Manager Senior yang Berawal Sebagai Kenek Bis

Inspirasi Hati

Halo Urbanesse, perkenalkan saya Yeni, perantau sejak lulus SMA. Banyak cerita yang membuat saya prihatin pada diri saya sendiri kala itu. Namun, saya pastikan bahwa kisah yang sekarang saya bagikan ini bukan kisah menyedihkan.

Tahun 1998 adalah masa krisis di Indonesia. Beberapa gadis di kampung saya yang sudah lulus sekolah memilih jadi TKI ke luar negeri seperti Malaysia, Arab Saudi, Taiwan, dan Hong Kong. Sebagai anak pertama dalam keluarga saya punya empat adik. Dan kami lima bersaudara seluruhnya perempuan.

Ayah yang hanya seorang petani kecil mengalami dampak ekonomi yang luar biasa kala itu. Ketika saya lulus sekolah adik-adik saya masih dalam masa sekolah semua. Maklum, jarak usia kami sangat dekat. Saya dan adik saya yang pertama selisih usianya tidak sampai 2 tahun.

Ketika mulai menyadari bahwa  menekuni tani di kampung tidak memungkinkan lagi Ibu berencana agar saya ikut jadi TKI seperti teman-teman lainnya. Tapi ayah saya bersikukuh dan tidak mengizinkan anak-anaknya jadi TKI, termasuk saya.

Memang, kalau dilihat dari beberapa tetangga yang sudah pernah jadi TKI di luar negeri selama 2-3 tahun, mereka cukup berhasil karena pulang bisa punya rumah dan beli tanah. Bahkan setelah pulang dari luar negeri mereka bisa dengan mudah menikah. Tapi entah mengapa ayah saya tidak menginginkannya, meskipun sebenarnya saya waktu itu punya keinginan jadi TKI juga.

Perbedaan pendapat membuat rumah menjadi kisruh. Ayah dan ibu sering berdebat. Saya yang baru lulus sekolah tidak tahu harus berbuat apa. Pada akhirnya saya melihat iklan lowongan kerja di koran untuk menjadi karyawan perusahaan Jepang di Jakarta. Saya memutuskan untuk melamar pekerjaan itu setelah mendapat izin dari ayah saya. Namun ibu saya masih seperti tidak suka.

Dengan ongkos serba pas-pasan saya pergi ke Jakarta seorang diri dan melamar kerja di perusahaan tersebut. Ternyata butuh waktu untuk menunggu pengumuman hasil seleksinya. Sementara uang saya sudah mau habis. Saya tidak bisa lagi bayar sewa kos.

Selama dua bulan belum ada kepastian saya memutuskan untuk tidur di halte bus. Dan saya masih serba bingung harus kerja apa agar bisa makan. Untungnya saya bertemu seorang supir bus baik hati yang mau membantu. Saya jadi kenek bus. Hampir sebulan lamanya, sambil beberapa kali datang ke perusahaan untuk melihat hasil pengumuman lamaran kerja.

Akhirnya pengumuman pun keluar. Saya diterima.

Tapi masalah belum selesai. Perusahaan tempat kerja saya itu lantas bangkrut. Pekerja kontrak seperti saya harus di-PHK. Lagi-lagi saya bingung cari kerja. Untungnya salah satu tetangga kos saya datangmenyampaikan kabar gembira. Ada lowongan kerja. Saya cepat ambil langkah dan bisa segera kembalibekerja.

Terus-menerus menjadi karyawan kontrak tanpa keahlian khusus tidak membuat perubahan untuk saya. Sedangkan setelah beberapa tahun adik-adik saya bisa pergi ke luar negeri menjadi TKI dan pulang membawa hasil memuaskan. Lain halnya dengan saya, setiap pulang kampung hanya mengandalkan uang THR Lebaran. Ada omongan yang terdengar tidak mengenakkan yang membandingkan saya dengan adik-adik saya.

Bertahun-tahun saya bekerja sebagai karyawan tanpa jaminan karir di perusahaan. Maklum saya cuma lulusan SMA dan tidak punya keterampilan. Akhirnya saya memutuskan ikut kuliah Sabtu-Minggu  mengambil gelar D2. Untuk lulus kuliah juga tidak mudah karena saya harus lebih fokus bekerja. Tapi saya tetap berusaha, meskipun di sisi lain lebih tertekan karena kedua adik saya sudah menikah lebih dulu.

Seberkas harapan untuk karir di perusahaan semakin terlihat setelah saya berhasil menyelesaikan kuliah. Saya bisa bersaing dengan yang lain dan terus naik jabatan. Bahkan saya cukup yakin untuk melanjutkan kuliah hingga mendapatkan gelar S2. Dan sekarang saya menjadi top manajer di perusahaan.

Jika mengingat masa lalu tentu sangat membuat saya sedih. Saya baru menikah di umur 34 tahun. Ketika itu adik-adik saya sudah memiliki anak. Tapi perlu lagi ada penyesalan. Yang terpenting bagi saya adalah saya tetap bertahan dan mandiri melewati kesulitan. Saya sangat mensyukuri kehidupan yang saya jalani. Memang untuk jadi pemenang itu tidak mudah! Namun pengalaman hidup menjadi pelajaran berharga sekali untuk saya. (*)

Baca Juga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Fill out this field
Fill out this field
Please enter a valid email address.
You need to agree with the terms to proceed

Menu