Hidup Seimbang: Mengalir Bersama Secangkir Teh

Hidup Seimbang: Mengalir Bersama Secangkir Teh

Inspirasi Hati

Urbanwomen – Sudah hampir dua tahun saya menjalani masa pensiun dini atau pensiun dipercepat. Sebelum pensiun, dunia saya dua: Dunia kantor tempat kerja dan aktualisasi diri, dan dunia rumah. Saya singlemom, jadi dunia rumah adalah juga tempat aktualisasi diri sebagai orangtua-tunggal. Oh ya, saya singlemom sejak anak saya satu-satunya lahir 28 tahun silam.

Selama 30 tahun saya pernah bekerja di bidang penerbitan buku, dan paling lama sebagai praktisi Public Relations. Sebagai editor saya duduk lama di depan komputer, teliti menggarap naskah, tidak banyak omong. Sebagai PR saya banyak cuap-cuap, banyak mengandalkan fisik untuk kerja lapangan. Semuanya mendatangkan insights. Hobi dan minat pribadi – dunia lain lagi buat saya – juga membawakan insights. Hobi dan minat di bidang kesenian dan tulis-menulis pernah juga jadi semacam “pekerjaan” yang menghasilkan. Buat saya hobi adalah penghiburan, melembutkan hidup yang “keras” ini. 

Saya tidak pernah pakai istilah balanced life, tidak pernah cari tahu bagaimana hidup yang seimbang itu. Saya cuma sadar bahwa lelah – tubuh dan pikiran – tidak bisa diabaikan atau saya bakal jatuh sakit, padahal sakit tidak enak buat tubuh dan dompet. Saya tidak begitu suka gaul, kecuali sesekali bareng teman yang benar-benar dekat. Rumah adalah quality times saya sebagai ibu. Menjelang tidur malam saya biasa menyendiri sambil baca atau mengerjakan apa saja. Weekend atau libur buat urus rumah, jalan-jalan berdua anak saya… juga buat selonjor atau tidur seharian, enak! Sewaktu anak saya SMA dia merintis gerakan Bike to School, komunitas pelajar SMA pesepeda Jabodetabek, dan saya adalah “induk semang” yang mengurus mereka. Enak juga bisa sesekali ikut gowes di CFD Jakarta.

Saya bisa mengejar atau memperjuangkan sesuatu, tapi tidak sampai memaksakan. Kecuali untuk tenggat pekerjaan atau urusan rumah, boleh dibilang saya tidak pernah pasang target. Luwes saja, tidak rigid. Mengakrabi yang disuka, meninggalkan yang bikin bete. Mengeluh bolehlah, asal tidak berkepanjangan. Gagal, kecewa? Wajar, saya manusia biasa. Menangis saya bisa, marah pun pandai, tapi sebentar. Merasa crowded atau sumpek? Berhenti dulu, ambil jarak, sambil melamun. Saya tidak mengharamkan melamun – pikiran mengembara, ditemani nikmatnya secangkir teh panas. 

Secangkir teh panas menyuguhkan me-time paling asyik buat mengistirahatkan dan menenteramkan tubuh, pikiran, serta hati. Hidup sebagai singlemom di zaman anak saya masih kecil bukan hidup yang manis. Masyarakat mengerdilkan perempuan yang membesarkan anaknya sendirian tanpa suami. Itu termasuk penghakiman sosial, tekanan berat dan pedih yang ironisnya justru semakin menguatkan saya. 

Sekarang, sejak pensiun, mendadak ada banyak sekali waktu luang yang rasanya malah mengerikan. Tidak ada lagi rutinitas 8-to-5 lima hari sepekan. Irama tubuh, sekaligus pikiran dan batin, butuh penyesuaian yang sampai sekarang masih berat buat saya. Saya seperti gadget yang harus di-factory reset. Apalagi pandemi menerpa di awal-awal saya pensiun, memaksa semua orang belajar atur-ulang segala sesuatu dalam kehidupan. Bosan, bingung, stres. Bagi sebagian dari kita yang kurang beruntung malah sungguhan nyaris buyar berantakan.

Ada pandemi atau tidak, hidup ini tidak mungkin sempurna. Andai saya bukan singlemom saya tetap amat meyakininya. Sebagai singlemom saya percaya hidup saya utuh. Tidak pernah ingin menikah lagi karena saya nyaman dengan “kesendirian” saya. Bangga juga bisa membesarkan anak seorang diri. Problem hidup toh akan selalu ada, sampai kapan pun. Banyak orang lain tidak seberuntung saya. Jadi kenapa tidak saya rengkuh saja ketidaksempurnaan ini, saya syukuri sebagai anugerah yang membentuk jatidiri saya?

Manusia toh punya cerita masing-masing – pengalaman, latar belakang, pola pikir berbeda. Ukuran dan nilai-nilai pun berbeda. Segala sesuatu yang dianggap “sempurna” itu ukuran siapa? Di atas langit masih ada langit, kata orang. Ketidaksempurnaan hidup ini bagai warna-warni pelangi. Apa jadinya kalau hidup hanya satu warna, atau hitam-putih saja? Apa menariknya kalau semua orang sama, seragam? Tidak unik dan… alangkah membosankan!

Karena tidak ingin bosan, saya jaga agar dunia saya masih tetap dua: Sekarang sebagai nenek, dan sebagai diri sendiri – keduanya tempat aktualisasi diri, karena saya juga tetap tumbuh. Dua cucu hadir meramaikan rumah, saya tetap harus punya momen buat diri sendiri. Momen-momen itu bisa diisi kreativitas, sebisa mungkin yang juga menghasilkan keuntungan finansial. 

Baca Juga: Mengatur Keseimbangan Hidup antara Pekerjaan dan Pribadi

Sekali lagi, semuanya tidak saya kejar, tidak saya buru apalagi dipaksakan. Umur bertambah, kesehatan dan kemampuan fisik harus kian diperhatikan. Hidup bersama pandemi harus lebih bersih dan lebih sehat, tanpa melupakan kebutuhan batin. Olahraga pagi bagus sekali, menyerap sebanyak mungkin sinar matahari yang mengaktifkan zat serotonin di otak, hormon keseimbangan suasana hati dan “menghidupkan” rasa bahagia – ingat ya, rasa senang dan bahagia penting untuk menaikkan imunitas tubuh. Saya mau tetap rajin bergerak, tapi itu perlu diimbangi dengan ketenangan hati dan pikiran… mengalir saja bersama nikmatnya secangkir teh panas. (*)

Tatyana Soebianto, 55 tahun

Penulis buku “Growing Pains – Dongeng Happy Single Mommy” dan “Jadi Nenek”

Baca Juga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Fill out this field
Fill out this field
Please enter a valid email address.
You need to agree with the terms to proceed

Menu