Has your relationship with God changed the way you live your life?

Inspirasi Hati

Has your relationship with God changed the way you live your life?

It’s really great question.

Saya ingin menceritakan “perjalanan” saya untuk berani merubah diri saya menjadi dekat dengan Tuhan dan mengandalkan kuasa dan karunia Tuhan.

Di tahun 2015, saya merasa hidup saya stuck begitu saja. Rutinitas yang bosan, circle teman yang 4L (Lo Lagi Lo Lagi), pacaran zona nyaman, karir terprogress tapi masih biasa saja. Saya bertanya dalam diri saya sendiri “mengapa hidup ini jadi monoton, padahal kebanyakan orang dan teman-teman menilai hidup saya asik”. FYI, menjadi kaya raya adalah bukan tujuan hidup saya. Saya hanya ingin bebas finansial yang berarti cukup, ketika sudah cukup, saya dapat membantu mencukupkan orang lain. Saya memiliki cita-cita kelak saya bisa earn money dari apa yang saya cintai dan tulus mengerjakannya, saya ingin lebih banyak berbagi. Sesuai dengan motto hidup saya “grow & give”.

 2015 adalah tahun “move/hijrah” saya. Tahun dimana saya rela berpisah dengan kekasih yang saya cintai karena kita berdua sudah lelah dengan hubungan yang tidak menuju ke arah yang serius. Banyak kendala yang kami hadapi dan kami berfikir lebih baik memperbaiki diri dulu masing-masing, jika memang jodoh pasti kita akan dipersatukan (playing sad song – haha). Di pertengahan tahun, masih sangat melekat dalam pikiran saya, baiklah memang jika ini adalah kehendak Tuhan, saya curhat di sepertiga malam dalam doa, Tuhan, izinkan saya merubah diri saya lebih baik lagi, sesuai dengan ajaran dan ketentuan yang ada di kitab, sesuai dengan bimbinganMu. Setelah berdoa, saya berjalan dengan yakin, ya… saya menuju seorang yang lebih baik lagi mulai hari ini.

Perjalanan move saya dimulai, menuju kebaikan dan menjadi lebih baik itu tidak mudah. Jangan dipikir ketika kita meminta Tuhan untuk merubah diri kita menjadi pribadi yang lebih baik kemudian Tuhan langsung mengabulkan? Tidak semudah itu Esmeralda… (hahaha). Tuhan pasti memberikan cobaan kepada hamba-Nya. Apakah kita benar-benar ingin berubah? Atau hanya niat saja tetapi dari sikap dan perlakuan tidak ada perubahan?. Ujian saya pertama kali menjalani hijrah adalah saya pindah ke perusahaan baru dan dua bulan salary saya dipending karena suatu hal. Padahal, saya adalah tulang punggung keluarga. Saya sangat sedih, saya hanya bisa memberi pergertian kepada Ibu saya untuk tetap bersabar, ini proses kebahagiaan kita maka tetaplah bersabar dan terus berdoa, sanggah saya kepada Ibu saya. Berkat kekuatan doa seorang Ibu, hidup saya berangsur normal dan membaik dari bulan ke bulan.

Cobaan berikutnya adalah saya dipertemukan dengan orang yang palsu. Orang tersebut memanfaatkan kemampuan saya untuk benefit dirinya sendiri. Perbuatan tulus yang dibalas dengan kepalsuan itu lumayan sakit di hati. Karena saya tipikal positive person, saya tidak bisa menilai orang mempunyai niat jahat atau tidak terhadap diri kita. Saya hanya tahu kebaikan akan terbalas kebaikan. Orang pun akan terasa mana yang tulus dan yang palsu. Saya dirugikan yang lumayan membuat saya terpukul hingga kondisi psikologis saya down, saya tidak bisa bertemu dengan banyak orang. Saya takut dikecewakan dan takut mengenal orang baru. Kondisi diperparah karena saya juga kerugian materi. Ujian ini begitu berat buat saya. Saya hampir give up dan merasa apakah Tuhan sudah tidak memerlukan saya di dunia ini? Lalu bagaimana dengan orang tua dan adik saya yang masih merajut mimpinya dengan saya? Banyak pemikiran-pemikiran yang membuat saya sedih dan merasa tidak berguna.

Sampai pada suatu hari saya merasa kesedihan ini adalah hasil pemikiran saya sendiri. Saya akan tetap sedih karena pikiran saya stuck disitu saja. Saya tidak mencoba membangun untuk bangkit dan memulainya lagi. Sedih dan menangis  sah saja, karena itu rasa dalam hati kita dan wajar diluapkan. Tetapi setelah itu kita harus bangkit dan menghadapi kenyataan itu. Kepahitan ini jangan dihindari. Tetap kita rasakan tetapi kita tahu penawarnya. Lalu saya mengingat tentang makna move saya diawal. Bukankah saya ingin menjadi pribadi yang lebih baik lagi? Pada waktu kemarin sebelum saya drop, saya merasakan energi positif di dalam diri saya. Banyak perubahaan yang terjadi. Inner circle saya “dibersihkan” dari hal-hal negatif. Kegiatan saya juga positif dan menghasilkan banyak pengaruh positif. Saya dapat mencintai kekurangan dan kelebihan saya. Lalu ketika saya dihadirkan seseorang untuk diuji apakah saya kuat dalam menghadapi ujian tersebut, apakah ini hasilnya? Menyerah? Putus asa?…. dari hasil diskusi dan berdamai dengan diri sendiri, saya menyadari… ini adalah satu step menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Saya ditempa untuk menjadi orang yang kuat dan ikhlas. Ikhlas bahwa apa yang kita miliki di dunia ini jika Tuhan berkehendak itu tidak lagi menjadi milik kita, maka semua bisa sirna. Dan begitu pula sebaliknya. Jika Tuhan berkehendak, walau seluruh dunia tidak menginginkanmu mendapatkan itu, tetapi ketika Tuhan berkehendak, maka semua bisa menjadi milik kita. Maka dengan afirmasi yang positif, saya berani untuk menjalani hidup saya yang baru. Tuhan membalas dan mengabulkan doa-doa saya. Saya berada di lingkungan yang membuat saya bertumbuh. Orang-orang yang saya temui adalah orang hebat yang dapat menjadi referensi saya untuk menjadi diri yang baik dan lebih baik lagi. Terlebih Semua saya rasakan berkat dan mukjizat ini pada saat di penghujung hari raya. Ya, tepat pada saat jelang hari raya semua pintu berkat seakan di buka Tuhan, saya percaya dibalik kesulitan yang pernah saya alami akan selalu ada kemudahan.

Saya rasa inilah jawaban dari doa-doa saya, saya pun mengerti inilah makna hari raya yang sebenarnya. Ketika kita bisa mengerti akan kasih dan karunia Tuha. Ketika semua yang dilalui pasti ada maksud dan tujuannya. Hari raya menurut saya adalah merayakan apa yang sudah berhasil saya raih dalam hidup dan mengerti tentang arti hidup ini tanpa melupakan Tuhan sebagai pegangan hidup. Saya merayakan hari raya dalam suasana yang juga tidak berlebihan dan jujur itu malah sangat terasa ketenangan dan sukacitanya di hati lho.

Terimakasih Tuhan… betapa jika saya tidak diberikan cobaan ini saya mungkin masih menjadi pribadi yang angkuh atas apa yang saya miliki padahal semua hanyalah sementara. Bahwa pada akhirnya ketika kematian menghampiri hanya ilmu dan amal kebaikan yang akan saya bawa ke akhirat. Dan makna hidup ini bukan mengejar kekayaan materi, tetapi kekayaaan hati. Semoga saya dapat menjadi seorang hamba yang taat dan berada di jalan-Mu. Terimakasih atas ujian-Mu… terimakasih atas cinta dan kasih sayang-Mu…

Baca Juga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Fill out this field
Fill out this field
Please enter a valid email address.
You need to agree with the terms to proceed

Menu