Kalau Belum Siap Dengan Konsekuensi Ini, Mending Jangan Buru-Buru Nikah Deh

Cinta & Relasi

UrbanWomen – Sist di dunia yang modern dengan kemajuan teknologi pesat saat ini pun pernikahan dini masih banyak terjadi loh, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2020 jumlah pernikahan dini pada tahun 2019 persentasenya sebanyak 10,82%. Kemudian pada tahun 2020 mengalami menurun walaupun tidak signifikan yaitu 10,18%. Dan sepanjang Januari-Juni 2020, Direktorat Jenderal Badan Peradilan Agama juga mencatat ada lebih dari 34 ribu dispensasi pernikahan yang 60% nya merupakan pengajuan dari anak dibawah 18 tahun.

Hukum di Indonesia mengatur batas usia minimal untuk menikah adalah 19 tahun, sebagaimana tercantum dalam UU Nomor 16 Tahun 2019 tentang Perubahan Atas UU Nomor 1 Tahun 1974. Jadi seseorang yang menikah di bawah batas usia tersebut tergolong ke dalam pernikahan dini.

Terus tau gak sih sist, ketika kamu memutuskan untuk menikah apalagi di usia muda, maka kamu akan berhadapan dengan bertambahnya peran dan tanggung jawab dalam hidupmu loh.

Ini nih 5 konsekuensi yang akan kamu dapatkan jika memilih untuk menikah di usia muda:

  1. Saat Menikah Kamu Akan Mendapat Tambahan Peran dan Tanggung Jawab

Saat kamu memutuskan untuk menikah apalagi di usia muda, bukan hanya keluargamu yang akan bertambah tapi juga peran dan tanggung jawabmu pun akan ikut bertambah. Kamu tidak lagi berstatus sebagai anak gadis orang tuamu, tapi menjadi istri dan menantu keluarga suamimu. Dengan bertambahnya tanggung jawab, kamu tidak lagi bisa melakukan semua hal sesuka hatimu. Misalnya saja kamu yang biasa nongkrong dengan geng kuliahmu setiap minggu jadi harus dikurangi sebulan sekali atau bahkan beberapa bulan sekali. Tidak hanya waktu dengan keluarga dan teman yang berkurang tapi juga waktu dengan dirimu sendiri. Saat sudah menikah kamu akan tinggal dengan suami, mertua atau dengan keluarga kecilmu jika sudah memiliki anak, membuatmu sulit menemukan waktu sendirian untuk melakukan hobimu atau sekedar membaca buku dengan tenang.

2. Pernikahan Dini Mempengaruhi Partisipasi dan Pengambilan Keputusan Perempuan

Menurut jurnal Economic Impacts of Child Marriage Seorang perempuan memiliki suara dan hak pilihan ketika dia dapat membuat keputusan tentang hidupnya dan bertindak berdasarkan keputusan itu tanpa takut akan pembalasan atau kekerasan. Perempuan yang menikah muda seringkali mengalami kerentanan berada di bawah kendali suaminya dan juga mertuanya, membatasi kemampuannya untuk menyuarakan pendapatnya, keinginannya dan aspirasinya sendiri.

Perempuan yang sudah menikah biasanya sekitar 50% tidak melanjutkan sekolah atau pendidikannya, dan sebagian besar tidak memiliki suara dalam keputusan tentang apakah mereka harus melanjutkan atau kembali ke sekolah, membatasi kemampuan mereka. Berdasarkan tingkat pendidikan mereka yang rendah, mereka sering dianggap oleh suami dan mertua mereka tidak mampu mencari nafkah atau mengelola keuangan atau membuat keputusan keuangan untuk rumah tangga.

Dan bahkan jika mereka yang bekerja karena pendidikan dan pengetahuan yang rendah memungkinan untuk mendapatkan upah yang rendah dan jarang memiliki kendali atas penghasilan mereka sendiri.

3. Kehamilan Dini dan Komplikasi Kesehatan

Pernikahan dini mendorong aktivitas seksual di antara perempuan yang belum siap secara fisik atau psikologis untuk menghadapi persalinan. Selain itu, anak perempuan yang menikah dini seringkali tinggal di pedesaan atau komunitas terpencil dengan akses terbatas pada pendidikan kesehatan seksual dan reproduksi, termasuk akses ke alat kontrasepsi.

Menurut WHO, komplikasi dalam kehamilan dan persalinan adalah penyebab utama kematian pada anak perempuan berusia 15-19 tahun secara global, dan 90% kehamilan remaja di negara berkembang terjadi pada perempuan yang sudah menikah. Juga, perempuan yang melahirkan sebelum usia 18 tahun memiliki kemungkinan 5 kali lebih besar untuk meninggal saat melahirkan daripada anak perempuan berusia 20-an.

Pengantin yang menikah dini juga lebih rentan terhadap cedera terkait kehamilan lainnya seperti fistula obstetrik, yang dapat memiliki konsekuensi jangka panjang yang berbahaya, terutama jika tidak ditangani. Faktanya, 65% dari semua kasus fistula obstetrik terjadi pada anak perempuan di bawah 18 tahun.

Baca Juga: Kehidupan Pernikahan Dini, Tak Mudah Bagiku untuk Kendalikan Emosi saat Hamil

4. Kematian Bayi

Kehamilan di usia muda tidak hanya berpotensi berdampak buruk bagi ibu tetapi juga bagi bayi mereka yang baru lahir. Menurut Girls Not Brides, kematian bayi baru lahir 50% lebih tinggi pada ibu yang berusia kurang dari 20 tahun.

Di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah, bayi yang lahir dari ibu di bawah usia 20 tahun juga menghadapi risiko berat badan lahir rendah, kelahiran prematur, dan kondisi neonatus yang parah.

5. Kekerasan Dalam Rumah Tangga

Ketika berbicara tentang pernikahan dini, orang tua dan perempuannya sendiri percaya bahwa pilihan yang mereka lakukan adalah yang terbaik karena dengan menikah lebih awal, mereka percaya bahwa suami mereka akan memberikan keamanan dan keamanan ekonomi. Tapi tau gak sih, perempuan yang menikah sebelum usia 18 tahun hampir 50% lebih mungkin mengalami kekerasan fisik atau seksual dari pasangannya dibandingkan perempuan yang menikah setelah usia 18 tahun.

Jadi gimana sist? Masih mau menikah karena capek belajar?

Baca Juga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Fill out this field
Fill out this field
Please enter a valid email address.
You need to agree with the terms to proceed

Menu