Tabungan untuk investasi

Tabungan sebagai Investasi?

Inspirasi Hati

Sering sekali kita dengar komentar atau keluhan teman-teman di sekitar kita tentang gaji yang seakan “cuma numpang lewat aja”, bertahan di rekening cuma selama satu pekan, tidak cukup untuk sebulan. Benarkah itu? 

Berapa  sesungguhnya nilai nominal yang kita anggap “cukup” untuk hidup per bulannya? Apakah untuk kebutuhan primer, menghidupi keluarga, atau untuk traveling dan beli tas branded? Saya sendiri menganggap tidak akan pernah ada kata cukup. Tapi semua itu kembali pada bagaimana kita mengalokasikannya. 

Saya tidak akan bicara banyak mengenai aneka kebutuhan. Masing-masing orang tentunya berbeda. Tapi  ada satu hal yang kita semua pasti butuh: Menyimpan uang sebagai tabungan. Sebanyak apapun pengeluaran harus ada sedikit yang bisa kita sisihkan untuk menabung. Sisa yang akan kita belanjakan untuk biaya hidup maupun keinginan belanja mau tidak mau harus bisa disesuaikan.

Berapa besar jumlah yang harus ditabung dan kemudian diinvestasikan dari pendapatan? Umumnya pakar keuangan akan menyebutkan 70-30 sebagai perbandingan antara persentase yang kita belanjakan dan investasikan. Saya percaya memang setidaknya ada 20-30 persen yang harus kita sisihkan sebagai tabungan. Penyisihan harus langsung dilakukan begitu kita menerima income supaya tidak terpakai untuk belanja yang lain. 

Tabungan itu harus disimpan di mana? Kebanyakan orang punya rekening bank yang berbeda, dengan pengkhususan ada rekening tabungan yang tidak untuk diambil. Ini sah-sah saja. Pastikan jangan ada kartu ATM atau mobile banking untuk rekening ini supaya kita tidak tergoda untuk mengambil. Menyimpan tabungan dalam bentuk tabungan konvensional seperti ini adalah yang paling umum dilakukan. Namun simpanan ini tidak memberikan tambahan hasil.  Pakar keuangan menyebutkan harta yang diam haruslah dapat memberikan pendapatan. Ini saya sangat setuju. 

Ini dia persyaratan investasi yang baik:

  1. Cukup aman
  2. Tingkat resiko yang bisa diatur
  3. Memberikan hasil sesuai dengan risiko yang diambil

Setiap bentuk investasi memang mengandung risiko kegagalan, dalam arti tidak memberikan profit yang diharapkan, atau malah kegagalan dalam bentuk kehilangan seluruh investasi tersebut. Oleh karena itu penting sekali kita kenali setiap risiko dalam setiap investasi. 

Berikut ini adalah jenis investasi yang umumnya dipilih orang berdasarkan tingkat risiko yang paling rendah ke tinggi: 

  1. Deposito
  2. Emas/Logam Mulia
  3. Properti
  4. Asuransi berinvestasi
  5. Reksadana
  6. Saham

Dari pengalaman saya investasi terbaik adalah investasi yang paling aman. Semua investasi ini ada risikonya, tapi ini tergantung kita sendiri, apakah kita suka atau berani mengambil risiko atau tidak. Saya sendiri bukan tipe risk taker. Jadi saya tidak boleh tergiur iming-iming high return. Bagi saya lebih baik investasi konvensional dengan low return tapi  aman. Oleh karena itu saya biasanya memilih investasi seperti deposito, atau properti. Namun harus diingat, properti bukan investasi yang likuid. Perlu waktu untuk mencairkannya menjadi cash apabila kita sedang butuh dana. Yang terbaik adalah menaruh  tabungan dalam beberapa bentuk investasi. Istilah kerennya put your eggs in different baskets. Dengan demikian kita meminimalisasi risiko, sekaligus mendapatkan profit dari masing-masing keranjang.

Deposito yang umum adalah deposito bulanan dengan tingkat suku bunga 6%. Tentunya masih tetap ada risiko walaupun deposito merupakan investasi teraman. Kita harus memilih bank yang sudah terbukti mempunyai kinerja yang baik dan sistem cukup rapi. Banyak bank menawarkan interest cukup tinggi, kita harus bijaksana dalam menentukan apakah bank tersebut sudah cukup aman atau berisiko.

Logam mulia juga salah satu bentuk investasi aman dan profitable. Harga logam mulia cenderung naik dan menguntungkan jika disimpan dalam jangka panjang. Cuma harus diingat, bagaimana kita mau menyimpannya. Di rumahkah? Atau menyewa safe deposit box di bank? Menyewa SDB tentunya ada biaya sewa yang harus dipertimbangkan. 

Lalu, ada investasi dalam bentuk properti. Ini salah satu favorit saya, namun karena nilai yang cukup besar, dan yang paling tidak likuid, maka kendala ini patut dipertimbangkan. Untuk properti, yang selalu ditekankan dalam memilih adalah 3 faktor utama: Lokasi, Lokasi, dan Lokasi. Ya, lokasi sangat menentukan apakah investasi ini mempunyai return cukup tinggi atau tidak. Harus pula dicermati kecenderungan nilai properti di suatu kota atau lokasi. Apakah masih ada kemungkinan untuk naik (daerah yang sedang berkembang), atau sudah stagnan, terutama di daerah padat penduduk. Selain harga yang susah naik, biasanya properti di daerah yang sudah jenuh juga susah untuk dijual kembali.

Selain itu favorit investasi saya adalah asuransi berinvestasi. Saya pernah mengalami sakit berat, dan asuransi sangatlah penting serta bermanfaat. Kita tidak pernah tahu kapan sakit atau kecelakaan akan datang  (knock on wood) namun berjaga-jaga adalah langkah yang wajib kita ambil. Dengan membeli polis asuransi paling tidak kita sudah terlindungi dari bahaya yang tak terduga datangnya. Namun yang tidak kalah penting adalah polis asuransi juga merupakan investasi, karena banyak asuransi menawarkan berbagai bentuk investasi yang bisa dipilih bagaimana uang yang kita setorkan akan dikelola oleh Fund Management mereka. Premi bisa dipilih untuk dibayar bulanan, jadi seiring dengan pendapatan bulanan kita ini sama dengan tabungan yang kita sisihkan setiap bulan. 

Selanjutnya, untuk pembelian instrument financial, umumnya investasi dipilih dalam bentuk reksadana, atau pembelian saham. Namun kedua instrumen ini berisiko cukup tinggi dibanding investasi lainnya.

Reksadana yang paling aman adalah reksadana yang menanamkan dana dengan persentase deposito terbesar dan saham terkecil. Saya tidak begitu suka investasi saham karena ini high risk dan kita harus menguasai betul bagaimana fluktuasi harga saham di pasar, makro ekonomi, dan mengenal betul Fund Manager yang mengelola dana tersebut. Harga yang selalu berfluktuasi setiap harinya harus selalu dicermati dan tidak boleh emosional dalam menanggapinya. Secara teknis, bagaimana berinvestasi dalam reksadana dan saham bisa kita temui banyak artikel yang membahasnya lebih dalam. 

Saya hanya ingin mengajak teman-teman untuk menentukan sikap, apakah kita seorang risk taker, risk adverse. Investasi seperti apa yang cocok dengan kepribadian kita, dan dengan kemampuan kita untuk menyisihkan. Dengan mengkaji semua factor diatas ini, maka kita bisa memilih yang terbaik untuk kita. Selamat menabung dan berinvestasi! (*)

Baca Juga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Fill out this field
Fill out this field
Please enter a valid email address.
You need to agree with the terms to proceed

Menu