kok kamu seperti laki laki

Kamu Kok Seperti Laki-Laki?

Perempuan & Karir

Sejak kecil saya adalah perempuan yang tahu apa yang saya mau dan saya kerjakan. Walaupun lahir dalam keluarga yang menganggap perempuan lebih rendah dibanding laki-laki saya sudah punya cita-cita sejak kecil. Saya ingin sekolah, dan saya mau sekolah di luar negeri. Saya bahkan tahu saya mau mengambil jurusan apa: Komestik dan Parfum. Saya pikir-pikir, gila juga ya kecil-kecil saya sudah spesifik. Karena itu saya mengambil S1 Kimia supaya bisa melanjutkan S2 di sekolah dambaan saya di Paris untuk jurusan itu.

Saya sempat beberapa kali berpacaran, tapi semua selalu saya tinggalkan. Saya lebih suka untuk belajar. Pacar-pacar saya biasanya mengultimatum, menikah, atau bubar saja kalau saya terus sekolah. Saya memilih terus belajar. Maka tidak sedikit orang berkata “Kaya laki banget sih lo, bukannya enak dinikahin terus dikasih uang belanja? Mana pacar lo kayanya baik.” Well, kalau pacar-pacar itu benar-benar baik mereka pasti memahami cita-cita saya untuk belajar. 

Toh saya pergi ke Amerika dan ke Paris memang untuk belajar, bukan cari pacar. Beberapa pacar merasa kalau saya belajar terus nanti saya bakal susah diatur untuk menghormati mereka. Padahal sih mestinya tidak begitu juga ya, selama mereka juga berkembang terus, betul tidak? Tapi, yah, saya mengerti maksud mereka juga. Ya sudahlah tidak apa. Saya percaya pasti suatu saat akan bertemu laki-laki yang seirama dan juga satu pandangan. 

Saya juga menganggap diri sebagai perempuan yang selalu mendapat pekerjaan yang saya mau. Mungkin karena persiapan saya matang, dan saya memang suka bekerja. Sampai-sampai beberapa atasan saya bilang, tiap kali saya pindah kerja, “Kalau tidak cocok di perusahaan baru boleh kembali ke sini lho…” Seiring perjalanan waktu, dari bekerja untuk orang akhirnya saya bisa mendirikan perusahaan sendiri. Waktu luang di luar waktu kerja saya pakai untuk membantu kegiatan-kegiatan non profit ketimbang hang out sana-sini. Ya, selain senang belajar saya juga suka mengembangkan diri. Saya juga banyak ikut olahraga seperti Muay Thai, Jiu Jitsu, atau bersepeda. Itu semua kembali lagi membuat orang memberi predikat: “Kok laki banget?” Tapi, yah, aku senang, bahagia, dan cocok. Dan kalau dipikir-pikir lagi salahnya di mana?

Saya sering sekali dipertanyakan oleh keluarga dan teman-teman.  Apakah saya tidak kepinteran, tidak terlalu ambisius?, atau “Nanti berat jodoh lho…,” dan lain sebagainya. Tapi bagaimana, ya… saya suka apa yang saya kerjakan dan saya percaya bakat saya ada di bidang yang saya geluti ini.

Mungkin buat sebagian besar orang saya ini seperti menentang tradisi. Tapi saya tahu ini yang saya mau, ini membuat saya bahagia. Semua aktivitas saya toh positif, kalau tidak dilabeli “kegiatan laki-laki” atau “kegiatan perempuan”.

Hasilnya? Saya bisa independen secara finansial, saya sudah punya tempat tinggal sendiri, saya merasa kualitas hidup saya bagus sekali. Saya tidak pernah memaksakan diri melakukan hal-hal yang tidak saya sukai demi untuk membahagiakan orang lain. Orang pun cukup menghormati saya,  walau belum tentu memahami pilihan hidup saya. Dan saya tenang dalam menjalani hidup. Tidak ada tekanan negatif karena saya tahu siapa diri saya dan apa yang saya mau. Omongan orang cukup saya senyumi karena toh mereka tidak mengerti diri saya.
Bisa jadi ada orang yang berpikir “Wah, perempuan seperti ini pasti nggak laku”. Tidak juga, sih… Ada beberapa yang tertarik dan menunggu saya siap diajak ke jenjang yang lebih serius. Jadi bisa dibilang hidup saya perfek, kan? Walaupun sering dikomentari “Kayak laki amat sih!” Hehehe, iya biarin aja. (*)

Baca Juga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Fill out this field
Fill out this field
Please enter a valid email address.
You need to agree with the terms to proceed

Menu