Pengalaman Pertama Saya Merantau

 

Nama saya Widya, guru SD. Saya lulus kuliah dan diwisuda September 2019. Pada awal Januari saya mendapat pekerjaan sebagai guru di sebuah sekolah swasta di Kota Tangerang. Ini pertama kalinya saya merantau dari Purwokerto, mencoba mandiri dan mencari pengalaman kerja. Di Tangerang saya tinggal bersama kakak saya. Dia juga yang mencarikan pekerjaan buat saya di Tangerang.

Awal mula bekerja,l saya merasa sangat happy. Bisa bekerja di ruangan yang tertata rapi, kelas yang bersih, dan pakai AC. Apalagi, di sekolah ini siswa dibatasi maksimal 20 orang per kelas.

Sayangnya, belum sampai 3 bulan saya bekerja sekolah harus libur karena wabah Corona. Terpaksa saya harus Work From Home. Pengajaran dilakukan secara daring. Sekolah juga menerapkan aturan bagi setiap guru ketika mengajar dari rumah. Misalnya, guru harus foto selfie dengan kesiapan alat pembelajaran yang digunakan, mengirim perencanaan pembelajaran, dan mengirim laporan mengajar setiap hari. Jadi, pagi hari sebelum jam 7 harus sudah kirim foto ke pihak yayasan. Nanti, sore hari juga harus kirim bukti mengajar online ke kepala sekolah dan yayasan. Sore hari ditunggu sampai jam 5.

Saya tidak habis pikir, pengalaman mengajar pertama kali harus saya lalui seperti ini. Bayangkan, biasanya saya cukup datang ke sekolah dan menyiapkan segalanya di kantor guru. Sekarang saya harus bangun pagi dan menyiapkan semuanya sebelum jam 7.

Jika tidak ada laporan maka saya dianggap absen kerja, jika terlambat ada kompensasi dipotong gaji. Karena harus kirim foto pagi-pagi saya harus tetap tampil rapi dan cantik. Tepat jam 07.30 saya harus sudah mengirimkan tugas melalui grup WA khusus untuk murid-murid.

Murid-murid juga diberi aturan untuk mengumpulkan tugas dari guru sebelum jam 12.00 siang. Tidak mengumpulkan tugas maka dianggap alpa.

Aturan itu membuat banyak orangtua protes. Biasanya anak-anak mengerjakan tugas pulang sekolah di tempat bimbel, maklumlah mereka anak-anak keluarga mampu yang ikut tren bimbingan belajar. Sedangkan sebagian bimbel juga sudah libur. Orangtua banyak yang tidak bisa membantu tugas anaknya karena tugas dianggap terlalu susah.

Tapi apa boleh buat, semua harus dilakukan sesua tuntutan yayasan tempat saya bekerja. Akhirnya saya coba membuat tugas-tugas yang menurut saya lebih mudah dan bisa dikerjakan sendiri oleh anak-anak. Meskipun kadang-kadang ada juga orangtua yang masih cerewet.

Lebih parah lagi keponakan saya yang sekolah kelas 6 di SD Negeri juga mendapatkan tugas yang benar-benar level tinggi. Waktu saya mengajar daring, keponakan saya ada di samping saya mengerjakan tugas dari sekolahnya juga. Keadaan di rumah jadi tambah heboh tiap kali dia mendapat tugas Bahasa Sunda. Saya orang Jawa. Sudah pasti saya menyerah.

Pada siang hari banyak waktu buat bersantai, bisa main, nonton TV, Youtube, atau main game bareng keponakan. Tapi saya masih rindu pada sekolah. Ingin sekali rasanya agar wabah Corona segera berakhir supaya saya bisa mengajar lagi di sekolah. Terlalu sering di rumah juga akhirnya membuat saya semakin boros. Saya jadi suka beli jajanan, isi paket data selular, dan yang pasti karena tinggal bersama kakak kadang-kadang harus membelikan jajan juga buat keponakan. Apalagi soal make-up, harus dandan pagi-pagi. Rasanya semua tidak berkurang meskipun tetap di rumah. Hemat terasa di ongkos transpor saja karena tidak perlu uang bensin buat motor. Mudah-mudahan Corona segera pergi dan saya bisa aktif lagi di sekolah. Salam #WorkfromHome! (*)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Fill out this field
Fill out this field
Please enter a valid email address.
You need to agree with the terms to proceed

Menu