Kehidupan-Dewasa-Datang-Aku-Berjuang-Hadapi-Krisis-yang-Menghadang

Kehidupan Dewasa Datang, Aku Berjuang Hadapi Krisis yang Menghadang

Kisah Utama

Urbanwomen – Aku Retno, 27 tahun, seller online shop di daerah Jawa. Aku pernah merasa kehilangan arah hidup sekitar 2-3 tahun yang lalu. Sebelumnya aku bekerja sebagai buruh pabrik. Meski hanya menjadi buruh pabrik aku tidak pernah malu. Tapi aku ingin fokus menjalankan usaha sampinganku sebagai seller online shop. 

Usahaku itu maju, omset mencapai 70 – 100 juta perbulannya. Kupikir, jika aku fokus pasti omset akan semakin naik. Saat berniat keluar dari pekerjaan, banyak sekali komentar negatif yang kudapatkan. Banyak yang meremehkan dan meragukan kemampuanku. Tapi niatku sudah bulat untuk tetap resign. Sesudahnta, aku memberi kelonggaran pada diri sendiri. Aku sudah bekerja keras, aku mau bersantai dulu paling tidak sebulan. Lagipula uangku juga masih banyak dan cukup sekali untuk memenuhi kebutuhan hidup. Bodohnya aku. Ternyata muncullah masalah hidupku.  

Aku masih punya cicilan motor dan bayar kontrakan. Setiap bulan, biaya hidupku tidak sedikit. Sebulan menyantai, hanya nonton film, tidak produktif. Ujungnya, aku menjalankan usaha hanya setengah hati. Terlalu asyik liburan membuat omsetku menurun. Masuk bulan ke-4 setelah resign berat sekali rasanya membayar cicilan motor. Mulai muncul rasa cemas mengenai masa depanku. Belum lagi muncul perasaan minder saat melihat aktivitas teman di media sosial yang sudah menikah dan mendapatkan pasangan yang mapan. Mereka sudah lulus kuliah, sedangkan aku belum kuliah. Pekerjaan mereka juga bagus, sebagian punya mobil, rumah, anak. Aku tidak ada apa-apanya dibandingkan mereka. Jangankan tabungan, sekadar untuk nongkrong saja aku perlu berpikir berkali-kali. Kenapa aku bodoh sekali terlalu menyepelekan pekerjaan. Apakah keputusanku tepat? Aku sampai pinjam uang abangku dalam jumlah yang cukup besar. 

Perlahan, aku belajar mengevaluasi bisnisku, mencari tahu apa yang membuat omset sangat menurun. Aku kurang memanfaatkan media sosial. Berjualan tas, seharusnya aku terus berinovasi membuat model tas yang bagus.  Akupun bangkit pelan-pelan. Tentu ditemani keluarga, dan pacarku saat itu. Mereka menguatkanku, membantuku menjalankan bisnis online shop-ku. Pacarku mencari tahu seperti apa model tas yang kekinian. Kami juga berusaha minta saran teman-teman yang menjalankan bisnis online. Tidak langsung berhasil, butuh waktu yang cukup lama agar tokoku “hidup” kembali. Berkat kesabaran, support dari orang terdekat dan ketekunan, tokoku membaik. Aku mulai bisa menyicil utang-utangku.  

Baca Juga: Mengalami Quarter Life Crisis, Membuatku Mampu Melahirkan Karya Baru

Aku tidak ingin lagi malas-malasan. Usia tidak muda lagi, sebaiknya aku tidak buang-buang waktu. Aku belajar mengenali diri sendiri lebih dalam, apa kelebihan dan kekuranganku dan apa yang aku ingin capai dalam hidupku. Dengan begini, aku bisa leluasa menentukan pilihan hidup sendiri tanpa bayang-bayang orang lain, kemudian membatasi penggunaan media sosial agar aku tidak membanding-bandingkan dan fokus pada apa yang kujalani. Terlalu sering buka-buka media sosial, aku jadi insecure karena melihat teman seusiaku terlihat bahagia, sudah mendapatkan hidup yang layak.

Memang tidak mudah menghadapi fase krisis dalam hidup ini. Tapi kita bisa menyerahkan semua pada waktu, sambil mengusahakan yang terbaik untuk hidup kita.

Sumber: Retno, nama disamarkan, 27 tahun, di Jawa.

Baca Juga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Fill out this field
Fill out this field
Please enter a valid email address.
You need to agree with the terms to proceed

Menu