Waktu Berbenah Diri dan Rumah

Gaya Hidup

Jujur, sewaktu kembali ke Australia dari Indonesia saya menganggap enteng wabah Covid19 ini. Saya pikir, yah, ini sebenarnya mirip dengan flu biasa hanya saja dengan risiko lebih berat seperti meninggal dunia.Ternyata di Australia wabah ini sudah menjadi sesuatu yang serius dan besar sehingga sesampai di Sydney saya dan suami harus menjalanin karantina 14 hari. Kebetulan di Sydney saya sempat masuk angin dengan gejalagejala mirip Covid19. Saya sempat takut dan cemas juga.

Namun ternyata setelah beberapa hari berlalu dan masa karantina selesai saya dan suami kembali sehat dan kami tahu bahwa kami tidak terkena Covid19. Ketika itulah semangat saya tumbuh. Saya ingat-ingat lagi, untunglah kami sempat dikarantina selama 14 hari. Mau tidak mau saya terpaksa istirahat. Obat flu atau masuk angin itu ya beristirahat dengan baik. Terlebih karena semasa waktu kunjungan di Indonesia jadwal kegiatan saya penuh dan saya sibuk sekali

Di sela-sela waktu karantina itu saya mulai membuka-buka arsip hobi saya di zaman dulu yaitu menggambar. Ternyata gambar-gambar hasil karya saya cukup banyak dan saya punya lebih banyak waktu untuk menggambar (creative art). Nah, daripada gambar-gambar ini cuma jadi sekadar hobi, saya pikir ada baiknnya juga kalau hobi ini bisa menghasilkan uang. Jadi saya mulai membuat akun facebook, Instagram, dan website untuk hobi saya ini. Eh puji Tuhan, ternyata betul ada yang kemudian membeli karya saya! 

Selain itu, selesai karantina suami saya mengundurkan diri dari perusahaan tempat dia bekerja. Buat banyak orang ini keputusan yang mengejutkan. Di saat orang mempertahankan pekerjaan supaya tidak kehilangan mata pencaharian suami saya malah mengundurkan diri. Tapi ini semua bukan tanpa pertimbangan. Selama masa karantina kita mendiskusikan pro dan kontranya. Karena selama dia bekerja di perusahaan tersebut dia juga punya pekerjaan sampingan yang semakin berkembang. Setelah kami berdikusi akhirnya suami saya mengambil keputusan  pekerjaan yang lama supaya dia bisa memusatkan perhatian pada di bisnisnya sendiri. Soal pengeluaran dan pendapatan sudah kami hitung matang-matang dan kami siap mengambil langkah ini.

Seandainya tidak dikarantina, bisa jadi kami tidak bakal berdiskusi dan tidak akan mengambil langkah ini. Hasilnya? Suami semakin giat di bisnisnya sendiri dan… semakin ceria. Mungkin karena beban tanggungjawabnya tidak seberat dulu lagi.

Masa karantina ternyata baik dan suami untuk mengambil keputusan penting dan berguna karena kami jadi punya masa berdiam dan berpikir tentang masa depan.

Selesai  karantina saya jadi hobi sekali baca berita dan baca segala hal yang berhubungan dengan Covid19. Tapi selain banyak tahu saya juga jadi hidup dalam ketakutan lagi. Lalu saya analisa diri saya, kenapa saya merasa ketakutan seperti ini ya? Oh, ternyata karena pikiran saya hanya terpaku pada hal-hal yang sama dan negatif. Jadi saya siasati dengan hanya memperbolehkan diri membaca sekali di pagi hari tentang update dan prevensi Covid19. Waktu-waktu lainnya saya isi dengan melakukan hal-hal  yang lebih positif dan, ya, perasaaan dan pikiran saya kembali positif.

Sebelum Covid19 saya punya grup doa dan grup belajar agama. Sekarang saya amat merasakan  faedahnya. Kadang kalau takut atau batin terasa kacau saya ingat akan Tuhan yang selalu menyayangi dan melindungi saya. Salah satunya ketika saya bekerja di tempat penitipan anak. Di Sydney kami tidak diperbolehknan memakai masker, sementara anak-anak mana bisa diminta jaga jarak 2 meter? Kadang saya suka waswas, kuatir tertular Covid19 dari mereka. Tapi saya ingat, selama saya berniat baik dan saya masih diberi tanggungjawab serta sudah melakukan tindakan preventif yang baik makaTuhan pasti menjaga saya. Teman-teman saya yang hatinya baik juga jadi makin gencar membantu dan mendoakan orang. Seperti para anggota grup doa saya yang kebanyakan orang-orang tua. Mereka belajar aplikasi digital Zoom dan selalu hadir di pertemuan doa lewat Zoom. Saya terkesan sekali.

 

Bagaimana cara berpikir positif selama tinggal di rumah? 

Kerjakan saja hobi kita dan kita kembangkan. Seperti hobi saya menggambar. Saya cari-cari info bagaimana menjual melalui media sosial. Mulailah dengan hobi, apakah itu berkumpul bersama, memasak, menulis, bercocok tanam, apa saja.

Jangan lupa selalu berterima kasih dan sadar akan karunia Tuhan bagi kita. Tidak semua orang bisa bekerja di rumah dan aman (misalnya para tenaga medis), tidak semua orang sehat, tidak semua orang punya koneksi Wifi, dan tidak semua orang punya alat untuk berkomunikasi. Belum lagi saat ini banyak orang kehilangan pekerjaan. Jadi saya selalu ingat untuk mawas diri, untuk menyadari betapa beruntungnya saya, dan untuk tidak menyia-nyiakan kesempatan ini.

Waktu lebih bisa juga digunakan untuk membantu orang lain yang lebih kekurangan dibanding kita. Saya dan suami sekarang suka menelepon dan videocall teman-teman dan saudara yang sekiranya kesepian selama masa pembatasan sosial ini.

Kalau sampai bosan di rumah artinya selama ini hidup kita dan diri kita sudah membosankan. Kita terbiasa mencari hal-hal yang tidak membosankan dari orang lain. Nah, sekarang saatnya kita mengupgrade diri yang membosankan menjadi menarik. Caranya

Ganti pola pikir. Pikirkan hal-hal menarik apa saja yang selama ini hanya saya harapkan dari orang lain, lantas pelajari  dan lakukan sendiri. Jangan selalu menunggu, atau menaruh harapan pada orang lain, apalagi kalau sampai serta menyalahkan orang.

Dan sekarang adalah juga saat yang tepat sekali untuk bersihbersih rumah. Saya dan suami menemukan barang-barang yang selama ini tidak terurus, dan bisa saya pikirkan apakah mau dibuang, didonasikan, atau dipakai ulang. Buat yang suka menonton Marie Kondo sekarang waktunya praktek! 

Jadi… kita berberes rumah dan berberes diri sendiri. Luar dalam. (*)

 

.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Fill out this field
Fill out this field
Please enter a valid email address.
You need to agree with the terms to proceed

Menu