Hubungan jarak jauh

Hubungan Jarak Jauh yang Aku Jalani, Berhasil Hingga ke Pernikahan

Kisah Utama

Urbanwomen – Aku Jennifer, 32 tahun, menikah dan bekerja di bidang periklanan. Aku tinggal di Malaysia. Tumbuh besar di keluarga broken home membuatku cukup takut menjalani hubungan dengan siapapun. Pada usia ABG aku trauma melihat hubungan ayah dan ibuku yang tidak fungsional. Aku bahkan sempat yakin untuk tidak menikah. Sendirian saja juga bisa bahagia, pikirku saat itu. 

Karena tidak ada yang bisa kuajak berdiskusi atas masalah ini aku pun berkonsultasi ke psikolog. Psikolog bilang, itu semua bukan salahku. Orangtuaku akan kembali bersatu atau tidak bukan karena kesalahanku. Kita tidak pernah bisa mengontrol orang lain, fokus saja dengan apa yang bisa kita kendalikan dan jangan terlalu menyalahkan diri sendiri atas semua yang telah terjadi. Mungkin karena kondisi keluarga, aku menjadi orang yang lebih kuat, berprinsip, dan mandiri. Setelah cukup lama didampingi psikolog aku mulai memberanikan diri untuk menjalani hubungan.

Sampai suatu hari aku bertemu dengan laki-laki yang kini menjadi suamiku. Dia pacar pertamaku. Kami bertemu di Berlin. Dia berasal dari Spanyol, dan kami sama-sama sedang tinggal di Jerman. Sayangnya dia hanya tinggal selama 4 bulan, dan kami dihadapkan pada pilihan: LDR atau putus. Aku sendiri bukan orang yang percaya pada LDR, tapi karena merasa sangat cocok kucoba jalani saja dulu. Seiring berjalannya waktu, tanpa banyak diminta, ternyata dia sendirilah yang aktif membuktikan padaku melalui beberapa kebiasaan sederhana kami. Aku pun merasa sudah menemukan pasangan yang tepat.

Ada beberapa hal yang kami lakukan agar hubungan LDR tetap langgeng. Pertama, tentang komitmen dan komunikasi. Bagi kami, komunikasi panjang-lebar tanpa komitmen adalah omong kosong. Sementara, komitmen kuat yang tidak dikomunikasikan dengan baik sama saja bohong. Singkatnya, komitmen dan komunikasi harus berjalan bersamaan. Kedua, kami mesti bertemu setiap beberapa bulan sekali. Paling lama kami tidak bertemu adalah 6 bulan. Kami setuju setengah tahun adalah waktu yang terlalu lama. Kalau ditanya seberapa sering mesti bertemu, kupikir sekali setiap 3-4 bulan adalah waktu yang sehat. Bertemu rutin sebenarnya bukan cuma masalah tatap muka belaka. Di baliknya terdapat pembuktian besar bahwa kami bersedia mengorbankan waktu, tenaga, dan biaya. Selain bertemu rutin, rajin saling berkirim hadiah dan surat melalui pos juga menjadi kebiasaan sederhana kami. Ini sangat berbeda dengan apa yang kita lakukan secara virtual. Rasanya lebih nyata, perjuangan yang berbeda.

Semua itu penting. Namun yang membuat hubungan LDR bisa berhasil adalah dengan membuat dan menyepakati tujuan akhir yang realistis dan jelas sejak awal hubungan. Kami sepakat untuk bersatu kembali dan tinggal di Spanyol setelah 1,5 tahun LDR. Kami juga  sangat realistis dengan rencana kami, dalam artian sesuai kemampuan dan membicarakan semua kemungkinan dan halangannya hingga jelas. Terakhir adalah tentang kepercayaan. Tidak saling percaya akan menimbulkan rasa cemburu, cemas, dan (secara sadar atau tidak) sikap manipulatif. Kami paham bahwa itu bisa menjadi racun dalam hubungan. Arti ‘percaya’ di sini bukan cuma berarti percaya pada pasangan, tapi juga percaya pada diri sendiri. Sifat dasar hubungan LDR sebenarnya cukup menegangkan dan membuat stres, sehingga kalau kita tidak bisa menanggapinya dengan santai dan percaya diri maka pasangan kita juga akan merasakan ketidaknyamanan (dan juga sebaliknya).

Aku sangat yakin sejak awal, tidak perlu melarang pasangan dan curiga. Jika kami serius satu sama lain, kami pasti akan menjaga kepercayaan. Aku juga tidak pernah khawatir kehilangan, karena tidak menjadikan dia satu-satunya sumber kebahagiaan. Penting sekali untuk tetap melakukan hal yang disukai. Selama LDR berlangsung aku tetap meluangkan waktu untuk melukis dan bermain bersama teman-teman.

Ketika sudah mesti kembali ke Indonesia aku berunding dengannya soal kelanjutan hubungan kami. Jika kami sama-sama tidak bisa melihat masa depan hubungan ini — yang ketika itu akan semakin terpisahkan oleh jarak— sebaiknya disudahi saja dengan keikhlasan. Aku akan lanjut dengan hidupku, dan dia dengan hidupnya. Sedih tentunya jika kami berpisah, tapi aku tidak ingin menghabiskan waktu hanya untuk hal yang tidak pasti karena masih ada banyak hal penting lainnya yang bisa kurioritaskan, tentang karier misalnya. Untuk membuktikan keseriusannya saat itu juga dia memutuskan untuk menikahiku. Kami menikah dan tinggal di Spanyol selama dua tahun, dan tinggal di Malaysia pada akhir tahun 2019.

Baca Juga: Dia Merasa Berhak Mengendalikan Hidupku

Kunci utama dalam menemukan pasangan yang tepat sebenarnya terletak pada diri sendiri. Percaya bahwa kita berharga, dan jadilah mandiri. Bekerja, berkarya, punya tabungan sendiri, sehingga jika sewaktu-waktu ada yang terjadi pada pasangan kita tak perlu memohon-mohon dan tak perlu menyalahkan diri sendiri. Tidak perlu juga menganggap diri sendiri bodoh. Itu sangat penting, karena kita tidak akan pernah bisa mengontrol orang lain sesuai keinginan kita. Kalau kita percaya diri, tentu kekasih/ suami juga akan merasa nyaman berada di dekat kita, dan ini juga menambah keharmonisan dalam hubungan romantis. LDR yang berujung sampai ke pernikahan, adalah hasil kerja sama antara dua orang yang punya visi percintaan yang sama, dan mampu bekerja sama untuk mewujudkannya.

Sumber: Jennifer, 32 tahun, di Kuala Lumpur, Malaysia.

 

 

Baca Juga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Fill out this field
Fill out this field
Please enter a valid email address.
You need to agree with the terms to proceed

Menu