Ketika Aku Bertanya-tanya Tentang Harga Diriku

Ketika Aku Bertanya-tanya Tentang Harga Diriku

Inspirasi Hati

Urbanwomen – Ketika memutuskan untuk berhubungan seksual dengan pacarku aku merasa menyesal sesudahnya, tapi lalu mengulanginya lagi.

Kami tidak sampai melakukan persetubuhan, namun tetap mengeksplorasi berbagai macam aktivitas seksual di luar itu. Kami sejoli yang dimabuk asmara. Untungnya ketika itu pacarku cukup cerdik untuk tidak melakukan persetubuhan sehingga menghilangkan risiko kehamilan ketika kami melakukan “aktivitas bersama” ini.

Setelah 2–3 bulan nuraniku terketuk dan memberi sinyal padaku untuk menghentikan kegiatan itu. Dari evaluasi diri dan kilas balik atas apa yang terjadi selama kami berpacaran aku sadar kami melakukannya bukan karena cinta namun lebih hanya karena nafsu saja. Ketidaktahuanku tentang edukasi seks dan akibat lain di luar risiko kehamilan membuatku terus melakukannya. Aku bahkan bisa dibilang kecanduan saat itu.

Karena proses itu terus berulang: tergoda – melakukannya – nurani terketuk – menyesal – tenang – tergoda lagi, begitu terus-terusan sampai akhirnya kami berpisah, aku sempat mempertanyakan diri sendiri dan bahkan sampai kehilangan harga diri. Apalagi dia pasangan pertamaku dalam mencoba melakukan aktivitas seksual. Ingat-ingat, ini bukan hanya salah perempuannya yang murahan atau laki-lakinya yang tidak benar. Kami berdua sama-sama mau dan sama-sama memperoleh kenikmatan, jadi kami sama-sama bersalahnya atas kejadian ini sebagai sepasang kekasih. Kami saling melampiaskan nafsu, dan tidak memupuk cinta kami berdua serta mengembangkan hubungan itu sendiri. 

Ketika hubungan kami memburuk selalu terngiang di benakku aku adalah perempuan murahan yang menyerahkan harga diri pada laki-laki yang bukan suaminya. Di Indonesia, di sekolah berbasis agama manapun, hampir semua melarang seks di luar nikah tanpa diimbangi dengan edukasi seks yang memadai. Didikan inilah yang memengaruhi alam bawah sadarku dan menggemakan kata-kata dalam benakku tentang seberapa rendahnya nilai harga diriku karena kegiatan itu.

Setelah berhasil move on dan menjalani perjalanan hidup aku sudah tidak lagi memandang keperawanan atau keperjakaan sebagai ukuran harga diri manusia. Aku sudah berhasil melepaskan diri dan orang lain dalam sudut pandang yang terbelenggu keperawanan dan keperjakaan. Pandanganku itu semakin kuat setelah bertemu kekasih baru. Dia sosok yang bisa menghargai kualitas diriku. Melalui kacamata laki-laki baik sepertinyalah aku semakin yakin bahwa harga diri seseorang ditentukan dari apa saja yang dia bisa berikan untuk dunia dan masyarakat secara menyeluruh, bukan soal kehidupan pribadinya saja.

Sebagai seorang manusia dan seorang perempuan, aku sadar bahwa manusia lain juga memiliki kelemahan dan kelebihannya masing-masing. Kombinasi dari semuanya inilah yang menentukan harga diri mereka sebagai seorang manusia.

Buatku, keperawanan ini bukanlah lagi ukuran harga diri bagi diriku sendiri dan orang yang kupercaya. Aku pun belajar untuk tidak pernah menilai orang hanya dari statusnya sebagai seorang perawan atau perjaka lagi. (Sumber: Anonim)

Baca Juga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Fill out this field
Fill out this field
Please enter a valid email address.
You need to agree with the terms to proceed

Menu