk membantu agar dia aman dari Covid19. Jadi bukan selalu dia yang mengurus saya.

Saat-saat ini kita bisa mecari waktu untuk menganalisa diri sendiri dan keadaan rumah kita. Bukan hanya menganalisa berita tentang Covid19, atau info hoax, atau berita-berita lainnya yang belum tentu berguna untuk dipikirkan terlalu jauh. Saya rasa dalam masa karantina ini kita malah bisa punya kesempatan untuk memperbaiki pola hidup dan diri sendiri. Quality time seperti ini belum tentu akan ada lagi, kecuali kita cuti kerja atau berlibur cukup lama nanti kalau ketika wabah ini selesai. Tantangannya cuma satu yaitu untuk tidak terbawa rasa malas dan tetap termotivasi menjalankan hal-hal baik.

Rumah bersih, pikiran dan tubuh bersih dan juga sehat. Mungkin ini ya yang dibilang gaya hidup lebih sederhana dan imbang. Thank God ada WFH. (*)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Fill out this field
Fill out this field
Please enter a valid email address.
You need to agree with the terms to proceed

Menu