ibu peri diplosok negeri

Ibu Peri di Pelosok Negeri

Perempuan & Karir

Urbanwomen – Cerita ini saya mulai dengan satu pertanyaan khas di Sekolah Dasar: “Anak-anak, besok kalau sudah besar mau jadi apa?” Serentak para murid menjawab dengan menyebutkan berbagai macam profesi yang mereka dambakan. Hingga salah seorang murid menjawab penuh semangat, “Jadi Guru, Bu!”

Profesi yang tidak pernah terlewat dari daftar cita-cita siswa yang mengagumi gurunya, siswa yang mengagumi pengajarnya, dan kelak ingin menjadi seperti sosok yang mereka idolakan. Meski dianggap sebagai pekerjaan yang mulia, namun perjalanan seorang guru tidak selalu mulus. Banyak kerikil dan lubang besar yang harus dilalui untuk menuju garis finish. Terutama bagi guru honorer, atau yang sekarang disebut sebagai Guru Tidak Tetap (GTT). Perjalanan saya dimulai dari sini.

Awalnya sama sekali tidak terpikir oleh saya untuk bisa menjadi guru. Saya lupa dulu sempat menyebutkan profesi sebagai apa saat berada di kelas. Tapi ini semua bukan kebetulan. Saya percaya apa yang sudah digariskan adalah campur tangan Tuhan.

Bermula di tahun 2015, ketika saya pertama kali dipercaya menjadi guru pengganti di SMK 3 Salatiga, karena guru utama sedang cuti di luar tanggungan untuk waktu yang lama. Setahun berlalu, posisi tersebut kembali pada pemiliknya. Saya sempat diberi kesempatan jika ingin tetap mengajar di sana. Namun bukan mengajar bahasa Jepang yang saya tekuni, melainkan untuk mata pelajaran lainnya. Dengan penuh perhitungan saya tolak tawaran itu. Meski sempat vakum selama 4 bulan Tuhan menakdirkan saya menjadi guru. Saya diterima menjadi guru honorer bahasa Jepang di SMA 2 Salatiga.

Pertama kali mengajar saya hanya dibayar 600 ribu per bulan. Beruntung kala itu saya punya teman baik yang mau berbagi biaya tinggal dan biaya hidup saya selama bekerja di Salatiga. Lumayan, sekaligus menambah pengalaman bekerja di luar Kendal, kota kelahiran saya. Siapa sangka juga, menekuni pekerjaan menjadi guru bahasa Jepang membawa saya mewujudkan impian pergi ke Jepang selama dua minggu, tanpa biaya pula, dengan sponsor dari. Pemerintah Jepang selama saya berada di sana. Mimpi apa saya! Perjalanan itu adalah hadiah karena sebelumnya saya berhasil membawa dua orang guru dari Jepang, native speaker yang bersedia mengajar di sekolah tempat saya bekerja. Bersyukur.

Mungkin ini berkat doa ibu saya, karena beliaulah yang sangat menginginkan saya untuk tetap bertahan menjadi guru. Kata Ibu, profesi sebagai guru adalah jembatan untuk menabung kebutuhan saya di akhirat kelak. Begitu yang kami pahami sebagai keluarga Muslim.

Banyak yang heran mengapa saya bisa bisa sekuat ini jadi guru honorer. Mengapa saya bisa bertahan dan yakin bahwa kalimat Ibu Kartini itu benar adanya, “Habis Gelap Terbitlah Terang”. Itu kalimat sakti yang selalu saya genggam.

Murid-murid adalah kunci kebahagiaan saya. Senyum mereka, tawa mereka, bahkan kenakalan mereka adalah kekuatan bagi saya. Tanpa mereka saya hanyalah manusia yang bekerja untuk sekolah. Tapi dengan kehadiran mereka saya merasa menjadi manusia paling beruntung sedunia. Berlebihan ya kedengarannya, tapi begitulah adanya.. Anak-anak adalah rezeki saya. Kerabat dekat dan teman-teman baik di sekitar saya adalah nikmat yang tidak bisa saya bayar dengan gaji berapapun.

Secara logika, mengapa saya tidak mendaftar menjadi guru PNS saja, ketimbang hanya menjadi guru honorer. Jujur, saya memang menolak untuk menjadi guru PNS, karena nantinya waktu saya akan terus berkurang untuk anak-anak. Kesibukan saya hanya untuk mengurus masalah sertifikasi PNS saja. Lalu untuk apa saya menjadi guru? Di mana esensi mengajar anak-anak?

Baca Juga: Ibuku, Kartiniku

Guru itu lebih baik daripada Presiden, karena dari sanalah Presiden ada. Jelas, guru melahirkan Presiden. Terakhir, izinkan saya tutup dengan kalimat dari ibu saya: Guru itu pekerjaan luhur. Bukan manusia yang akan membalasnya, melainkan Tuhan. Bukan dunia bayaranmu, tapi Tuhan sedang menyiapkan semesta sebagai rezekimu. (*)

Baca Juga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Fill out this field
Fill out this field
Please enter a valid email address.
You need to agree with the terms to proceed

Menu