Berawal Jual Jamu Keliling, Kini Saya Punya Depot Jamu Sendiri

Inspirasi Hati

Setiap orang pasti punya cerita sendiri dalam usahanya. Termasuk saya yang semula hanya tukang jamu keliling pakai sepeda ontel. Setelah menikah, saya dan suami dulu merantau ke kota. Berharap dapat kehidupan
yang lebih baik, tapi hasilnya bisa dibilang nihil.

Malapetaka terjadi, 8 tahun pernikahan saya harus kandas di ujung perceraian. Saya tinggal di kontrakan 3 petak bersama anak perempuan saya yang waktu itu berusia belum 6 tahun, baru mau masuk SD. Tidak ada yang bisa saya lakukan selain bangun pagi-pagi buat mempersiapkan dagangan, sarapan anak, persiapan anak berangkat sekolah terus mengantar sekolah.
Setelah itu, mulai jam 9 saya langsung keliling buat jualan jamu. Dari jam 9 pagi, terus pulang jam 3 sore. Kadang-kadang bahkan harus pulang jam 5 sore. Keliling pinggiran kota dan komplek perumahan. Sangat jarang buat saya melihat anak pulang sekolah. Tapi untungnya anak saya cukup penurut. Tidak pernah keluyuran jauh sepulang sekolah. Selain itu, ada tetangga yang mau bantu menjaga dan perhatian pada anak saya, membuat saya sedikit lega.

Penghasilan kerja jualan jamu keliling ini tidak selalu bagus, kalau lagi untung dagangan bisa laris, tapi sering juga sepi yang beli. Apalagi kalau cuaca hujan. Meskipun cuma berdua dengan anak saya, tapi operasional rumah tangga cukup tinggi buat saya waktu itu. Dengan penghasilan yang belum pasti, saya harus bisa benar- benar mengelola keuangan. Belum lagi umur anak saya lagi senang jajan.

Hampir 5 tahun lamanya bertahan seperti ini, tiba-tiba ada harapan buat saya untuk merubah semuanya. Salah seorang ibu-ibu pelanggan jamu saya menawarkan saya kepada saya untuk bekerja sama. Mungkin Ibu tersebut tertarik dengan jamu yang saya buat. Beliau bilang kalau ada kios miliknya yang kosong. Saya boleh pakai buat jualan jamu. Bahkan, ibu menawarkan modal usaha dengan sistem bagi hasil.

Sempat ragu dan takut kalau nanti saya gagal, tapi akhirnya saya mantapkan diri dan mau menerima tawaran Beliau. Saya pun berhenti jualan jamu keliling, tapi buka depot jamu bersama Beliau. Ternyata, Beliau adalah orang yang punya banyak ide. Saya
tidak cuma diminta meracik dan menjual jamu saja, tapi Beliau bisa mengarahkan saya untuk membuat jamu-jamu yang berbeda dari yang lain.

Menurut saya, ibu ini memang pandai berbisnis. Tidak butuh waktu lama ternyata. Hanya sekitar 4 bulan, pelanggan terus-menerus berdatangan. Bahkan, setelah keluar ide dari Beliau untuk membuat jamu bubuk, semakin banyak pelanggan yang memesan dengan jumlah yang besar. Tidak cuma itu, Penjualan secara online tidak pernah berhenti tiap harinya. Kondisi ekonomi keluarga saya juga sekarang sudah sangat berubah, bahkan anak saya sekolahkan di salah satu sekolah favorit di sini. Saya tidak perlu pergi keliling kota dengan sepeda dari pagi sampai sore lagi. Cukup berdiam di depot jamu yang semula
cuma satu kios, sekarang sudah dibuat bertingkat supaya pekerjaan menjadi lebih mudah.

Selalu ada kesempatan untuk segera keluar dari masa sulit, jika kita terus berusaha dan berdoa. Saya telah membuktikan dibalik kesulitan selalu ada kemudahan, bila kita pantang berputus asa. Semoga kisah saya bisa menjadi inspirasi dan semangat bagi Urbanesse lainnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Fill out this field
Fill out this field
Please enter a valid email address.
You need to agree with the terms to proceed

Menu