Jangan Pakai Apa Kata Orang Sebagai Tolok Ukur untuk Menikah

Jangan Pakai Apa Kata Orang Sebagai Tolok Ukur untuk Menikah

Inspirasi Hati

Banyak dari kita memutuskan sesuatu bukan karena keinginan sendiri melainkan apa kata orang. Omongan mereka membuat kita tertekan hingga akhirnya kita terpaksa mengambil keputusan yang tidak sesuai kemauan sendiri. Misalnya tentang menikah. Menurut saya menikah bukanlah perlombaan. Keputusan untuk memulai komitmen pernikahan didasari bukan oleh usia melainkan kematangan, entah itu dari segi emosional, finansial, kedewasaan, dan hal lainnya.

Umur saya 23 tahun. Dari lingkaran pergaulan saya mereka yang berusia 30 tahunan juga banyak yang belum menikah. Dan tidak ada salahnya, sebab tiap orang memiliki punya hak dalam hidup masing-masing. Saya tak menyudutkan siapapun, tapi lebih baik tidak buru-buru menikah daripada menikah buru-buru tapi tak mampu bertanggungjawab dan berkomitmen. 

Saya pernah mengobrol dengan seorang perempuan usia 31 tahun, belum menikah, meski sudah memiliki pasangan. Dia bilang, “Kalau mau menikah sekarang gampang kok,  hidup sesudah menikah yang susah. Komitmen menikah, setia pada pasangan, punya anak, tanggung jawabnya bukan hanya hidup kita sendiri lagi, melainkan hidup keluarga yang kita bangun, dan tidak akan ada jalan mundur atau putar balik.”  

Di lingkungan kita pun menikah masih dianggap sebagai menjadi garis akhir atau bahkan pengakuan akan keberhasilan seseorang. Apalagi perempuan, meski sudah S2, punya karier yang bagus,  tabungan, sampai properti atas nama sendiri, tetap saja ada “tetangga” yang nyinyir menyindir-nyindir kapan menikah. Omongannya dapat membuat kita tertekan, hingga kita akhirnya memilih jalan bukan atas keinginan sendiri. Memang tidak semua, tapi kebanyakan begitu.

Padahal, menurut saya, menikah adalah hal penting yang krusial. Lebih baik menikah atas dasar keinginan sendiri tanpa tuntutan siapapun. Tak menikah di usia mudah juga no problem, sambil mempersiapkan yang terbaik sebisa saya daripada buru-buru menikah karena tuntutan orang lain hanya atas dasar usia. Ya, karena segala risikonya cuma saya yang bakal bertanggung jawab, bukan orang lain.

Ada yang bilang, “Tapi ‘kan dengan menikah kita dijauhkan dari dosa dan dibukakan pintu rezeki.” Memang betul, tapi jangan jadikan itu alasan, apalagi kalau kita belum mampu meraih sesuatu yang berharga dalam hidup.  Jangan biarkan orang lain membuat garis pencapaian atas hidup kita. Menikahlah kalau sudah siap, jangan jadikan omongan orang lain tolak ukur dalam memutuskan hal besar dalam hidup kita.

Belum menikah di usia 27 tidak salah. Yang salah adalah menikah di usia 27 tai masih memberatkan orangtua, karena belum mandiri, tidak bisa berdiri di kaki sendiri. 

Saya sendiri yang menentukan kehidupan saya,  dalam memilih pasangan maupun kapan waktu yang tepat untuk menikah.

Sumber: Venica Sierra

Baca Juga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Fill out this field
Fill out this field
Please enter a valid email address.
You need to agree with the terms to proceed

Menu