Diet viral

Insecure Menyebabkanku Jalani Diet Viral yang Berujung Pada Operasi Usus

Kisah Utama

Urbanwomen – Aku karyawan swasta di Jakarta, umurku  25 tahun. Tiga tahun yang lalu aku menjalani diet viral yang berujung pada operasi usus. Semua berawal ketika orang-orang sekitarku termasuk keluarga besar mengomentari tubuhku. Kata mereka aku seperti badak. Teman-teman kuliahku juga bilang tubuhku terlihat besar. Aku kehilangan rasa percaya diri. Aku ingin terlihat langsing untuk mendapat pujian dari orang lain.

Suatu ketika ada temanku yang bercerita tentang grup diet viral di Facebook yang bisa membantuku menurunkan berat badan dengan cepat. Diam-diam aku bergabung di grup itu. Banyak orang di dalam grup itu yang mengaku telah berhasil menurunkan berat badan dengan cepat. Siapa yang tidak tergiur?

Setelah minggu pertama, bibirku pecah-pecah, wajahku sangat pucat, mata berkunang-kunang. Mereka bilang itu sangat wajar terjadi, jadi tidak perlu dikhawatirkan. Aku hanya boleh makan alpukat, daging berlemak, sayuran hijau, wortel, dan brokoli, tidak boleh makan nasi putih atau nasi merah. Tidak ada obat pelangsing yang diminum, hanya fokus pada makanan dan olahraga saja.

Perubahan pola makan itu membuat tubuhku sangat lemas. Aku terlalu sering makan daging saat itu. Hanya butuh 1 minggu, berat badanku turun 2 kg. Namun, ketika sudah merasa puas dengan berat yang diinginkan, berat badanku bisa meningkat 2 kali lipat dari sebelumnya. Meski berat badan yang bisa turun dan naik drastis itu terasa mengganjal, kupikir itu  mungkin wajar saja saat menjalani diet. Selama sebulan berat badanku berhasil turun hingga 7 kg. Tapi kepalaku pusing, tidak fokus saat bekerja, seluruh tubuhku terasa sakit. 

Aku baru menyadari bahwa diet viral itu salah ketika tiba-tiba saja tubuhku kejang-kejang saat aku sedang di kantor. Awalnya perutku terasa sakit, kusangka karena aku sedang menstruasi. Sewaktu hendak duduk di toilet tiba-tiba bagian bawah perutku terasa begitu sakit ketika duduk. Ketika kupaksakan berdiri tubuhku malah terasa kaku hingga aku jatuh ke lantai. Dokter sempat mengira aku hamil. Setelah diperiksa lebih lanjut, ternyata ususku pecah karena pola makan yang sembarangan, tubuh yang sudah lemas pun tetap kupaksakan berolahraga. 

Aku dioperasi selama 1,5 jam. Dokter menyarankan tidak makan sembarangan seperti bakso, gorengan, dan makanan instan. Teman-teman dan keluargaku menyalahkan aku yang sembarangan menerapkan diet. Padahal, itu karena omongan mereka yang membuat diriku insecure dengan bentuk tubuhku. Perlu waktu sebulan untuk memulihkan kesehatanku. Sampai saat ini bekas operasi masih membekas dan sulit hilang. 

Baca Juga: Glow Up dari Dalam: Kapan Waktu yang Tepat Untuk ke Psikolog?

Aku sadar aku terlalu memikirkan apa yang orang bilang. Ketika ada sesuatu yang terjadi pada diriku, mereka tidak peduli dan justru menyalahkan. Tujuanku diet dari awal memang kurang tepat, hanya ingin dipuji langsing tanpa memikirkan kesehatan diri sendiri.

Sekarang aku hanya punyai sedikit teman, mereka yang benar-benar mendukungku. Tak kupedulikan  orang yang membuat diriku insecure. Fokuslah pada diri sendiri, apapun yang kita lakukan pastikan itu bukan demi orang lain melainkan diri sendiri.

Sumber: Keyla, nama disamarkan, 25 tahun, di Jakarta

Baca Juga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Fill out this field
Fill out this field
Please enter a valid email address.
You need to agree with the terms to proceed

Menu