Kekerasan finansial

Kekerasan Finansial Pasca menikah, Membuat Kondisi Keuanganku Berantakan

Kisah Utama

Urbanwomen – Aku penjual makanan di Jawa. Pernikahan pertamaku gagal, kami bercerai, anak kami masih sekolah. Nafkah dari mantan suamiku tidak menentu dan tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Aku harus bekerja lebih keras, berjualan donat atau kerja seadanya. 

Tapi aku tidak mengandalkan siapapun. Suatu ketika aku bertemu seorang laki-laki. Dia pernah menikah. Hubungan kami semakin dekat, merasa cocok satu sama lain, sampai akhirnya menikah. Meski penghasilannya juga tidak menentu aku merasa tak masalah karena aku punya penghasilan sendiri. 

Sayangnya dia sering mencoba untuk mengontrol keuanganku. Setiap bulan aku biasa menyisihkan uang untuk kedua orangtua, tapi suamiku mulai melarangku. Belum lagi ketika aku ingin membeli motor dari penghasilanku sendiri untuk memudahkan pekerjaanku. Kalau aku tidak patuh suamiku marah besar. Dia menggunakan uangku untuk kepentingan pribadinya, padahal seharusnya bisa dipakai untuk membeli kebutuhan yang lebih penting. Dia membeli burung, sepeda, dan lain-lain, sementara nafkah darinya jauh dari kata cukup. Dia juga pernah menjual barang-barang di rumah tanpa sepengetahuanku, barang-barang hasil jerih payahku berjualan makanan dan kerja lainnya. Katanya rumah kami kemalingan. Mungkin dia menganggap toh kami menikah sehingga dia berhak menikmati bahkan mengontrol keuanganku. Tidak pernah mengganti uang tabunganku yang dia pakai, dan malah menyerahkan tagihan pembayaran padaku.

Beberapa kali dia juga memukulku. Hidupku sama dengan ketika belum menikah. Ditambah, aku harus menghadapi sikap kedua orangtuanya yang memang tidak merestui pernikahan kami. Aku sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menerimanya, mencoba mengomunikasikan tentang apa yang membuatku tak nyaman dengannya. Aku sangat lelah diperlakukan begitu  terus. Setidaknya, jika memang tidak bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari atau bahkan mau mengontrol keuanganku, jangan berbuat kasar. Dia sempat berubah menjadi lebih menghargaiku, tapi hanya sebentar. 

Dia pernah kabur begitu saja saking marahnya. Ketika untuk kedua kalinya pergi dari rumah dia meninggalkan selembar kertas berisi catatan semua pinjamannya yang belum lunas. Aku berusaha menghubunginya tapi dia memblokirku. Terpaksa harus kubayar semua tunggakannya, dengan jumlah yang cukup besar. Karena kebingungan, aku memberanikan diri pinjam uang kakakku.

Setelah itu aku tidak lagi minta dia pulang. Tanpa dirinya hidupku justru lebih baik. Aku lebih bisa memfokuskan diri membiayai anakku dan mengembangkan usahaku. Selama itu aku bertahan hanya karena tak ingin pernikahanku gagal lagi.  Tapi aku merasa hanya aku yang ingin mempertahankan pernikahan kami. Sampai saat ini dia tak ada kabar. Tiap kali ada teman yang menanyakan suamiku, aku berusaha menutupi dan bilang dia bekerja sehingga jarang pulang.

Butuh waktu tidak sebentar untuk melupakan dirinya dan berdamai dengan keadaan. Aku melakukan meditasi untuk menjernihkan pikiran dan lebih tenang, mengatur napas perlahan-lahan dan teratur selama 10-20 menit. Aku juga berkonsultasi pada orang yang mendalami agama untuk melatih pikiranku agar lebih positif. Aku belajar tidak menyalahkan diri sendiri. 

Baca Juga: Aku Memilih Menunda Pernikahan, Karena Merasa Belum Siap Sepenuhnya

Sebaiknya kita memprioritaskan diri sendiri terlebih dulu. Jika diri sendiri belum merasa bahagia sepenuhnya, bagaimana bisa kita membahagiakan orang sekitar. Jadi, pastikan dirimu sudah bahagia dan merasa cukup, agar tidak menggantungkan kebahagiaan pada siapapun. 

Sumber: Rima, nama disamarkan, 32 tahun, di Jawa

Baca Juga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Fill out this field
Fill out this field
Please enter a valid email address.
You need to agree with the terms to proceed

Menu