Hidup Tenang Karena Mbah Google

Hidup Tenang Karena Mbah Google

Kisah Utama

Urbanwomen – Dari muda sampai saya mulai bekerja, saya itu tipe yang sangat butuh teman, selalu banyak hangout dengan teman, dan juga banyak masukan dari teman-teman. Pokoknya kalau ada pertanyaan dan masalah saya seringnya lari ke teman. Apalagi kalau sudah kumpul, masalah dijawab bersama-sama itukan membuat saya perasaanya jadi teduh dan aman ya karena masalah dan pertanyaan yang saya pikirkan sendiri bisa dibahas ramai-ramai.

Tapi dengan berjalannya waktu saya itu merasa saya sendiri seperti drama queen, karena saya itu walau sudah banyak kumpul, banyak diskusi, banyak curhatpun sepertinya hidup saya tetap sering galau seperti roller coaster. Adem sebentar nanti kawatir lagi, adem sebentar eh masalah-masalah lama dan baru bermunculan.

Nah saya baru tahu bahwa saya drama queen itu pas karir saya menanjak. Karena sering saya ditanya atasan saya tentang hal ini dan itu dan saya pede menjawab karena sudah diskusi dengan teman-teman hangout saya. Kebetulan atasan saya itu sangat logis. Sambil tersenyum-senyum dia bertanya, kesimpulan kamu dasarnya apa? Apakah ada data pendukung? Atau sekedar hasil diskusi saja? Lalu diskusinya berdasarkan apa?

Wah saya yang sudah pede banget dengan hasil presentasi saya (karenasaya pede banget dengan teman-teman di geng saya) menjawab dengan yakin bahwa semuanya pasti akurat, cuma memang saya belum mencari data pendukung. Lalu atasan saya memberi tugas tambahan untuk mencari data2 pendukung presentasi saya. Ya saya jawab OK cuma dalam hati saya merasa ini buang-buang waktu. Satu demi satu data-data saya kumpulkan dan mulai keringat saya bermunculan satu demi satu. Ternyata presentasi saya itu tidak sesuai kenyataan yang ada dan kesimpulannyapun salah besar. Ya ampun ini muka mau ditaruh dimana, mana saya kemarin pede banget. Pasti atasan saya menganggap saya sok tau dan sok bener. Waduh. Presentasi saya benarkan, saya minta maaf, dan saya jabarkan lagi kesimpulan saya berdasarkan data yang ada, lalu atasan sayapun hanya senyum dan bilang OK. Tapi malunya benar-benar extra.

Karena kejadian itu sangat membekas, maka perlahan saya sering bertanya mbah google, walau saya tetap rutin bertemu geng curhatan dan solusi saya hehehe abis mereka seru sih. Tapi perlahan juga saya sadar banyak masukan mereka itu asbun, asal jeplak dan saya dengan begonya percaya lagi. Pertemanan saya dengan mbah google menjadi makin erat, begitu juga dengan situs-situs serta buku-buku terpercaya. Dan dari situ juga karir saya seperti menjadi semakin baik, orangpun semakin hormat dengan keputusan saya di kantor. Senang ya kalau dianggap kompeten oleh atasan dan rekan kerja.

Namun pertemanan saya dengan geng saya itu semakin menipis. Bukan mereka yang berubah, tapi saya. Semakin kesini saya semakin sadar sepertinya buang-buang waktu berkumpul dan diskusi/ curhat karena yah solusinya abal-abal dan anggotanya semua drama queen (termasuk saya sih) karena masalah hanya dibicarakan tapi tidak diselesaikan dengan baik.

Namanya hidup, kalau masalah selesai dengan baik dan karir baik maka hidup juga semakin tenang, jadi lama-lama kebutuhan curhatan saya juga makin berkurang. Dan akhirnya saya malah keluar dari geng itu karena saya rasa yang dibahas membuang-buang waktu saya serta membuat mood saya naik turun. Kalau ketawa-ketawa kan bisa sama siapa saja selama memang itu jam kosong. Memang resikonya saya dibenci, karena memang pada kenyataanya sayalah yang berubah. Tapi saya merelakan persahabatan ini hilang karena kualitas hidup saya meningkat dengan baik.

Sayapun bertemu dengan teman-teman baru tapi ya lebih logis dan senang membaca juga. Nah di sini nih saya menemukan teman-teman satu frekuensi. Dan saya bersyukur bertemu mereka karena kita bisa saling mendukung dan saling bertumbuh.

Seperti kata pepatah yang mengatakan: Tunjukkanlah teman-temanmu maka orang bisa membaca siapa saya. Kalau dulu mungkin saya masuk kategori drama queen ya, semoga kali ini saya masuk kategori wanita maju dan berpikiran logis dan cerdas. Beruntung saya bertemu atasan yang meminta saya mencari data itu.

Baca Juga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Fill out this field
Fill out this field
Please enter a valid email address.
You need to agree with the terms to proceed

Menu