Hidup Seimbang dengan Manajemen Energi

Hidup Seimbang dengan Manajemen Energi

Perempuan & Karir

Urbanwomen – Umur saya 44 tahun, CEO salah satu perusahaan besar di Indonesia, lajang. Saya tipe orang yang konsisten dalam segala hal. Saya selalu pastikan proyek pekerjaan harus bisa diselesaikan dengan rapi dan tepat waktu. Perusahaan ini milik saya, saya juga punya organisasi non profit sambil membantu organisasi non profit lainnya. Semuanya berjalan dengan semestinya. Ya, itu semua karena manajemen energi yang saya coba terapkan selama ini.

Motto hidup saya adalah “live life to the fullest.” Saya sadar akan kekurangan sifat saya ini. Kadang saya merasa kekurangan waktu dan tenaga untuk meraih semua keinginan. Kadang saya bisa bekerja sampai terlalu lelah hingga terbawa sampai weekend.  Untuk melepaskan rasa lelah itu saya bisa keluar dengan teman-teman sampai lupa waktu dan berapa banyak uang sudah dihabiskan, dan keesokan harinya baru saya menyesal.

Tak jarang orang melihat hidup saya sempurna sebagai perempuan karier dan aktif dalam berbagai kegiatan. Tapi saya sadar hidup seperti ini secara fisik dan emosional tidaklah baik untuk saya sendiri. Mood menjadi tidak keruan, dari energik menjadi bete sendiri. Jika sudah sangat lelah, muncul penyakit seperti sakit lambung dan jerawat.

Sampai suatu hari saya membaca buku mengenai Energy Management, tentang bagaimana kita bisa mengatur energi kita sehari-hari. Intinya, selain mengatur apa saja yang harus kita kerjakan (output) kita juga harus bisa mengatur hal-hal yang diperlukan untuk mencapai kondisi diri yang maksimal (input).

Berbagai kegiatan yang begitu padat menyadarkan saya pentingnya jadwal untuk melakukan hal yang dapat mengembalikan energi positif saya di luar soal pekerjaan, misalnya  tidur dan bertemu teman untuk sekedar tukar pikiran. Tak lupa memenuhi aspek spiritual, saya rutin beribadah ke gereja. Daripada harus gelisah terus-menerus tanpa menemukan jawaban, saya selalu beribadah agar menjadi pribadi yang lebih tenang dan damai. 

Awalnya memang tidak mudah menjalani semua itu agar seimbang. Namun saya selalu berusaha untuk terus belajar dan mencoba hal baru. Teori yang saya dapatkan dari buku yang saya baca itu juga sangat membantu saya menjaga kestabilan emosi. Melakukan berbagai hal positif sangat membantu untuk mengembalikan energi positif. Semuanya sangat sederhana, seperti menyirami tanaman, merangkai bunga, dan memandikan anjing peliharaan saya di pagi hari sebelum memulai aktivitas di luar rumah. Saya hampir tidak pernah burn out, sebagian waktu dibagi untuk input namun hasilnya tak kalah produktif. Selain kesehatan mental, saya tak lupa menjaga kesehatan fisik. Olahraga menjadi jadwal rutin 8 kali seminggu, dan sangat menyenangkan..  

Juga tentang self love. Setiap minggu saya menyediakan quality time seperti ke salon, merawat rambut, kuku, dan bulu mata. Jadi walaupun sibuk saya tetap selalu fresh. Semua ini karena sekarang saya lebih bisa menjaga keseimbangan output dan input sehari-hari.  Ibarat lari maraton, jauh tapi tenaganya stabil dan baik-baik saja. Tidak seperti dulu, seperti lari sprint setelah itu kehabisan napas, recovery-nya lama. Rasanya nyaman sekali kalau hidup bisa produktif tapi perasaan kita tetap santai dan nyaman. 

Baca Juga : Mengembalikan Energi Positif yang Dulu Hilang

Kuncinya adalah manajemen energi. Kita jadi tahu kapan jeda yang tepat untuk beristirahat, dan kapan harus memulai lagi. Perencanaan yang matang juga termasuk poin utama dalam manajemen energi ya!

Sumber: Fabiola, 44 tahun, bukan nama asli, di Jakarta

Baca Juga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Fill out this field
Fill out this field
Please enter a valid email address.
You need to agree with the terms to proceed

Menu