Apakah Komitmen Itu Artinya Harus Setia?

Inspirasi Hati
Lama memikirkan kata “Kesetiaan” membawa saya bernostalgia tentang masa percintaan di umur seperempat abad alias 25 tahun. Tema Urban Women kali ini pas bagi saya, karena akhirnya saya berani menceritakan pengalaman yang menjadikan saya sekarang ini.
Saya adalah perempuan yang cukup penyendiri, meski tidak anti sosial, dan kenalan saya sedikit. Ajaran orangtua saya yang menjadikan saya begini, sampai saya mulai bekerja. Pembawaan jutek dan cuek, membuat saya tidak memiliki pasangan. Setidaknya itu kata teman dekat saya. Apakah pendapat itu membuat saya lemah atau terpukul? Tidak. Saya justru menjadi semakin ingin sukses dan tidak menggantungkan harapan pada laki-laki. Orangtua saya mengajarkan bahwa cinta sejati hanya dapat ditemukan dalam drama televisi dan saya setuju. Seringkali saya lihat beberapa orang hanya terpuruk dalam masalah cinta yang membuat mereka tidak dapat berkembang. Bagi saya itu bodoh, atau mungkin karena saya belum merasakan sendiri.
Saya bekerja di satu kantor swasta di Jakarta, merantau dari Semarang. Sebelum saya berangkat banyak sekali wejangan dari orangtua maupun kerabat dekat mengenai Jakarta dan keburukannya. Namun bagi saya itu tidak berarti karena saya hanya berfokus pada karier yang cemerlang dan masa depan yang indah. Saat itu komitmen saya memang hanya untuk menjadi perempuan karier. Semua berjalan lancar sampai saya bertemu klien yang ternyata satu gedung beda lantai di satu meeting. Saya akui, awalnya saya jatuh hati karena fisik, atau mungkin kagum. Batin saya “Kok bisa ya cowok ganteng gini di Jakarta belum menikah?” Saya nyaris cuma termangu mendengar penjelasannya. Susah fokus. Seusai rapat rekan kerja saya mengajak kami semua ngopi di kafe dan setelah itu semua dimulai. Laki-laki itu minta nomor saya. Kami mulai berkomunikasi dan makan siang bersama, terjadi selama bulan hingga akhirnya kami menjadi sangat akrab. Anehnya saya merasa lebih semangat bekerja, lebih cepat menyelesaikan tugas, dan selalu curi-curi waktu untuk berdandan atau memperhatikan penampilan seolah ada perasaan yang saya jaga. Saya pun tidak mudah akrab dengan laki-laki lain karena saya tidak mau dia merasa saya gampangan.
Sesudah satu tahun dia menyatakan perasaan dan ingin berkomitmen. Saya sertamerta menerimanya. Kami sepakat akan menjaga fokus pekerjaan masing-masing, dan dia akan berperan sebagai support system bagi saya. Dia tahu saya jauh dari keluarga sehingga dia selalu ada untuk saya. Yang membingungkan adalah bila ketika ada orang bertanya kepada kami “Kalian pacaran?”. Dia hanya menjawab dengan senyuman. Dari kejadian itu saya tahu bahwa dia sangat menjaga privasi.
Dua tahun sudah berjalan, akhirnya saya memberanikan diri mengajak dia ke Semarang bertemu orangtua saya dan beberapa keluarga dekat. Permintaan itu dia kabulkan, tapi saya harus pergi duluan karena dia masih punya beberapa urusan kantor. Saat itu seakan semesta tidak berpihak kepada saya. Biasanya saya selalu bangun pagi, tapi di hari itu saya kesiangan dan alarm tidak menyala. Lalu saya kesulitan mencari kendaraan umum dan akhirnya pergi terburu-buru naik taksi. Sesampainya di stasiun baru saya ingat tiket kereta tertinggal di laci kamar. Saya harus kembali beli tiket di loket untuk jadwal berbeda. Saya juga langsung menghubungi dia karena tiket yang saya beli kembali kebetulan sama dengan jadwal keberangkatannya. Sayangnya nomornya tidak aktif. Saya kirim pesan tidak terkirim. Saya pikir itu hanya perkara sinyal, jadi saya ke luar stasiun. Saat sedang sibuk menghubungi dia, saya melihat sesosok laki-laki bersama seorang perempuan sembari membawa barang di satu tangan. Laki-laki itu juga menggandeng seorang anak berumur sekitar lima tahun. Saya gemetar. Laki-laki itu adalah dia yang selama ini menjalin hubungan dengan saya. Saya semakin kaget ketika perempuan itu mencium tangannya dan mencium pipi kanan-kiri laki-laki itu.
Tanpa basa-basi saya mendatanginya. Emosi saya memuncak. Saya berteriak-teriak seperti kesurupan dan bertanya siapa perempuan ini dan ada apa sebenarnya. Perempuan itu sama kagetnya. Kami pun bertengkar, lalu adu fisik. Akhirnya kami dipisahkan oleh petugas keamanan stasiun dan dibawa ke ruang pengamanan. Ternyata benar. Dia sudah punya dua orang anak. Dua, karena satunya masih ada di perut perempuan yang bersamanya itu. Saya hancur, tidak tahu harus berkata apa. Laki-laki ini menghancurkan saya luar-dalam. Saya kemudian bertanya mengapa kantor tidak tahu soal ini. Barulah kemudian terkuak bahwa dia tidak menikahi perempuan ini. Mereka hanya menjalani komitmen dan akan tetap bersama walaupun tidak menikah. Alasan lainnya adalah orangtuanya tidak menyetujui hubungannya dengan perempuan ini.
Pekerjaan saya menjadi terpengaruh, mental saya  terpengaruh. Sulit mempercayai orang lain terutama laki-laki, dan selalu sinis soal cinta. Tiga tahun yang sia-sia menurut saya. Saya bodoh, tidak berprinsip, hanya modal percaya. Semua tidak berjalan lancar semenjak kejadian itu, kesialan bertubi-tubi datang. Sampai akhirnya saya membuat pernyataan kepada diri sendiri bahwa “komitmen bukan berarti setia”. Buktinya ada yang hanya mengandalkan kata “komitmen” tetapi memainkan artinya saja.
Akhirnya sampailah saya pada satu kejadian yang membuat saya bangkit dan memaafkan kesalahan saya sendiri. Saya memberanikan diri bercerita pada ibu saya. Ibu saya tidak memarahi melainkan memberi wejangan, “Kak, jatuh cinta itu adalah paket yang di dalamnya itu ada jatuh dan cinta. Kamu akan jatuh, sakit, dan lebam karena cinta. Tapi kalau cinta hanya akan membuat kita menikmati jatuh dan sakit itu, maka cinta itu negatif untuk kamu. Nikmati sakitmu, telan semua itu. Maafkan dirimu karena kamu tidak bodoh, hanya tidak peka. Sini pindah ke Semarang, sembuhkan diri kamu dan mulai cari pekerjaan di sini saja. Karena kuncinya bukan tempat ramai, tapi tempat di mana kamu bisa menemukan diri kamu sendiri.” Saya menangis terisak. Saya lantas menuruti saran ibu saya, yaitu lebih menerima dan tidak membuat saya jatuh lebih dalam hanya untuk mencari kata “Komitmen” dan “Setia”. Justru yang mesti saya pelajari adalah kata hubungnya, yaitu “Harus”, jangan disambung dengan kalimat tanya karena itu bukan pertanyaan melainkan pernyataan.
Saya belajar dua hal namun mungkin dapat menjadi pelajaran bagi Ladies yang mengalami hal serupa namun tidak sama ataupun agar lebih hati-hati memilih hati :
  1. Saya harus mengerti terlebih dahulu apa dasar saya menjalin hubungan, apakah saya butuh atau saya hanya mau. Saya belajar lebih hati-hati, bukan karena merasa jual mahal tetapi karena ada beberapa hal perlu lebih mendalam, bukan soal lama mengenal tetapi lebih dalam mengenal.
  2. Saya belajar menerima bahwa untuk segala sesuatu di dunia ini butuh trial and error. Tidak ada yang instan, termasuk perasaan. Kita harus belajar menerima ditempa dan kecewa sampai itu membawa dampak yang lebih baik bagi diri kita.
Sekarang merasa jauh lebih bernilai. Saya ubah pandangan saya. Beberapa orang bilang saya lebih murah senyum dan tidak secuek dulu. Saya cukup menyeleksi orang yang masuk ke dalam kehidupan saya, sampai saya bertemu laki-laki yang sekarang menjadi suami saya. Dia bukan yang saya mau, tetapi yang saya butuhkan. Dia pun menjadi bukti kunci karena saya mampu percaya bahwa “Komitmen itu harus Setia”.
So Ladies, semoga perjalanan cinta sederhana saya mampu memberi pelajaran bagi kita semua.
Be prepared for the good things that comes not in a cheesy way! Have a good life~

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Fill out this field
Fill out this field
Please enter a valid email address.
You need to agree with the terms to proceed

Menu