Habis Putus Cinta, Terbitlah Move On

Cinta & Relasi

Saya pernah punya pengalaman susah move on dari mantan pacar. Bertahun-tahun menjalin hubungan  ternyata ia memutuskan untuk berpisah dan menikah dengan orang lain, saya sudah memberikan segalanya. Saya sadar bahwa perbuatan saya keliru mengatasnamakan cinta dan ingin terikat hubungan yang serius saya memberikan hal yang seharusnya belum waktunya untuk saya berikan di awal hubungan tetapi saya berikan demi menjaga hubungan tersebut dengan ekspektasi supaya bisa di nikahi dengannya. Sempat merasa diri saya hancur hingga ingin mengakhiri hidup. Sulit move on membuat saya juga sulit membuka hubungan baru dengan orang lain saat itu, karena masih berpikir suatu saat mantan saya akan kembali karena dia sudah janji ingin menikahi saya.

Dalam hal materi dan status sosial juga yang membuat saya sulit lepas dari pria tersebut. Ia seorang pengusaha, single dan usianya tidak berbeda jauh dengan diri saya saat itu. Saya merasa sudah klik dan nyaman segalanya dnegan pria tersebut. Menjalin hubungan dengannya ada kebanggaan tersendiri. Dia pacar pertama saya yang menurut saya kualitasnya sangat mumpuni. Segala kebutuhan saya di penuhinya padahal kami belum menikah. Pernah sampai berlebihan saya membayangkan bagaimana jika saya menikah dnegannya pasti saya akan sangat di cukupi kebutuhan saya secara materi. Perasaan bangga dan senang saat itu sempat saya rasakan.

Maka tidak heran ketika moment ia mmeutuskan hubungan dengan saya setelah kami menjalin kedekatan selama 4 tahun saya kesulitan membuka hubungan baru kembali dengan orang lain, saya tidak bisa move on darinya. Bahkan kesalahan terbesar saya lakukan mana kala saya mengemis memintanya kembali pada saya padahal saat itu ia sudah menikah. Saya mengatakan padanya bahwa saya rela menjadi simpanannya, karena saya tidak bisa melepaskan diri dari dia.

Gayung sempat bersambut, pria tersebut mau kembali pada saya namun saya dijadikannya simpanan, ya..simpanan dimana hanya datang ketika ia membutuhkan saya sekali waktu selebihnya ia berpulang pada istrinya yang ia sebut sangat ia sayangi. Saya sadar bahwa harga diri saya sudah tidak ada.

Sebenarnya apa yang membuat saya jadi susah move on ?

Saya mengalami pergolakan batin setiap harinya saat itu. Ini begitu benar, tetapi begitu juga lebih banyak salahnya daripada benarnya. Setiap waktu saat sendiri saya kerap nanya sama diri sendiri apa sih yang saya butuhkan sebenarnya dari pria tersebut, apa yang membuat saya jadi susah move on dari orang itu ?.

Saya telisik diri saya, Saya bukan perempuan pengangguran, saya bekerja kantoran jadi soal kebutuhan diri pun kalau nggak ada pria tersebut masih sangat bisa saya cukupi kebutuhan sendiri, saya datang dari keluarga yang orangtuanya juga baik-baik saja seharusnya nggak ada alasan menjadi toxic di hubungan orang lain karena tidak pernah mengalami luka/kecewa batin seperti beberapa orang teman saya yang memilih jadi simpanan dengan alasan karena keluarganya broken home. Sedangkan saya ? saya dilahirkan dari orangtua yang notabene nggak ada masalah keluarga. Ibu saya selalu mau mendengarkan curhatan saya dari jaman saya SMA ayah juga orangnya sangat easy going tidak pernah mereka memaksa saya untuk segera menikah atau meminta saya menikah dengan kriteria mereka. Mereka orangtua yang sangat demokratis, memberi saya kebebasan memilih sesuai dengan kriteria saya, yang jelas mereka sellau mendukung pilihan anak-anaknya.

Setiap malam ketika sedang mau tidur saya selalu menyanyakan hal ini berulang ke diri saya. Di tengah pergolakan batin selain sering berdialog dengan diri sendiri dan hanya curhat dengan 1 orang sahabat saya yang memang ia adalah orang yang saya percaya saat itu dan dia juga yang meminta saya menulis cerita heehee…Sahabat saya ini ngasih tahunya memang agak keras, tetapi ucapannya dia selalu ada benarnya namun memang saya saat itu sulit mengatakan iya padanya untuk mulai bisa move on dan berhenti menjadi simpanan pria tersebut, karena masih menikmati penderitaan juga masih senang menggunakan ego sendiri, tetapi sahabat saya ini nggak pernah menghakimi saya berbeda dnegan teman-teman saya yang lain yang hanya care sesaat ujung-ujungnya ngasih masukan yang membuat saya jadi galau untuk menyudahi persaan saya dnegan pria tersebut.

Akhirnya setelah membuka mata dan pikiran lebar-lebar dengan berdialog pada diri sendiri dan memikirkan kembali kata-kata sahabat saya yang pernah mengatakan sepert ini ‘loe nggak bakal bisa lepas/move on dari itu kalau loe sendiri nggak tegas memutuskannya. Coba pikirin hubungan ini mau sampai kapan dan akan kemana ujungnya? Yang ada setiap hari juga loe akan merasa galau terus padahal loe tahu jadi simpanan itu salah kan ? itu orang nggak akan pernah menikah sama loe, loe tahu itu tetapi loe tetap kaya gini karena loe merasa ketakutan sendiri nggak bakal ada cowok yang mau menerima loe lagi dengan keadaan loe sekarang, padahal loe belum tahu kenyataanya di luar sana.

Loe baik hati, cerdas dan mandiri sebenarnya, gw berani jamin loe pasti akan menemukan seseorang yang memang loe butuhkan. Berhenti merasa jadi korban paling merana di dunia ketika putus cinta, berhenti menerima kenyataan untuk sendiri dulu, karena sendiri dulu lebih baik daripada menjalin hubungan tetapi loe selalu menangis dan kesepian.” Itulah ucapan sahabat saya yang cukup menampar saya dan membuat saya saat itu jadi banyak merenung dan berpikir.

Yup, saya susah move on karena memang saya yang memilih perasaan itu melandai diri saya. Saya tidak berani keluar dari hubungan tersebut karena di bayang-bayangi ketakutan sendiri yang sudah terbentuk di mindset saya. Bahkan ketika sudah putus pun saya yang meminta-minta untuk ia kembali. Saya takut sendiri, saya merasa sulit melespaskan karena sudah memberikan segalanya pada pria tersebut.

Nggak ikhlas ….ya saya saat itu ,masih nggak mau menerima/nggak rela punya perasaan nggak enak di batin saya karena harus kehilangan dia dan terbiasa hidup dengan membayangkan yang indah-infah ‘menikah dengan pengusaha kaya, jabatannya bagus, tampan, dia juga pintar memanjakan saya yang memang senang di perlakukan dengan hal-hal yang romantis dan indah selain itu juga saya telah memberikan segalanya yang seharusnya belum pantas saya berikan ketika belum menikah’. Jadi degan alasan itulah saya sulit move on darinya dan nggak rela ia jadi milik orang lain, pikiran saya saat itu ‘Masa pacarannya sama saya, nikahnya sama orang lain’.

BACA JUGA : Cinta Yang Ironis Tapi Berbuah Manis

Nah dari situlah saya mulai belajar untuk move on, langkah yang saya lakukan:

  1. Menegaskan untuk menyudahi hubungan dengan mantan pacar saya sebagai simpanannya. Saat itu pria tersebut sempat menanyakan mengapa saya berubah pikiran bahkan iming-imng buruk saya dapatkan ketika saya ingin menyudahi hubungan yaitu dia mengatakan bahwa ia akan menikahi saya secara siri di catatan sipil alias menjadi istri kedua.

Saat itu saya sudah bisa tegas, saya menolaknya sambil meminta maaf bahwa selama ini saya yang salah telah masuk kembali di rumah tangganya dan memintanya kembali pada keluarga dan saya berjanji untuk tidak mengganggu/menghubunginya lagi karena saya tidak mau punya sejarah menjadi orang tidak baik seperti kata-kata yang sering sahabat saya ucapkan.

2. Menata kembali diri saya yang pernah merasa luka batin, kecewa, takut membuka hubungan baru, khawatir tidak diterima dengan pria lain atas keadaan diri saya saat itu caranya melawan perasaan /ketakutan tersebut dengan menerima bukan menyangkal bahwa saya pernah memiliki masa lalu yang keliru dan ini merupakan bagian hidup saya.

Ketika saya memilih ingin melupakan masa lalu itu nggak akan bisa TETAPI ketika saya mengatakan pada diri saya bahwa ‘saya menerima keadaan diri saya dengan masa lalu saya tersebut dan memaafkan kekeliruan saya di masa lalu agar bisa saya perbaiki setelah ini’. Sejujurnya kata-kata ke diri sendiri ini jika diucapkan berulang-ulang malah lebih ampuh membuat saya jadi bisa move on, ketimbang saya ngupdate status galau di sosmed karena patah hati atau berusaha buang kenangan pemberian mantan pacar. Untuk beberapa orang mungkin ampuh tapi buat saya membuang pemberian mantan nggak akan menyelesaikan move on kita ketika pikiran&hati kita masih tertuju padanya. Jadi pengalaman saya yang di sapu adalah mindset kita yang keliru bukan menyapu barang-barang pemberian mantan. Heehee…

  1. Membuka diri dengan tidak membandingkan seseorang yang baru dengan orang di masa lalu saya, baik di lisan maupun di pikiran. Saya sadar selama ini saya susah move on dan sulit membuka hati pada orang baru karena di pikiran saya hanya membekas si mantan dan kerap membandingkan pria baru dengan mantan. ‘kalau sama yang sekrang orangnya begini begitu, kalau sama si mantan dia benar-benar bisa membuat saya terbang’ heehee..dan bentuk bandingan-bandingan lainnya. Karena jelas BERBEDA. Menerima kekurangan dan kelebihan mereka pun sebaliknya.
  1. Memantaskan diri untuk hubungan baru dengan banyak aktivitas positif bersepeda setiap weekend, pergi berlibur ketempat yang belum pernah saya kunjungi sebelumnya dan pindah tempat kos ini bagian dari cara saya memilih lingkungan pertemanan yang memang bisa membawa saya pada hal – hal baik, sehat dan positif.

Dari pengalaman tersebut saya belajar bahwa hidup nggak selalu tentang mencari pasangan. Move on terjadi atas kemauan diri saya sendiri, Tidak bisa dipaksa untuk cepat-cepat move on. Saya yang menjalaninya mengalir saja, menikmati prosesnya adalah cara terbaik. Tetapi saat susah move on itu saya pastikan bahwa saya memilih menerima kenyataannya bahwa hubungan saya dengan mantan pacar sudah berakhir.

Saya secara sadar menerima kenyataan bahwa saya pernah memiliki masa lalu yang sudah berakhir namun musti bangkit untuk membuka masa depan yang baru dengan percaya diri semngat bahwa nggak apa-apa dulu pernah kecewa karena buat  saya hidup adalah belajar. Bertemu dan membantu orang lain yang mengalami hal serupa adalah healing yang sangat baik juga buat saya. Itu pengalaman saya di masa lalu, semoga berguna ya ladies. Saya bisa kamu pun juga bisa, tentunya!

Baca Juga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Fill out this field
Fill out this field
Please enter a valid email address.
You need to agree with the terms to proceed

Menu