Ayah Tidak Boleh Dibantah!

Ayah Tidak Boleh Dibantah!

Inspirasi Hati

Urbanwomen – Ayah mengusir saya dari rumah dan berkata bahwa saya bukan anaknya lagi. Saya berusaha berdamai dengan kejadian di masa lalu itu, dan sekarang saya jauh lebih tenang.

Waktu itu saya berusia 22 tahun. Saya sudah bisa memilah mana yang baik atau tidak untuk saya saya termasuk rajin dan penurut, nilai akademis saya bagus, saya bukan tipe anak nakal, apalagi saya seorang perempuan. Ayah saya keras, semua hal harus sesuai dengan standarnya tanpa peduli relevan atau tidak. Sepanjang masa kecil saya berjuang untuk mendapatkan pengakuan darinya. Pokoknya apapun harus sesuai seleranya, termasuk pilihan film kartun. Ayah saya tidak pernah membiarkan kami membuat keputusan sendiri, karena menurutnya apa yang dikatakannya adalah sabda yang tidak boleh dibantah.

Hubungan saya dengan ayah saya semakin alot saat saya menjalin hubungan serius dengan calon suami saya. Pada awalnya ayah saya bersikap tak acuh, tapi kami bertengkar hebat ketika pacar saya itu datang menemui keluarga untuk menyatakan keseriusannya dan diterima dengan kasar. Ayah saya menolak bersalaman, lalu mengamuk seperti anak kecil di depan keluarga besar dan suami saya yang untungnya datang seorang diri. Entah apa yang merasuki ayah saya. Saat itu saya tidak terima dengan sikapnya. Kalau mau memarahi saya, silakan, tapi tunggu nanti, jangan di depan pacar saya yang datang dari jauh. Sudah keluar ongkos, tenaga, waktu, hanya untuk dimarahi dan dipermalukan di depan orang.

Ayah saya bahkan sempat menyebut saya pelacur, kemudian mengusir saya dari rumah. Saya tidak pulang selama 6 bulan, sampai paman dan ibu saya membujuk untuk pulang. Saya pulang sebentar, hanya karena menghormati permintaan orang yang lebih tua. Mereka menyuruh kami berdamai. Semula hati ini berat sekali, tapi lama-kelamaan saya sadar bagaimanapun dia adalah ayah saya. Mungkin yang dia lakukan adalah yang terbaik untuk saya. 

Setelah itu saya memutuskan untuk mengambil hatinya secara perlahan. Saya berusaha mendekati dan memaafkan. Awalnya sulit sekali. Namun perlahan hubungan kami membaik, ayah saya tak melunak walau memang terkadang masih kesulitan mengontrol emosi. Dia mulai menerima pilihan pendamping hidup saya. 

Sekarang saya sudah menjadi orangtua. Dengan menjadi orangtua semaksimal mungkin saya mendengarkan kemauan anak saya, apa yang dia suka. Saya tidak mau seperti diri saya dulu, anak tidak dibiarkan membuat keputusan sendiri hingga merasa tertekan. Sekarang saya berusaha menjadi orangtua, sosok ibu yang selalu mendukung impian anaknya sekaligus mendengarkan saran dan pendapatnya.

Sumber: Anonim

Baca Juga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Fill out this field
Fill out this field
Please enter a valid email address.
You need to agree with the terms to proceed

Menu