Hubungan-Tanpa-Status

Hubungan Tanpa Status yang Kujalani Hanya Berujung Pada Ketidakpastian

Kisah Utama

Urbanwomen – Aku Salma, 25 tahun, fresh graduate, di Jakarta. Pernah menjalani hubungan tanpa status namun toxic. Saat itu kami menjalani hubungan virtual. Sebelumnya aku dan dia adalah teman semasa sekolah, namun dulu kami tidak dekat sama sekali hanya satu organisasi. Setelah beberapa tahun, saat aku kuliah kami mulai dekat dari media sosial. Meskipun komunikasi kami intens, kami belum pernah bertemu kembali semenjak lulus sekolah dulu. Awalnya kukira dia belum memiliki pacar, karena komunikasi kami sering sekali waktu itu. Sampai suatu saat ada wanita yang mengaku pacarnya. Dia memberitahuku melalui media sosial. Dia mengaku, bahwa sebenarnya dia sudah mengetahui bahwa pacarnya tersebut sedang mendekatiku.

Setelah aku tanya kenapa dibiarkan begitu saja, padahal mereka masih berpacaran. Dia hanya menjawab “Dia juga berhak mencari kebahagiaannya sendiri, jadi engga masalah kok.” Betapa terkejutnya aku, karena wanita tersebut sangat penurut. Menuruti semua keinginan pria tersebut bahkan saat mengetahui bahwa pacarnya sedang mendekatiku. Sedangkan hubungan kami juga semakin serius. Dia sering memberikanku harapan bahwa ingin menikahiku.

Aku berusaha untuk menjauh, tapi dia sering mencari atau mengejarku. Semakin lama aku lelah dan sakit di posisi ini. Akupun  meminta dia memilih aku atau pacarnya, dan akhirnya dia memilih pacarnya. Semenjak itu, aku berusaha menjauhinya dan mundur. Pergi dari kehidupannya. Setelah kupikir, dia juga sering membicarakan hal buruk tentang pacarnya tersebut. Salah satu penyebab kenapa dia mencoba mendekatiku, karena dia merasa pacarnya saat itu tidak sepadan dengan keluarganya. Terlebih dia memiliki jabatan yang cukup tinggi di pekerjaannya.

Setelah berapa lama, dia menghubungiku kembali memberitahu bahwa dia dan pacarnya sudah putus. Dia ingin diberikan kesempatan untuk mengenal aku kembali dan ingin bertemu. Memulai lagi hubungan denganku walau kami belum berpacaran. Aku luluh saat itu, dan menerimanya kembali. Awalnya dia begitu terlihat serius dan memberikanku harapan kembali.

Akhirnya kami memutuskan untuk bertemu setelah sekian lama. Hari pertama bertemu, dia terlihat begitu manis perlakuannya begitu baik padaku. Hari kedua mulai terlihat sifat aslinya. Dia meminta untuk melakukan hal yang lebih intim. Karena saat itu aku sangat senang bertemu dengannya, aku turuti keinginannya. Semakin terlihat bahwa dia hanya penasaran saja padaku. Dia juga sangat perhitungan. Setelah 1 bulan dari pertemun itu, dia menjauhiku dengan alasan aku suka meminta-minta kepadanya. Aku kurang setuju dan tidak terima dengan pernyataannya karena sebelumnya dia yang menawarkan. Akan tetapi seakan-akan aku yang salah.

Baginya aku masih banyak kekurangan. Meskipun aku sudah berusaha semaksimal untuk menjadi yang terbaik seperti yang dia inginkan, namun semua usahaku selama ini tidak pernah dia hargai sama sekali. Dia hanya fokus pada kekuranganku.

Semakin terlihat juga, bahwa dia bukanlah orang yang bisa mendengarkan. Dia hanya mau didengarkan. Saat itu aku masih mengerjakan skripsi. Aku bercerita padanya betapa sulitnya mengerjakan ini. Aku hanya ingin support dan didengarkan saja,  saat itu. Aku berharap dia bisa mengerti. Tapi dia tidak mau mendengarkan, justru berkata “kamu seperti anak kecil, “Masalahmu tidak bermutu!

Dia juga selalu membanggakan dirinya. Membanding-bandingkan pencapaianku dengan dirinya. Ya, dia memang sudah bekerja dengan jabatan yang cukup tinggi, sedangkan aku hanya anak kuliah. Dia juga bilang, bahwa aku harus bisa memenuhi semua kriteria yang dia inginkan jika kami menikah. Aku harus bisa memasak, bekerja, serba bisa seperti yang dia mau. Terlalu banyak hal yang dia tuntut waktu itu. Awalnya, aku mencoba menerimanya sebagai masukan tapi dia semakin seenaknya. Dia merasa dirinya lebih  hebat, lebih tinggi dari aku.

Diriku semakin merasa tidak nyaman dalam hubungan ini. Setelah itu, aku tegaskan pada dirinya. Bahwa hubungan ini semakin lama semakin banyak menuntut bukan saling mendukung untuk bertumbuh. Bukannya meminta maaf atau saling berdiskusi justru semakin memperkeruh keadaan. Menyombongkan diri dan merendahkanku dan mengatakan bahwa aku terlalu banyak kekurangan. Akibatnya aku sering merasa insecure, rendah diri, dan tertekan dengan semua perkataannya dan cara dia memperlakukanku. Awalnya aku masih memohon dan mengajaknya untuk memperbaiki hubungan ini. Kukira masih ada keinginan darinya untuk berubah dan mengerti. Tapi ternyata tidak. Hubungan kami selesai begitu saja, tanpa ada kejelasan bahwa kami berpacaran. Kami hanya sangat dekat.

Baca Juga: Perjuanganku Menyembuhkan Luka diri karena Hubungan Toxic

Sekarang aku jadi tahu seperti apa laki-laki yang serius dan penasaran saja. Laki-laki serius akan mendengarkan apa yang kamu katakan, dia akan membuatmu tahu bahwa dia mengerti dirimu dan dia ingin kamu menjadi lebih terbuka. Dia akan menunjukkan sikap serius saat ingin menceritakan sesuatu padanya. Bahkan, dia akan memberikan masukan untuk melakukan apapun yang terbaik untuk dirimu. Dia juga akan menyempurnakan segala kekuranganmu, bukan malah merendahkanmu. Sedangkan pria yang hanya penasaran saja, jika dia sudah mendapatkan apa yang dia mau dia akan menjauhi dan tidak akan peduli lagi.

Sumber: Salma, nama disamarkan, 25 tahun, di Jakarta

Baca Juga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Fill out this field
Fill out this field
Please enter a valid email address.
You need to agree with the terms to proceed

Menu